Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
70. Kadang Awan Juga Hitam


__ADS_3

Albar sudah tampak keren, ia kemudian menenteng gitar merek Rick Hanes favoritnya.


Buat Albar, tampil dengan gitar Rick Hanes menambah kepercayaan dirinya, dan ia memang sangat menyukai gitar produk lokal itu.


Sepintas mungkin banyak yang menyangka jika Rick Hanes adalah merek gitar keluaran pabrikan Amerika, tapi nyatanya, Rick Hanes Guitar adalah produksi PT Buana Cadas Perkasa, yang ada di Tambak sawah, Sidoarjo, Indonesia tentu saja.


Gitar produk lokal yang mampu menembus pasar Internasional itu jelas adalah satu kebanggaan untuk para pecinta musik di Nusantara.


Menggeser sekelas Gibson untuk menjadi ikon cafe sekelas HardRock di Bali, tentu saja bukanlah hal yang mudah.


Gitar favorit Albar yang dulu dibelinya dengan harga tiga puluh enam juta saja, nyatanya tak kalah hebat dengan harga Gibson yang bisa sampai ratusan juta.


"Saat kau mencintai Negeri ini, cintai juga orang-orang kreatif yang ada di sini, dukung produk mereka mendunia, agar dunia tahu Negeri ini punya banyak generasi yang akan tetap membuat merah putih berkibar di angkasa."


Begitu kata Albar dalam satu performa saat pertama kali ia memakai gitar produksi Mas Doddy Hernanto.


(Semoga kelak bukan hanya HardRock cafe Bali saja dong, tapi semua HardRock cafe memakai gitar merek Rick Hanes sebagai ikonnya)


"Udah siap Bar?"


Tanya Flo yang tampak memegang kamera.


Albar mengangguk.


"Yuk cus."


Kata Flo.


Albar mengikuti Flo keluar dari rumahnya.


"Tadi Mami nelfon kamu ngga diangkat katanya."


Flo membuka pintu mobil, Albar masuk ke dalam dan Flo menyusul.


"Lagi latihan ditelfon mulu, ada apa sih?"


Tanya Albar.


"Ngga tahu juga, tadi cuma nelfon nanya kamu lagi ngapain ditelfon ngga diangkat."


Jawab Flo.


"Ya udah biarin aja."


Kata Albar lagi.


"Gimana tadi ketemu sama pihak model yang nyebarin rumor dihamilin aku?"


Tanya Albar lagi.


"Aman."


Flo bersandar sambil membongkar tasnya.


Pardi di belakang kemudi sudah mulai menyalakan mesin mobil dan bersiap membawa dua majikannya pergi menuju Zombie Hotel.


Flo tampak mengeluarkan hp dan memberikannya pada Albar.


"Apa nih?"


Albar mengerutkan kening.


"Hp ku yang buat hubungin Kancil, dia menemukan alamat Pak Nurdin, iya dia pernah tinggal di sana."


Kata Flo.


"Itu di situ ada foto-foto rumahnya."


Lanjut Flo pula.


Albar begitu mendengar nama Nurdin seketika langsung membuka hp yang baru saja diberikan Flo, ia masuk ke aplikasi chat di mana di sana ada banyak chat Flo dan Kancil.

__ADS_1


Albar membacanya, setelah itu melihat foto-foto rumah yang dikatakan Kancil adalah rumah Pak Nurdin.


Sebuah rumah yang sederhana saja, dan termasuk model lama.


"Di sana ada yang menempati, katanya sih saudara jauh, itu juga katanya lagi baru ditempati empat tahunan ini. Pak Nurdin meninggal bersama isterinya dalam kecelakaan sekitar tujuh belas tahun lalu, anaknya yang bayi diadopsi, proses adopsinya dan siapa yang mengadopsi itu dia ngga tahu, karena dia waktu itu masih kecil dan tinggalnya bukan di situ, tapi kabarnya nanti akan dimintakan informasi lebih lanjut ke orang-orangtua yang tahu kejadiannya, sabar saja."


Flo menjelaskan panjang lebar.


Albar mengangguk.


"Ngga usah, aku rasa aku tahu siapa yang mengadopsi, dan juga di mana bayi itu sekarang berada."


Kata Albar lemas.


Flo menatap Albar yang seperti langsung syok mendapat kabar soal Nurdin.


"Sori, harusnya aku kasih tahunya nanti saja setelah kau perform."


Kata Flo.


Albar menggeleng.


"Ngga apa Flo, thanks sudah bantu, kamu kasih uang lebih ke Kancil, dan lusa antar aku ke rumah itu."


Kata Albar.


Flo mengangguk.


Albar memberikan hp Flo lagi, dan kini ia menatap nanar Jalanan malam Jakarta.


Hatinya kini terasa begitu gelap, sangat gelap. Jadi ini alasan kenapa Papi membiayai semua proses adopsi Balqis? Batin Albar.


Tapi kenapa Papi jika yang sebetulnya hari itu temannya lah yang mengemudi? Batin Albar lagi.


**-----------**


Di rumah Balqis pengajian untuk Aki sudah dimulai, para warga yang datang kini tak sebanyak saat awal-awal, mungkin karena sudah beberapa malam ini hujan mengguyur terus sehabis Maghrib.


Namun di malam ke tujuh ini Bang Adit tampak menyempatkan diri hadir.


"Qis, sepertinya nasi berkat lebih banyak malam ini, mungkin sekitar dua puluh lima wadah, dibagikan saja ya?"


Tanya Wa Icih pada Balqis yang duduk di teras dekat tangga loteng ke kamar Albar sambil memangku Cimot, di sebelahnya Eti dan Po serta Dinda sedang ikut mengaji.


Seperti yang diperkirakan Balqis, dia jelang maghrib datang bulan, jadi hari ini ia tak ikut ngaji, hanya duduk saja menemani teman-temannya.


"Iya Wa, diatur Wa Icih saja."


Kata Balqis.


"Yang janda jompo di sekitar sini kan sudah semua, nanti kita minta tolong Bang Fajar saja yang bagi rata ke RT sebelah atau RW sebelah sekalian barangkali ada masih banyak janda tidak mampu."


Ujar Wa Icih.


"Teh Lilis sudah dikasih Wa?"


Tanya Balqis.


"Oh tadi sudah atuh duluan dikasih, dikasih dua malah."


Sahut Wa Icih.


Balqis mengangguk.


Wa Icih kembali ke dapur, lalu tampak sibuk dengan Teh Inggit dan Teh Nurul memisahkan nasi berkat yang akan diberikan pada warga yang datang, dan juga nanti yang akan dibagikan saja kepada para janda jompo dan janda tak mampu.


Sekitar setengah sembilan malam, acara pengajian berakhir, hujan turun rintik-rintik membuat semua orang yang datang sedikit gugup untuk pamit pulang.


Bang Fajar membantu membagikan nasi berkat pada para warga bersama Navie dan suami Wa Icih.


Bang Adit pamit terakhir, dan Wa Icih membawakan empat nasi berkat untuk Bang Adit.

__ADS_1


"Kok banyak sekali Bi?"


Tanya Bang Adit.


"Di rumah Bu Ustadzah Nur kan banyak orang, ngga apa dibawa saja."


Kata Wa Icih.


Bang Adit mengangguk santun.


"Baiklah Bi, terimakasih, salam untuk Balqis."


Kata Bang Adit, karena Balqis memang tak menemuinya.


"Kamu kenapa ngumpet sih Qis?"


Tanya Eti pada Balqis yang memilih di belakang pintu.


"Ngga apa."


Jawab Balqis.


"Eh jam berapa ini? Albar tampil dooong."


Po mengingatkan.


"Ah iya, ayo cepat cepat..."


Eti segera berlari naik ke loteng.


"Eh beresin ini duluuu."


Teriak Dinda.


"Ah entar aja."


Sahut Eti.


Po menyusul.


Balqis jadi tertawa.


"Ada apa sih Qis?"


Tanya Teh Inggit.


"Hehehe... Itu Teh, Albar mau perform di acara pembukaan hotel baru di Jakarta, Kak Flo akan menyiarkannya secara langsung acaranya."


Kata Balqis.


"Oh ya?"


Teh Inggit antusias.


Balqis mengangguk.


"Kalau gitu kita nonton sama-sama saja, pakai TV aja Qis."


Kata Teh Inggit.


"Memangnya bisa?"


Tanya Balqis.


Teh Inggit mengangguk.


"Bisa atuh, kan TV yang dibeli Albar itu model terbaru."


Kata Teh Inggit.


"Oh gitu, ya udah."

__ADS_1


Balqis akhirnya setuju.


**-------------**


__ADS_2