Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
112. Rumah Terakhir Orangtua


__ADS_3

Pardi menghentikkan mobilnya di depan sebuah mushola di mana di samping mushola itu ada jalan kecil menuju makam dan juga rumah salah satu Uwaknya Balqis dari mendiang orangtuanya.


Albar kemudian mengajak Balqis turun.


"Ayok Bal."


Ajak Albar.


Balqis yang sedari tadi hanya tertegun di tempatnya sembari menatap gang dekat mushola itu tampak mengangguk pelan.


Dadanya kini terasa berdegup kencang dan rasanya begitu gugup.


Balqis turun dari mobil lalu berjalan mendekati Albar.


"Bang Pardi, kalau bete nunggu jalan-jalan dulu nggak apa."


Kata Albar pada supirnya.


Sebetulnya semula Albar ingin pergi bersama Balqis berdua saja, namun karena semalam ia kurang tidur jadi akhirnya Albar memilih agar Pardi saja yang mengemudi.


Lagipula, yang tadinya memang Pardi akan ia suruh mengantar Dinda, Po dan Eti serta Bi Tuti ke rumah Beni untuk ambil sisa barang akhirnya tidak perlu karena ada Bang Zul kakak Po.


"Saya nyari rokok dulu Tuan."


Kata Pardi akhirnya.


Albar mengangguk, lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan untuk Pardi.


"Sekalian untuk ngopi dan beli gorengan."


Ujar Albar.


Pardi sumringah merekah.


Albar kemudian mengajak Balqis segera meneruskan perjalanan mereka menuju gang dekat mushola di depan mereka.


Gang menuju makam itu terlihat sepi, Balqis jalan lebih dulu dan Albar berada tepat di belakangnya.


Berjalan tak begitu jauh, Albar akhirnya menunjuk sebuah rumah kecil dekat makam milik Wak Ramli yang setahun lalu ia kunjungi bersama Flo.


"Itu rumah Uwak Ramli Bal."


Kata Albar memberitahu Balqis.


Balqis mengangguk.


"Kita mampir ke sana dulu saja?"


Tanya Albar.


Balqis mengangguk lagi, kakinya kini makin lama makin lemas.


Albar yang tahu Balqis langkahnya mulai sedikit terhuyung akhirnya meraih tangan Balqis dan menggandengnya, keduanya berjalan beriringan menuju rumah Wak Ramli.


Tok... Tok... Tok...


Albar mengetuk rumah Wak Ramli begitu keduanya telah berada di depan pintu rumah sederhana tersebut.


Balqis yang berdiri di sebelah Albar terlihat termangu, perasaannya bercampur aduk menjadi satu.


Hingga, terdengar derap langkah kaki di dalam rumah yang mendekati pintu, dan tak lama setelahnya pintu itupun terbuka pelahan.

__ADS_1


Wak Ramli, sosok laki-laki tua itu pada berdiri di sana menatap Albar dan Balqis.


Albar membungkuk memberi salam, lalu menjabat tangan Wak Ramli.


"Bukankah ini Tuan Muda Albar yang dulu ke sini?"


Tanya Wak Ramli.


Rupanya ia masih bisa mengingat rupa Albar dengan baik, mungkin karena peristiwa setelah kedatangan Albar, banyak wartawan yang jadi memburunya hingga ia sulit melupakan momen itu.


"Ini isteri?"


Tanya Wak Ramli.


Albar mengangguk.


"Calon Wak."


Jawab Albar.


Wak Ramli mengangguk mengerti, lalu kemudian mempersilahkan Albar dan Balqis masuk ke dalam rumahnya.


Balqis terus menatap Wak Ramli, ia rasanya tak percaya kini berada di rumah salah satu saudara orangtua kandungnya.


"Maaf keadaannya masih begini."


Kata Wak Ramli pada Albar dan Balqis saat mereka harus duduk di atas karpet saja.


"Wak, maaf mengganggu, ini perkenalkan, dia Balqis, Wak."


Kata Albar akhirnya.


Wak Ramli sejenak terdiam, ia merasa tak asing dengan nama yang baru disebut Albar.


Wak Ramli seolah bergumam saja seraya menatap Balqis yang tiba-tiba menangis.


Wak Ramli yang jadi bingung menoleh pada Albar yang tampak merangkul bahu Balqis agar calon isterinya itu bisa lebih tenang.


"Balqis adalah putri almarhum Pak Nurdin dan Isterinya, Wak."


Mendengarnya, Wak Ramli jelas saja langsung terkejut luar biasa.


"Anak Nur... Nurdin? Ya Allah, benarkah?"


Wak Ramli sangat terharu dipertemukan dengan Balqis yang dulu mereka lepaskan saat masih bayi untuk di adopsi Papi nya Albar melalui Mang Kus, supir pribadinya yang katanya belum memiliki keturunan.


Balqis menangis tersedu-sedu, begitu juga dengan Wak Ramli.


"Kamu baik-baik saja Nak? Alhmdulillah... Kamu tumbuh dengan sebaik ini, Ya Allah..."


Wak Ramli menangis haru.


Albar juga jadi tak tahan untuk tidak ikut menangis.


Balqis menyalami Wak Ramli dan mencium tangan kakek itu.


"Maafkan Uwak tidak langsung mengenali kau Balqis."


Ujar Wak Ramli.


Balqis sesenggukan di tempatnya.

__ADS_1


"Kami ingin mengunjungi makam Bapak dan Ibu, Wak."


Kata Albar lagi.


Wak Ramli mengangguk.


"Ya tentu... tentu... Balqis harus tahu makam kedua orangtuanya."


Ujar Wak Ramli.


"Dan..."


Albar kemudian memberanikan diri menanyakan soal siapa yang berhak menjadi wali atas Balqis, karena ia ingin melamar secara resmi dan akan menikahi Balqis setelah study Albar selesai di Perth tahun depan.


"Tentu saja saya Tuan Albar."


Jawab Wak Ramli atas pertanyaan Albar.


"Kakek Balqis sudah meninggal, saudara Babe Balqis hanya ada satu perempuan dan sudah meninggal, anaknya ada tiga juga semuanya perempuan, dan..."


Wak Ramli menjelaskan silsilah dalam keluarga Orangtua Balqis dengan rinci, ia menyebutkan yang sudah meninggal dan juga yang masih hidup siapa saja, alamatnya di mana, dan jika kapan waktunya bisa mereka dipertemukan semuanya.


"Jadi..."


Albar menghentikan kalimatnya sebentar, mengatur irama nafasnya karena sedikit tersengal akibat degup jantungnya yang lebih cepat dari biasanya.


"Jadi saya bisa melamar Balqis dan menikahi Balqis dengan Wak Ramli sebagai wali?"


Tanya Albar akhirnya.


Wak Ramli mengangguk.


"Iya Tuan, kalau memang Tuan berniat untuk benar-benar akan menikahi Balqis, nanti kita cari waktu untuk bertemu semua anggota keluarga besar yang masih ada saja. Sekalian juga Balqis agar kenal dengan keluarga kandungnya."


Ujar wak Ramli.


Balqis yang terus menangis di sebelah Albar terlihat terus berusaha mengusap air matanya.


"Mumpung belum siang, barangkali mau ke makam orangtuamu dulu Balqis, Uwak antar sekalian cari di jenab tadi keluar dengan anaknya belanja sayur belum pulang juga."


Kata Wak Ramli.


Balqis mengangguk.


Balqis berdiri dibantu Albar, lalu keduanya berjalan keluar dari rumah Wak Ramli beriringan diikuti Wak Ramli.


Hanya selang sekitar tiga rumah saja, mereka sudah masuk area pemakaman di mana Orangtua Balqis dimakamkan.


Pemakaman yang dipenuhi pohon bunga Kamboja dan juga ada jalan setapak berliku yang sudah disemen karena tampaknya juga untuk jalan perlintasan orang ke desa sebelah.


Balqis memasuki pemakaman sambil mengucap salam untuk para ahli kubur, diikuti Albar yang kemudian menunjukkan letak makam kedua orangtuanya, Balqis melangkah pelan sambil masih menangis.


"Itu Bal."


Albar menunjuk dua makam yang sudah dikeramik, namun batu nisannya sudah tak jelas namanya.


Balqis melangkah pelahan mendekati makam kedua orangtuanya, kakinya terasa lemas hingga begitu sampai didekat kedua pusara itu Balqis langsung ambruk memeluk makam Ibunya.


"Balqis minta maaf Ibu, maafkan Balqis baru bisa datang ke makam Ibu dan Ayah."


Lirih Balqis di sela tangisnya yang pecah.

__ADS_1


Albar yang juga ikut menangis tampak menyeka air matanya, ia bersimpuh di sana dan memanjatkan doa.


**-------------**


__ADS_2