Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
146. Calon Pasangan Baru


__ADS_3

Pagi hari di rumah Albar sudah ramai macam tempat penampungan.


Fajar di halaman depan membantu Bang Zul mencuci semua mobil yang terparkir di garasi.


Tio sendiri sudah membantu mencuci satu lalu pergi mandi karena akan pergi ke kampus.


Sementara di dapur, Po sibuk memasak sarapan dibantu Bik Tuti.


Balqis sudah selesai siap-siap ke kampus dan baru saja keluar dari kamarnya bersamaan dengan Eti yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Et, kamu ngampus?"


Tanya Balqis.


"Iya, kenapa Qis?"


Eti balik tanya.


"Nggak apa, aku lupa semalam, kamu ditanyain sama Kak Flo, weekend jadi bantuin di cafe enggak?"


Eti yang ditanya begitu langsung semangat.


"Beneran Qis?"


Balqis mengangguk.


"Wiiihiiiiiir..."


Eti hepi luar angkasa.


"Nanti chat Kak Flo ya, harusnya semalam aku nyampein tapi lupa akunya."


Kata Balqis.


"Oke Qis, thanks ya."


Balqis tersenyum sambil berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai satu.


"Yuk ah sarapan, trus berangkat."


"Hayuk..."


Eti merangkul Balqis.


"Nanti gaji pertama aku traktir ya."


Ujar Eti.


Balqis cekikikan.


"Traktir di cafe Kak Flo."


"Hahaha... Ya enggaklah, itu mah sama saja bohong."


Ujar Eti.


Balqis tersenyum, lalu bersama Eti menuruni tangga sambil melanjutkan obrolan mereka.


Ruang makan sudah mulai dirapikan Bik Tuti, dua piring telor dadar ukuran besar sudah terlihat di atas meja terpotong-potong macam potongan pizza.


"Masak apa sih Po, perasaan dari habis subuh dia udah heboh di dapur."


Kata Eti.


Balqis tersenyum.


"Ngga apa, lagi kelebihan energi."


Ujar Balqis.


"Caper ada calon pacar."


Gelak Eti yang membuat Balqis menabok lengannya meskipun akhirnya jadi ikut tertawa.


Balqis dan Eti mendekati meja makan dan kemudian tampak Po keluar dari dapur membawa sepiring capcay.


Di belakang Po, terlihat Bik Tuti membawa dua piring gorengan tahu dan Nuget.


"Masih ada satu lagi, bihun pedas dengan udang."

__ADS_1


Po nyengir pada Eti dan Balqis.


"Sarapan sebanyak ini menunya, kamu masak buat sarapan apa buat prasmanan kawinan po."


Eti geleng-geleng kepala sambil duduk di salah satu kursi ruang makan tersebut, Balqis duduk di sebelah Eti.


Po nyengir santai lalu berjalan menuju kembali ke dapur.


"Ini juga karena saya sudah bilang cukup, tadi malah mau ngolah bakwan jagung."


Kata Bik Tuti.


Haiiish... Eti mendesis sambil tepuk jidat.


"Gila kali Po."


Kata Eti pada Balqis yang sedang mengambil gorengan tahu yang masih hangat dari piring yang baru saja diletakkan oleh Bik Tuti.


"Yang lain dipanggil Bik buat sarapan."


Kata Balqis pada Bik Tuti.


"Iya Non."


Bik Tuti lantas pergi keluar rumah dari pintu samping untuk memanggil Bang Zul dan Bang Fajar.


Dinda sendiri baru turun dari lantai dua, ia tampak rapi jali.


"Eh si Nyonya udah rapihan."


Sambut Eti begitu melihat Dinda yang turun sudah siap dengan tas nya.


"Sarapan Nda."


Ujar Balqis.


Dinda mengangguk lalu mengambil tempat di sebelah Balqis.


Po keluar lagi dari dapur dan benar membawa sepiring bihun yang dicampur udang dan kelihatannya pedas sekali karena banyak irisan cabai.


"Makan makaaaan..."


Bang Zul muncul dari luar, ia masuk bersama Bang Fajar.


Kata Bang Zul.


Bik Tuti bergegas menuju ke belakang rumah di mana paviliun yang ditinggali Tio dan Bang Fajar serta Bang Zul berada.


"Bang Fajar mau jalan-jalan nggak?"


Tanya Balqis.


"Wah mau mau..."


Bang Fajar semangat.


"Ikut ngampus saja, nanti Bang Fajar yang bawa mobil."


Ujar Balqis.


Dinda memandangi Balqis yang duduk di sampingnya.


"Maksudnya Bang Fajar nganter kita ngampus Qis?"


Tanya Dinda.


Balqis mantuk-mantuk.


"Ngga apalah, sekalian jalan-jalan, ya kan Bang Fajar?"


Balqis pada Bang Fajar yang tentu saja langsung mengacungkan dua ibu jarinya.


Balqis menatap Dinda sambil tersenyum.


Dinda wajahnya jadi bersemu merah karena sama sekali tak menyangka akan berangkat ngampus diantarkan Bang Fajar.


Tak lama Tio terlihat ikut bergabung untuk menikmati sarapan, Po yang sudah duduk di samping Eti terlihat salah tingkah.


"Ehm."

__ADS_1


Eti jadi ber ehm-ehm.


"Tio berangkat bareng sekalian saja. Kamu mah dianter Bang Zul aja Et."


Kata Balqis.


Eti mengangguk.


"Ya oke."


Ujar Eti.


"Mau belajar nyetir kapan Et?"


Tanya Bang Zul.


Eti mikir sebentar.


"Weekend ini mau?"


Tanya Bang Zul.


"Oh nggak bisa, weekend saatnya cari tambahan uang jajan Bang."


Ujar Eti.


"Loh, maksudnya kerja?"


Tanya Bang Zul.


Eti mengangguk.


"Bantuin di cafe kak Flo tiap sabtu minggu, lumayan kan buat nambah uang jajan biar ngga ngandalin kiriman bulanan dari orangtua banget."


Kata Eti.


"Waaah kalau ada aku mau tuh."


Tio nimbrung.


"Aku juga."


Po ikutan.


Eti menoleh pada Po.


"Kamu bukannya udah bilang ke Kak Flo waktu itu."


Kata Eti.


"Ooh gitu ya, aku lupa."


Po nyengir.


"Huuu lihat Tio memorimu langsung kacau."


Seloroh Eti membuat semua jadi tertawa.


Eti lalu beralih pada Tio.


"Seriusan mau kalau ada?"


Tanya Eti pada Tio.


"Serius lah, aku nggak pernah nggak serius kalau ingin melakukan sesuatu."


Kata Tio.


"Termasuk tulisan pake sandi rumput itu serius banget apa Tio?"


Tanya Eti membuat Tio tertawa, sedangkan Po wajahnya langsung macam kepiting rebus.


"Nanti aku tulis ulang pake tulisan biasa, tapi kalau Po memang ingin tahu."


Kata Tio sambil memandang Po yang terlihat begitu salah tingkah.


"Heeey, ingat Abang ada di sini."


Kata Bang Zul membuat Eti, Balqis, Dinda dan Bang Fajar tertawa.

__ADS_1


Sementara Tio dan Po jadi malu-malu koceng.


**----------**


__ADS_2