
"Bar... Eh aku manggilnya sekarang Bar sajalah."
Kata Fajar saat keduanya akhirnya meninggalkan pemakaman.
Matahari kini telah benar-benar condong ke barat, semburat senja bahkan sudah mulai tinggal secuil saja.
"Terserah kamu mau manggil apa, Bar boleh, Bir boleh, Bur boleh."
Sahut Albar asal saja sambil berhenti sejenak menggulung blue jeans nya yang penuh dengan tanah liat.
"Lagian kamu pake duduk ya kotor semualah."
Kata Fajar komentar.
"Ya duduklah, kalo terbang kamu lari."
Sahut Albar lagi.
Haiish...
Keduanya kemudian berjalan menjauhi pemakaman yang sepi.
Jalan menuju pemakaman melewati kebun pisang dan juga kebun pohon bambu yang konon lumayan angker.
Fajar menepuk punggung Albar agar berjalan lebih cepat.
"Yuk ah, nanti ketinggalan Maghrib."
Ujar Fajar mencari alasan.
Albar hanya tersenyum tipis.
Sudah tahu dia kalau Fajar aslinya takut melewati kebun pisang dan juga rimbun pohon bambu yang membuat suasana jalanan jadi lebih terasa gelap.
Hingga tiba-tiba dari rimbun pohon bambu itu terdengar suara berderit seiring dengan hembusan angin yang cukup kencang.
Dan...
Pletak!! Pluk...
Tampak jambu air dari atas mengenai kepala Fajar lalu jatuh ke tanah.
Fajar dan Albar saling berpandangan.
"Kenapa kepalaku ada yang lempar jambu?"
Tanya Fajar.
Albar menggeleng.
Wajahnya tampak mulai takut.
Keduanya kemudian celingak celinguk.
Sepi...
Tak ada orang lain di sana. Tak ada juga pohon jambu di sana.
"Kayaknya demit Bar... Lariiiiiiiiiiii..."
Fajar malah kabur duluan.
Albar yang belum siap lari jadi kaget dan susah payah menyusul dengan membuang saja sandalnya yang penuh tanah.
"Kampret! Juuuuuur... Tungguin! Sial!"
Albar lari mengejar Fajar menuju rumah Aki.
Sesampainya di sana, Wa Icih yang tampak tengah menata air minum gelasan di atas tikar untuk suguhan orang datang mengaji jadi tergopoh-gopoh keluar mendengar suara gaduh Albar dan Fajar.
"Lho ada apa ini nak Bara?"
Tanya Wa Icih yang belum tahu jika Bara adalah Albar.
"Dia Alb..."
Fajar baru akan meralat nama Albar pada Wa Icih, tapi Albar langsung cepat membekap mulutnya.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu, lihat momennya."
Omel Albar.
Wa Icih yang melihat kelakuan kucing dan tikus itu hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Saya mau mandi lah, gerah banget."
Kata Albar sambil akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Fajar.
__ADS_1
"Ya aku juga mau pulang dululah, nanti ke sini lagi habis Isya. Acaranya habis isya kan Wak?"
Tanya Fajar pada Wa Icih.
"Iya, nanti harus datang, doain Aki."
Ujar Wa Icih.
Fajar mengangguk.
"Nak Bara juga mandi dulu, lalu sholat."
Kata Wa Icih.
Albar mengangguk.
"Oh, Balqis ke mana Wa?"
Tanya Albar.
"Di kamar, nanti habis sholat coba Albar bujuk supaya makan, dari siang dia belum makan."
Kata Wa Icih.
Albar mengangguk lagi.
Ah iya, makan, Albar juga jadi lapar.
(Othor lapar juga Bar, traktir napa)
**----------**
Albar setelah mandi dan sholat di kamarnya, kemudian turun dari loteng menemui Wa Icih di ruang depan rumah Aki.
Anak-anak Wa Icih juga sudah tampak membantu menyiapkan suguhan.
Beberapa piring gorengan, kue potong, salak, dan pisang.
Albar yang baru melihat acara seperti ini tampak memperhatikan anak-anak Wa Icih menata suguhan yang tak seberapa jumlahnya.
Memang meninggalnya Aki yang cukup mendadak membuat semuanya jadi tak sempat disiapkan, dan lagi pastinya keuangan Wa Icih untuk membantu tak seberapa.
Albar kemudian mendekati Wa Icih.
"Biasanya hanya begini Wa?"
Tanya Albar.
"Tidak apa-apa Nak Bara, ini sudah lebih dari cukup, Alhamdulillah tadi Ibu Dinda kasih kue jadi itu bisa dipotong-potong, ini ada uang sumbangan dari warga belum Wa ambil sama sekali, kasihkan Balqis saja."
Wa Icih mengambil dus bekas wadah air mineral gelasan yang berisi amplop para pelayat.
"Khusus ini dari Ustadzah Nur dan Nak Adit, jumlahnya sepertinya lumayan jadi Wa pisahkan."
Kata Wa Icih.
Albar menatap amplop-amplop sumbangan yang diserahkan Wa Icih.
"Nanti Wa Icih saja yang ngomong ke Balqis, ini saya mau nambahin buat acara saja."
Kata Albar.
Ia lalu mendekati anak Wa Icih yang laki-laki, yang nasih kelas tiga SMP.
"Dik..."
Albar mencolek punggung anak Wa Icih.
"Namanya Navie nak Bara."
Ujar Wa Icih mengenalkan.
Albar tampak mengangguk sambil tersenyum.
Sebetulnya ia sempat dikenalkan oleh Balqis beberapa waktu lalu, tapi dia lupa.
Navie menengok ke arah Albar dan kemudian berdiri.
"Kayaknya di jalan depan banyak yang jual ayam goreng tepung, beli buat tambahan bisa kan?"
Tanya Albar.
"Yang tiga ribuan apa yang delapan ribuan Bang?"
Tanya Navie.
"Emang ada yang tiga ribuan?"
__ADS_1
Albar malah heran.
"Ada, tepungnya tebel, ayamnya ngumpet."
Kata Navie.
Albar menggeleng.
"Beli yang diatasnya aja, beli sekalian seratus."
Kata Albar.
"Seratus ribu?"
Tanya Navie.
"Seratus potong."
Kata Albar.
"Eh... Kebanyakan nak Bara, paling juga yang datang tidak sampai lima puluh orang."
Kata Wa Icih.
"Kayaknya nyampe Wa, kan Aki ikut kelompok ternak, sudah pasti nanti yang datang banyak."
Kata Albar.
"Ngga apa, beli seratus, sekalian rokok."
Kata Albar.
Albar kemudian mengambil dompetnya, ia ingat tadi saat beli perhiasan uangnya masih sisa satu juta lima ratus ribuan, sedangkan bayar Rumah Sakit Albar pakai debit.
"Saya ganti baju dulu Bang."
Kata Navie.
Albar mengangguk.
Albar kemudian permisi pada Wa Icih untuk menemui Balqis di dalam kamar.
"Suruh dia makan ya nak, dari tadi sudah Wa bujuk belum mau juga. Nanti Wa Icih siapkan makannya, sekalian buat nak Bara."
Kata Wa Icih.
Albar mengangguk.
"Iya Wa."
Albar pun berjalan mendekati pintu kamar Balqis, mengetuknya sebentar, lalu pelahan membuka pintu itu.
Tampak Balqis duduk di atas tempat tidur memegangi tasbih.
"Bal."
Panggil Albar.
Balqis menoleh ke arah asal suara Albar dari pintu kamar yang kini terbuka.
Sejenak keduanya saling berpandangan.
"Boleh aku masuk?"
Tanya Albar.
Balqis sejenak menghela nafas.
Lalu akhirnya mengangguk.
Albar tersenyum, ia kemudian masuk ke dalam kamar mendekati tempat tidur di mana Balqis duduk.
Albar menarik kursi yang biasa digunakan Balqis untuk belajar.
Albar duduk di sana, menghadap Balqis yang matanya masih tampak sembab namun sudah lebih tenang sekarang.
"Aku ngga akan bicara apa-apa, aku cuma ingin lihat kamu baik-baik saja Bal."
Kata Albar.
Balqis menatap Albar dalam diam. Tampaknya ia masih sulit untuk memasang wajah biasa saja. Bagaimanapun Albar mengerti jika Balqis dalam satu hari ini mendapat dua pukulan besar sekaligus.
"Aku di sini Bal, kapanpun kamu butuh, aku ada di sini, jangan khawatir."
Kata Albar.
**-----------**
__ADS_1