Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
52. Masa Lalu Yang Tersimpan Rapi


__ADS_3

"Apa kira-kira jawaban Balqis besok?"


Tanya Albar pada Flo.


Mereka baru saja keluar dari pemakaman Aki.


Flo minta diantar ke makam Aki untuk mengirim doa dan tabur bunga.


Flo baru akan bicara ketika hp nya memanggil-manggil.


Cepat Flo meraih hp miliknya dari tas kecil model cowok yang dia bawa.


Ya' sudah dijelaskan sejak awal, Flo ini meskipun perempuan tapi gayanya laki banget. Bukan hanya potongan rambutnya yang pendek, tapi juga pakaian dan semua aksesoris juga yang ia pakai semua yang dipakai para cowok.


Ya kira-kira kalau ingin bayangin macam apa itu Flo, bayangin Mitha The Virgin jaman dulu meeen...


(Njut lanjut, ngga lanjut benjut)


Flo melihat siapa yang menelfon, dan ternyata itu Mami Albar, alias Bu Dhe nya Flo karena Mami nya Albar adalah kakaknya Mami nya Flo.


"Sini aku yang angkat."


Kata Albar yang tiba-tiba jadi ingat soal kasus adopsi Balqis yang mana Papi nya ikut campur dan bahkan urusan keuangan semua Papi yang urus.


"Flo."


Terdengar suara Mami Albar dari seberang sana.


"Mam, ini Al."


Kata Albar.


"Ah kau ternyata, bagaimana kabarmu sayang?"


Tanya Mami.


"Jelas saja kabarku buruk Mam, orang yang punya rumah di mana aku menumpang meninggal."


Mami seperti menghela nafas.


"Ya, Mami baru baca pesan kalian. Hp mu dihubungi tidak bisa."


Kata Mami.


"Albar ngga bawa hp."


Sahut Albar.


Sungguh terlalu, pesan anaknya baru dibuka selang sehari. Batin Albar kesal.


"Mami sudah pesankan bunga ucapan berduka cita, Mami pilihkan yang terbaik, termahal, tercetar, terheboh."


Kata Mami bangga.


Haiiish... Apa gunanya bunga papan begitu, dibuang doang yang ada. Batin Albar tambah kesal.


"Harusnya ngga usah pesen begituan Mam, ngga penting itu, mendingan berupa uang bisa buat kasih suguhan orang ngaji malam sama pagi."


Kata Albar.


Sejenak Mami terdiam.


Jauh di Jakarta, Mami yang sedang santai di dekat kolam renang rumahnya yang telah begitu lama ia tinggalkan begitu terkejut dengan kata-kata Albar.


"Waaw emejing, ini benar anak Mami?"


Tanya Mami yang amat sangat terkejut mendapati sang putra tiba-tiba jadi bijaksana bijaksini.


"Iya Mam, banyak warga yang datang ke rumah Aki untuk mengaji malam, saat pagi ada empat orang, khatamin Qur'an buat Aki."


"Ooo... Jadi bunga dukacita tak terpakai?"


Tanya Mami.


"Ya jelaslah Mami, itu buat apa, yang ada kalo di taruh di makam bisa ngerobohin yang pada ngaji."


Kata Albar.


"Aduh, tapi Mami sudah pesan."


Gumam Maminya.


"Ya udahlah cancel saja, uangnya ngga usah diminta lagi, biarin."


Kata Albar.

__ADS_1


"Hmm iya deh."


Sahut Mami.


"Memangnya Mami ngga sempetin ke sini? Kan Mami yang harusnya lebih kenal Aki?"


Albar heran dengan Maminya.


Mami menghela nafas.


"Albar, kamu tahu ngga? Ini Mami pulang saja bukan buat leha-leha. Mami akan ikut hadis rapat umum pemegang saham di Alpha Centauri, meskipun Mami sahamnya masih belum sampai lima persen tapi itu juga kan sumber uang jajanmu."


Kata Mami.


Albar menghela nafas.


Duit melulu Maminya nih. Batin Albar.


(Kan kamu yang habisin Bar


Othor nimbrung mode on)


"Nanti Mami transfer ke rekening kamu, kasihkan ke siapa yang ngurusin pengajian di rumah Aki."


Kata Mami Albar.


"Nanti Albar talangin dulu, mau ngasih berapa Mam?"


Tanya Albar.


"Seratus juta cukup kan buat pengajian di kampung? Cukup lah ya kayaknya."


Kata Mami.


"Seratus juta? Pelit banget sih Mam."


Kesal Albar.


"Oh kurang ya? Berapa jadinya? Satu milyar?"


Tanya Mami.


Albar menatap Flo.


"Apa? Kenapa natap gue?"


"Mami mau nyumbang pengajian cuma seratus juta buat Aki, gimana?"


Tanya Albar.


"Jiaaah Mami kamu mah emang pelit, masa nyumbang harga sepatu dia."


Flo malah mengompori.


Albar mengangguk setuju.


"Nanti Albar ke kota dulu Mam, ambil uang."


Kata Albar.


"Eh mendingan minta nomor rekening Wa Icih lah, biar dia yang kelola sendiri, repotlah kita ke kota segala, lagian katanya kamu udah mulai banyak yang ngenalin, kalo muncul lagi bisa diburu wartawan."


Kata Flo.


"Ah iya, bener, ya udah."


Albar mantuk-mantuk.


"Ya udah, Mami kasih dua ratus juta, nanti sampein ke yang ngurus pengajian Aki, Mami ngga bisa dateng, soalnya akan ada rapat besar, juga akan menghadiri jamuan makan malam dengan para petinggi Alpha Centauri, dan juga pembukaan hotelnya Tuan Zion."


Kata Mami.


"Iya Mam, iya..."


Sahut Albar.


"Ya udah Mami mau renang sebentar nih, mumpung masih pagi, itu si asisten Rumah Tangga juga disuruh bikin jus lama amat, jeruknya metik dulu apa bagaimana."


Mami ngedumel tak jelas.


"Ah Mam, sebentar, mumpung Mami telfon."


Kata Albar menahan Maminya menutup telfonnya.


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Mami.


"Mam, pernah dengar nama Pak Nurdin ngga Mam? Mungkin dia teman Papi atau semacamnya?"


Tanya Albar.


Mami terdiam, mungkin sedang berpikir, lalu...


"Nurdin, sepertinya Mami belum pernah dengar Papi mu punya teman namanya Nurdin. Ada juga Mister Daniel pengusaha otomotif, Pak Riyan yang pengacara itu, lalu ada lagi yang dulu suka balap sama Papi di Sentul tuh namanya kalau tidak salah Rezza."


"Papi balap?"


Albar malah baru tahu Papinya hobi balap.


"Ya dulu, jaman kamu masih sekunyit."


Kata Mami.


Albar terdiam.


"Lalu kenapa Papi ngga balap lagi Mam?"


Tanya Albar.


"Sejak sahabatnya itu meninggal kecelakaan, mereka di mobil yang sama, sepertinya Papi trauma."


Cerita Mami.


"Waktu itu Mami sedang ada di Korea sama kamu dan keluarga Flo, pas dikabarin itu Mami pulang, Papi kondisinya sudah baik."


Kata Mami.


"Kalau Tuan Rezza meninggal, dia yang bawa mobil, sama korban lainnya sepasang suami isteri yang mobilnya di tabrak mobil Tuan Reza. Tapi itu Mami ngga tahu urusannya, kan itu tanggungjawab keluarga Tuan Rezza."


Lanjut Mami.


Albar mantuk-mantuk.


"Gitu ya..."


"Kenapa sih, tiba-tiba nanya nama Nurdin?"


Mami jadi balik bertanya karena penasaran.


"Ngga apa Mam, tadinya Albar pikir itu teman Papi."


"Hmm... Kamu ini, halu apa bagaimana, ya sudah Mami mau berenang, nanti keburu siang."


Kata Mami.


"Ya Mam."


Telfon ditutup.


Albar memberikan hp Flo pada sepupu sekaligus manajernya itu.


"Flo, kita jumpa pers kapan?"


Tanya Albar.


"Lusa."


Kata Flo.


Albar menghela nafas.


"Aku mau cari seseorang, ada yang bisa kita mintai tolong ngga?"


"Nyari siapa?"


"Nurdin, nanti aku kasih alamat lamanya."


Kata Albar.


"Ya nanti aku minta orang bantu. Butuh cepet?"


Tanya Flo.


"Mulai hari ini bisa ngga?"


"Ya nanti aku coba hubungi."


Kata Flo.


Albar mantuk-mantuk.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2