
"Jadi Aqis sudah punya tempat tinggal?
Tanya Flo pada Balqis yang setelah makan memisahkan diri dari yang lain, mereka duduk sambil memandangi langit Jakarta yang hari ini untungnya tak mencurahkan air hujan.
"Kami tinggal di tempat saudara Bosnya Bang Zul, tapi mungkin Aqis hanya akan tinggal satu tahun saja Kak, setelah itu akan cari tempat yang lebih dekat dengan kampus."
Ujar Balqis.
Flo tersenyum.
"Maaf ya Qis."
Kata Flo akhirnya seraya menatap gadis cantik yang duduk di dekatnya.
Balqis menatap Flo sejenak lalu memaksakan satu senyuman kecil.
"Maaf untuk apa Kak Flo? Kak Flo tidak melakukan kesalahan apa-apa."
Kata Balqis.
"Harusnya Aqis yang minta maaf pada Kak Flo karena nomor Kak Flo jadi Aqis blokir juga."
Lanjut Balqis.
Flo mengangguk.
"Ya, terus terang Kak Flo kaget kamu melakukannya Qis, tapi Kak Flo mengerti semua pasti sangat berat untukmu."
Ujar Flo.
Balqis terlihat menatap langit lagi, matanya yang terasa akan mengeluarkan air mata lagi dipaksanya ditahan agar tak sampai menetes.
"Lebih kaget lagi begitu Pardi bilang ada laki-laki mengantar tas pakaian dan kami buka ternyata uang titipan dari kamu."
Kata Flo lagi.
Balqis terlihat mengangguk.
"Aqis tidak mau berhutang banyak pada Albar."
Tergetar suara Balqis menyebut nama Albar, hatinya jelas nyata-nyata masih menyimpan nama itu dengan baik.
Flo terdiam, ingin rasanya Flo memberitahu Balqis jika Albar juga hari ini kembali ke Indonesia.
Haruskah? Tak apakah? Flo sungguh ingin memberitahu, tapi ia takut salah lagi.
"Uang itu masih utuh Qis, Albar tak mau menerimanya, Kak Flo juga tak mau memakainya, itu harusnya sudah jadi hak Aqis."
Kata Flo.
Balqis terdiam, ia memilih menatap ke arah lain, ia rasanya makin ingin menangis lagi.
Flo meraih tangan Balqis, lalu bicara dengan suara lembut,
"Qis, anggaplah Kak Flo sebagai kakak sendiri, jika ada apa-apa selama di Jakarta, bicaralah pada Kak Flo, mengerti?"
Balqis kemudian memandangi tangannya yang ada pada genggaman tangan Flo.
**-----------**
Waktu sudah hampir jam sepuluh malam saat akhirnya Bang Zul mengantar adik-adiknya pulang.
"Bang Zul langsung ke Pejaten ya, ngembaliin mobil ngga enak."
Kata Bang Zul.
"Siap Bang."
Sahut Po sambil turun dari mobil.
__ADS_1
"Makasih Bang."
"Makasih Bang Zul."
Eti, Dinda dan Balqis juga turun dari mobil seraya mengucapkan terimakasih.
"Telfon Bang Zul kalau ada apa-apa atau perlu apa."
Pesan Bang Zul.
"Iyaaaaa."
Sahut Po lagi.
Bang Zul melambai ke arah mereka, lalu melesat pergi dengan mobilnya.
"Aduuh aku kenyang banget, steak di tempat Kak Flo enak bangeeeet."
Kata Eti.
"Jiaaah kayak pernah makan steak di tempat lain saja."
Seloroh Po seraya membuka gembok pagar rumah.
"Huuu emangnya kamu makan ngga jauh-jauh gorengan bakwan."
Kata Eti.
"Enak weeee..."
Po melet.
"Sudah ikh, ayo masuk udah malam juga."
Dinda melerai dua larva merang dan kuning itu.
Po dan Eti cekikikan sambil membuka pagar lalu bersama-sama masuk.
Kata Po pada Balqis yang berjalan paling belakang.
"Enggak usah lah, repot malah kalau ada apa-apa kita mau larinya."
Kata Balqis.
"Ah iya juga."
Kata Po.
"Hah dasar pentium dua."
Eti menarik jilbab Po.
Po kemudian membuka kunci pintu utama rumah, dan semu masuk ke dalam.
"Kak Flo baik banget ya, trus sekarang jadi lebih cantik karena rambutnya agak panjang, trus dia tuh ngga sombong ya, padahal sukses banget."
Eti tampak tak henti-hentinya memuji Flo sejak tadi meninggalkan cafe.
"Lha dia kan memang enggak sombong dari dulu."
Kata Dinda.
"Ah iya juga sih."
Eti mantuk-mantuk.
Balqis tersenyum mendengarnya.
"Sholat isya dulu ah."
__ADS_1
Ujar Balqis sambil ngeloyor ke arah kamar untuk menyimpan tas selempangnya dan kemudian keluar lagi membawa baju ganti lalu pergi ke kamar mandi.
Saat Balqis masuk ke kamar mandi, Dinda gantian menuju kamar untuk ganti baju, saat Eti dan Po terdengar kasak-kusuk.
"Habis ketemu Kak Flo, jangan-jangan Aqis nanti ketemu Albar."
"Iya aku juga mikir gitu."
Dua anak itu membicarakan Balqis.
Dinda menghela nafas.
Sebetulnya Dinda juga memikirkan hal yang sama, tapi Dinda jelas tak mau mengungkapkannya, ia sangat mengerti jika hati Balqis masih sangat rapuh.
Dinda tak mau Balqis akan terganggu semangat kuliahnya, bagaimanapun inilah impian terbesarnya sejak kecil, bisa masuk UI untuk nantinya bisa menjadi Guru yang ilmunya bermanfaat bagi orang banyak.
**-----------**
Pagi harinya, Flo meninggalkan apartemennya pagi-pagi sekali menuju rumah Albar menggunakan taksi karena Pardi menginap di rumah Albar sejak menjemput Albar kemarin sore.
Di perempatan taksi Flo yang akan belok ke arah kiri di salip pengendara motor, karena posisi pengendara motor itu terlalu dekat, akhirnya menyenggol badan taksi dan motor itu terjungkal.
Taksi yang ditumpangi Flo berhenti mendadak, beberapa pengendara motor lain berhenti dan membantu pengendara motor yang tadi jatuh.
Supir taksi yang ditumpangi Flo turun, begitu juga dengan Flo.
Terlihat pengendara motor yang tadi jatuh bangun dan sedikit terpincang berjalan menepi, motornya terlihat sudah lebih dulu diamankan orang-orang yang menolongnya.
"Kalau nyetir hati-hati dong Pak, kita para pengguna motor juga punya hak di jalan raya."
"Iya nih, taksi suka pada ugal-ugalan sekarang."
Semua malah jadi menyalahkan bapak supir taksi yang sudah paruh baya.
Supir taksi terlihat bingung meladeni amarah orang-orang.
"Sudah, saya yang akan ganti rugi kalau memang harus dibawa ke Rumah Sakit, saya pastikan kalau bapak ini tidak ugal-ugalan bawa taksinya, saya penumpangnya."
Kata Flo.
Pemuda yang kakinya terlihat sedikit berdarah itu melepas helm nya, ia cukup tampan.
Ia kemudian menengahi.
"Terimakasih semuanya, saya tidak apa-apa kok, benar Nona ini, kalau Pak supir taksi tidak ugal-ugalan, saya yang salah menyalip di tikungan, saya sedang buru-buru karena dikabari anak sakit, maaf, maaf."
Pemuda itu membungkukkan badannya.
Ah anak, terlihat masih muda sekali tapi ternyata sudah punya anak. Batin Flo.
Setelah pemuda itu menjelaskan, semua orang bubar satu persatu.
Pemuda itu naik ke motornya, lalu permisi pada Flo dan pak supir taksi.
Pemuda yang sepertinya kakinya terluka itu membawa motornya menjauh, Flo pun masuk ke dalam taksi lagi.
Pak Supir taksi juga sudah akan bersiap masuk ke dalam taksi, tatkala tanpa sengaja ia melihat dompet yang tergeletak di jalan.
Pak supir taksi bergegas menuju tengah jalan di mana dompet itu tergeletak, ia mengambilnya, tampaknya milik pemuda tadi yang jatuh.
Supir taksi masuk ke dalam taksi dan menunjukkan dompet yang ia temukan pada Flo.
"Sepertinya milik orang tadi Non, saya kejar dulu ya."
Pak supir minta ijin, Flo meraih dompet di tangan pak supir dan memeriksanya.
Ada KTP, SiM, STNK, dan uang dua ratus ribu. Flo tercekat.
Di hari seperti ini ada dompet hanya berisi uang dua ratus ribu. Flo begitu prihatin.
__ADS_1
**----------**