
Hari berlalu dengan cepat, hujan gerimis turun rintik-rintik. Balqis dan Dinda sedikit berlari keluar kampus dan langsung menuju ke tempat Pardi yang telah menunggu mereka.
"Ya Allah, aku lupa nitip beli daging ayam Qis, tadi kan Eti dan Po bilang mau belanja sekalian."
Dinda menepuk lengan Balqis begitu mereka sudah sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Telfon saja Nda."
Kata Balqis.
Dinda mengeluarkan hpnya dari tas, namun hp Dinda lowbat.
"Duh lowbat, aku lupa semalam belum cas hp, pinjam punyamu y Qis."
Kata Dinda.
Balqis mengangguk, ia kemudian mengambil hp nya dari dalam tas nya, bersamaan dengan itu Pardi bertanya apakah mereka akan langsung pulang atau akan mampir dulu ke tempat lain.
"Langsung pulang saja Bang."
Jawab Balqis sambil memberikan hp nya pada Dinda tanpa melihat layarnya lebih dulu.
"Kunci layarnya masih sama kan Qis?"
Tanya Dinda yang kini sibuk mengobrol dengan Bang Pardi soal kisah hantu yang sering jadi obrolan hangat di sekitar kampus itu.
"Iya Nda."
Sahut Balqis tanpa menoleh pada Dinda karena antusias mendengarkan kisah hantu dari Bang Pardi yang menceritakan kisah hantu sambil mulai mengemudikan mobilnya.
Dinda membuka kunci layar hp Balqis, saat kemudian ia melihat ada pesan dari Bang Fajar, Teh Inggit dan juga dari Beni.
Dinda yang semula akan mengabaikan pesan masuk itu, tanpa sengaja melihat seperti ada tulisan tak enak di pesan yang dikirimkan Beni, jadi Dinda akhirnya membukanya tanpa memberitahu Balqis dulu.
Entahlah, sejak Dinda tempo hari mengambil sisa-sisa barang mereka yang tertinggal di rumah Beni, lalu bertemu dengan Beni sikapnya sama sekali tidak ramah dan sangat dingin, Dinda sudah merasa tak suka dengan sosok itu.
Belum lagi begitu tahu Bang Zul yang sampai harus dipecat hanya karena urusan sepele, rasanya makin bertambahlah rasa tak suka Dinda pada pemuda bernama Beni itu.
Buat Dinda jelas apa yang dilakukan Beni adalah bukan sikap seorang laki-laki yang bermartabat, karena hanya untuk urusan perasaan saja, ia sampai menyerang orang yang tak bersalah, apalagi sampai jalan rezeki dia yang di hancurkan.
Dinda mengklik pesan Beni pada Balqis, dan tampak foto dua orang yang sedang berpelukan di depan sebuah kampus, melihat posturnya, Dinda tahu betul jika itu adalah Albar, apalagi ditambah pesan yang ditulis Beni, itu sudah jelas mengisyaratkan jika ia berusaha menunjukkan Albar laki-laki macam apa di belakang Balqis.
Dinda menoleh pada Balqis yang masih serius mendengarkan Pardi yang bercerita tentang kisah hantu di sekitar UI yang cukup diketahui banyak orang.
Sebagaimana kisah si manis jembatan ancol atau kuntilanak di terowongan Casablanca, kisah hantu UI juga sudah seperti urban legend yang hampir semua masyarakat sekitar Jabodetabek paham.
Dinda kemudian memilih menghapus saja semua pesan dari Beni agar Balqis tak perlu melihatnya.
Tak ada guna pesan semacam itu Balqis lihat, hanya pesan untuk membuat masalah saja, Dinda setelah menghapus langsung menghapus nomor Beni dari kontak Balqis dan memblokirnya.
Baru selesai itu Dinda menelfon Eti untuk menyampaikan pesannya bahwa mereka tak ada stok daging ayam, karena Balqis belanja dengan Albar hanya membeli daging dan iga saja.
__ADS_1
"Sekalian nambah cabe juga boleh Et."
Kata Dinda.
"Oke."
Sahut Eti.
"Kita lagi otw pulang nih Et, ketemu di rumah."
Kata Dinda.
"Ya Nda, ini juga tinggal nunggu Po selesai milih buah doang."
"Ya udah. Makasih Et."
Dinda kemudian mengakhiri percakapannya dengan Eti. Setelah itu diberikannya lagi hp Balqis pada sang pemilik yang tak merasa ada pesan masuk dan nomor kontak yang sudah Dinda hapus.
**------------**
Gerimis masih turun saat Flo akhirnya keluar dari sebuah salon kecantikan yang cukup ternama di ibu kota.
Flo berkali-kali tampak membenahi tunik dan jilbab yang ia pakai, tampak sekali ia tidak terbiasa dengan dandanannya saat ini.
Ah ya Tuhan, Flo bahkan seperti tak mengenali dirinya sendiri saat ia melihat pantulan dirinya di depan kaca mobil.
Dan...
Sebetulnya ia sedang kenapa?
Sadar atau tidak sebetulnya ia tiba-tiba jadi sampai rela berdandan seperti ini?
Flo menepuk-nepuk dahinya, tapi toh semua sudah kepalang tanggung, ia sudah berdandan secantik ini, apa iya harus dibatalkan?
Flo akhirnya mau tak mau membawa mobilnya menuju alamat Indra.
Tidak, ini bukan karena Indra, namun karena menghormati undangan Ibunya Indra.
Ya Ibunya Indra, yang tentu saja itu adalah undangan orangtua, jadi Flo tak boleh mengabaikan bukan?
Ya kan?
Benar kan?
Flo berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang ia lakukan adalah memang sungguh benar adanya.
Hingga akhirnya Flo sampai di depan gang menuju rumah Indra, Flo menghentikkan mobilnya di sana.
Ada dua orang Ibu yang berjalan masuk ke dalam gang mengenakan busana muslim seolah akan menghadiri acara pengajian, bisa jadi mereka adalah salah satu tamu di acara Indra juga.
Flo mengatur nafasnya, mencoba memantapkan niatnya untuk memenuhi undangan Ibunya Indra.
__ADS_1
Flo membuka pintu mobilnya, lalu turun dari mobil.
Bersamaan dengan itu beberapa Ibu dengan busana muslim rapi kembali terlihat.
Flo akhirnya berjalan di belakang mereka yang ternyata juga benar akan ke rumah Ibunya Indra.
Flo yang membawa satu kantong berisi dua kotak kue sebagai buah tangan kini semakin dekat dengan rumah Indra yang sudah mulai ramai dipenuhi undangan.
Agak ragu lagi Flo kini begitu melihat semua yang ada di sana adalah Ibu-Ibu yang sepertinya teman-teman Ibunya Indra.
Haruskah aku teruskan?
Haruskah?
Flo sejenak menghentikan langkahnya, menatap nanar rumah dengan pagar besi yang berkarat di depan sana.
Apa aku sudah gila?
Kenapa aku sampai di sini?
Batin Flo.
Flo makin ragu untuk melanjutkan langkahnya saat tiba-tiba dari belakang Flo terdengar sebuah suara yang tak begitu asing.
"Permisi...
Flo seketika menoleh dan melihat Indra yang membawa tiga dus aqua gelas melewatinya begitu saja.
Pemuda itu terlihat tak mengenali Flo yang jelas saja penampilannya berubah total.
Degup jantung Flo mendadak meningkat, apalagi saat kemudian Ibu Indra terlihat keluar dari pagar rumah menyambut Indra yang datang.
Ibu Indra tanpa sengaja melihat ke arah Flo yang sedari tadi berdiri saja seperti bingung harus maju atau mundur.
Ibunya Indra menepuk lengan Indra sambil mengatakan sesuatu, seperti menanyakan siapa perempuan cantik yang berdiri di sana.
Indra menoleh ke arah Flo yang dalam gerakan mendadak langsung berbalik membelakangi Indra dan mengambil langkah secepat kilat untuk pergi dari sana.
Indra yang curiga jika itu Flo akhirnya mengejar, Flo makin mempercepat langkahnya.
"Nona Flooo... Kau kah itu?"
Tanya Indra sambil mengejar Flo.
Flo tak mau menjawab, ia menuju mobilnya.
Hingga tiba-tiba hp nya bergetar, Flo mengangkat tangannya yang memegang hp nya dan melihat nama Indra di sana.
"Isshh sial."
Flo mendesis, sedangkan Indra di belakangnya tampak mengulum senyuman karena akhirnya makin yakin jika itu adalah Flo.
__ADS_1
**---------------**