
Albar dan Balqis akhirnya sampai di rumah lagi, saat hari sudah mulai mendekati sore. Tapi, apa ini...
Albar dan Balqis celingak-celinguk karena rumah masih sepi.
"Apa belum pada pulang?"
Gumam Balqis heran.
Albar kemudian keluar dari rumah untuk tanya pada penjaga rumah di depan.
"Orang-orang pada belum pulang Pak?"
Tanya Albar.
"Oh iya Tuan, belum."
Ujar Penjaga rumah Albar.
"Mungkin mampir makan di mana Tuan."
Pardi nimbrung sambil masuk membawakan kantong-kantong belanja yang Balqis dan Albar beli.
"Ah iya mungkin."
Albar mantuk-mantuk.
Albar kemudian masuk ke dalam rumah lagi, tampak Balqis sedang sibuk menelfon dengan hp nya.
Pardi membawa kantong belanja sayur dan bahan makanan lainnya ke meja makan dalam dapur.
"Brownies nya taruh sini saja Bang."
Kata Albar pada Pardi.
Pardi memisahkan tas berisi tiga kotak brownies lalu membawanya ke meja ruang makan di mana Albar duduk di sana.
"Ambil satu Bang, buat temen ngerokok di depan."
Kata Albar pula.
Pardi mengangguk, ia mengambil satu kotak brownies dari tas, lalu beranjak dari sana.
Balqis terlihat menghela nafas, Albar menatap Balqis yang seperti kesal karena telfonnya tak ada yang mengangkat.
"Nggak diangkat?"
Tanya Albar.
Balqis mendekat ke arah Albar sambil mengangguk.
"Apa mungkin mereka main ke Dufan? Kayaknya Po ingin sekali ke Dufan sejak mau berangkat ke Jakarta."
Gumam Balqis.
"Bisa jadi, atau aku coba telfon Beni saja, mastiin mereka sudah pulang atau di mana?"
Albar seolah minta pendapat.
Balqis duduk di salah satu kursi ruang makan tersebut.
"Biarinlah, nanti dikira kita cerewet."
Kata Balqis.
Albar mengangguk.
"Ya sudah, kamu katanya mau mandi trus sholat asar. Tadi di masjid enak banget sholat rasanya adem."
Kata Albar.
Mereka memang sempat mampir masjid lebih dulu setelah makan dan sebelum pergi belanja sayur.
Balqis tersenyum.
"Iya, kamu juga mandi gih, lalu sholat, nanti aku buatkan mie rebus, ini mau beresin belanjaan dulu."
Kata Balqis.
Albar mengangguk.
__ADS_1
Albar naik ke lantai dua lebih dulu, sedangkan Balqis pergi ke dapur untuk menata belanjanya, beberapa bungkus daging di masukkannya ke dalam freezer, termasuk NuGet, sosis, dan kentang siap goreng.
Sayuran dan cabe serta buah di letakkan di rak bawah, baru kemudian menata telur.
Sebetulnya, jika menuruti catatan yang dibuat Dinda, belanjaan Balqis tak sebanyak itu, namun karena Balqis belanja bersama Albar, tentu saja belanja sedikit malah dikomentari.
"Tambahinlah, ambil daging yang banyak, itu sekalian nuget semuanya apa itu ambil, jangan kayak orang susah."
Kata Albar saat tadi mereka masih belanja.
Balqis jadi senyum-senyum sendiri, nyatanya perbedaan kelas di antara mereka terlalu tinggi, makanya urusan belanja saja mereka beda gaya.
Balqis saat mau belanja harus ada catatan supaya tidak melebihi budget dan memang yang akan dibeli adalah kebutuhan yang penting, sedangkan Albar tadi catatan Dinda saja ia buang, katanya ujian saja bawa contekan tidak boleh, masa cuma belanja bawa contekan.
Ah dasar Albar...
Bagaimana nanti kalau mereka sudah menikah ya, Balqis jadi tergugu sendiri lagi.
Sekitar lima belas menit menata hasil belanjanya dan juga menyiapkan bahan untuk membuat mie rebus setelah nanti mandi dan sholat, barulah kemudian Balqis juga naik ke lantai dua untuk menuju kamarnya agar bisa mandi dan sholat asar.
**-----------**
Albar baru selesai sholat, saat ia mendengar hp nya berdering. Cepat Albar mendekati hp nya yang berada di atas tempat tidur.
Mami.
Albar menghela nafas.
"Ya Mam."
"Kamu di mana?"
Tanya Mami.
"Di rumah."
Sahut Albar.
"Ooh."
Terdengar Mami meng oh kan.
Tanya Mami kemudian, suaranya terdengar seperti cemas Albar berubah pikiran dan rencana.
"Jadi Mam."
Jawab Albar.
"Baiklah."
Mami langsung lega.
"Tenang saja, Albar kali ini akan selesaikan studi dengan baik, nggak akan kecewain Mami lagi."
Ujar Albar.
"Nah begitu dong sayang, Mami sampai terharu dengarnya."
Mami begitu bahagia.
"Tapi..."
Albar menggantung sejenak kalimatnya.
"Tapi apa sayang? Katakan saja. Kamu mau mobil sport model terbaru? Mau apa? Ferrari? McLaren? Lamborghini? Atau apa?"
Tanya Mami Albar.
"No Mam, semua itu cuma semu."
Kata Albar.
"Lho semu bagaimana? Mami bisa langsung belikan sekarang juga, cash tanpa kredit."
Kata Mami.
(Iya dong, memangnya di Perth ada nggak sih beli mobil kredit? Wkwkwk)
"Atau kamu mau rumah mewah di Paris? Atau Roma? Atau di Hawai?"
__ADS_1
"Maaam, pliiiis..."
Albar mengurut keningnya.
Kenapa otak Maminya hanya berputar seputar harta benda saja.
"Oke oke... Mami tahu, kamu mau jet pribadi sendiri, ya kan?"
Tebak Mami Albar yang langsung membuat Albar menghela nafas panjang.
"Nanti saja Albar akan katakan setelah Albar sampai di Perth."
Putus Albar akhirnya.
"Aaah begitu, ya baiklah, besok Mami akan usahakan sudah sampai di Perth juga."
Kata Mami Albar.
"Lho, memangnya Mami di mana sekarang?"
Albar malah jadi bingung sendiri pada Maminya. Dia sibuk tanya Albar di mana, sendirinya juga sedang tidak tahu ada di mana.
"Mami lagi di Hamburg, tiba-tiba ingin minum kopi dekat danau Alster."
Kata Mami.
Haiiiish, Albar mendesis.
Bagaimana bisa Maminya masih sekonyol itu.
Mami Albar memang orang yang sedikit tidak biasa.
Dia sering bepergian tiba-tiba.
Kadang sedang asik bicara apa, lalu dia jadi kepengin ya langsung saja pergi.
Macam ngobrol soal sushi dengan ikan tuna buatan Chef terbaik di Jepang langsung rasanya sangat lezat, maka dia akan langsung seketika itu juga bebenah dan bikin jadwal ke Jepang.
Atau misalnya sedang asik cerita makan nasi lemak, ya dia akan terbang ke Malaysia.
Bahkan misal bosan tidur di rumah, ia akan pergi ke luar negeri atau luar pulau hanya untuk pindah tidur saja.
Albar masih ingat saat Albar kecil dan mereka masih di Indonesia, waktu itu Papi Albar masih hidup, bahkan belum terjadi kecelakaan tragis yang menjadi jalan meninggalnya orangtua Balqis.
Ya Albar ingat sekali, saat Albar masih kecil itu, Maminya tiba-tiba mengajaknya ke China, hanya untuk makan bebek.
Lalu setelah itu mereka tidur satu malam di hotel di Beijing, dan paginya pulang lagi ke Indonesia.
Yang paling aneh lagi, mau makan rendang Mami langsung ke Padang, katanya biar lebih berasa menjiwai saat makan.
Ya begitulah Maminya Albar, yang sejak masih jadi zigot juga sudah kaya raya tajir melintir, di tambah lagi menikah dengan orang kaya, jadi menantu orang kaya, dan dianya juga pinter bisnis yang semakin mengukuhkan kekayaannya yang seolah tak tahu kapan habisnya.
"Besok belikan Mami roti Unyil dong Al."
Kata Mami.
"Hah, kenapa mendadak sih Mam."
"Ya Mami pengin mendadak, belikan yah, suruh si Pardi itu supir kamu."
Ujar Mami.
"Yang langsung di Bogor lho belinya."
Pesan Mami.
"Iya... iya... Albar juga paham kalau Mami yang minta pasti banyak syaratnya."
Mendengar Albar mengomel Mami jadi cekikikan.
"Kasih itu si Pardi lima ratus ribu juga udah seneng."
Kata Mami pula.
"Iya nanti Albar bilang ke Pardi."
"Oke sayang, see u tomorrow."
Mami lalu menutup telfonnya. Albar geleng-geleng kepala.
__ADS_1
**-----------**