
Area pemakaman terlihat begitu tenang, angin berhembus membuat beberapa bunga kamboja terjatuh ke tanah.
Albar terduduk lemas di tanah dekat dua pusara dengan nisan yang sudah berdebu dan tulisannya mulai tidak jelas.
Albar menangis tak henti-henti, menelungkup di atas pusara yang sudah diberi keramik warna biru.
"Aku yang menyebabkan semuanya... aku yang menyebabkan semuanya... jadi sekarang bagaimana? maafkan aku... maafkan aku..."
Albar menangis di atas pusara Pak Nurdin.
Flo yang biasanya hatinya sekuat baja kini pun tak kuasa menatap saudara sepupunya ambruk sepenuhnya.
Flo menyeka air matanya, memilih menjauh dan berdiri bersandar pada bunga kamboja yang bunganya berguguran karena angin bertiup lebih kencang.
Laki-laki sang keponakan Wak Ramli yang mengantar juga memilih menjauh dari Albar dan pusara Uwak nya, sepertinya memberikan waktu untuk Albar sendirian di sana adalah yang paling tepat untuk saat ini.
Albar menatap nanar nisan Ayah kandung Balqis, hatinya luluh lantak rasanya sekarang, terbayang wajah Balqis di sana membuat tubuh Albar seolah tergetar hebat.
Entah takdir apa yang membuat mereka harus bertemu dan saling mencintai, sedangkan Albar lah yang menjadi penyebab kematian kedua orangtua Balqis, yang membuat Balqis harus jadi yatim piatu sejak bayi.
Albar hancur lebur. Tak kuasa kini ia menatap masa depannya sendiri. Sungguh... Albar tak sanggup lagi.
**------------**
Mami Albar mondar-mandir di rumah Albar dengan panik.
Sudah sekian lama ia berusaha menyembunyikan semuanya, haruskah sekarang semua terbuka?
Bagaimana jika Albar terguncang lagi? Bagaimana jika ia kembali merasa trauma berat lagi?
Mami terduduk lemas di atas sofa setelah entah berapa puluh kali mondar-mandir dan entah berapa puluh kali mencoba menghubungi Flo serta Albar.
Asisten Rumah Tangga rumah Albar kembali membawakan satu gelas air putih ke ruangan di mana Mami Albar menunggu sang putra pulang.
Kemana Albar dan Flo? ke mana mereka sebetulnya. Mami Albar sungguh begitu mencemaskan putranya.
Yah...
Mami selama ini selalu cerita Albar pernah kecelakaan ringan di usia remajanya, Mami cerita jika Papi mengalami kecelakaan karena hobi balap dan bersama temannya.
Semua jelas Mami lakukan agar Albar tak perlu lagi mencari tahu yang sebenarnya.
Butuh banyak sekali waktu untuk Albar sembuh, dan tentu saja Mami tak ingin Albar harus melewati masa sulitnya kembali.
Mami menangis di sofa, ketakutannya akan masa sulit Albar yang mungkin akan terulang begitu menyiksanya sekarang.
Bayangan saat Albar dulu bertahun-tahun selalu histeris setiap kali melihat mobil, histeris saat berada di jalanan, membuat Mami begitu tersayat hati.
Mami takut Albar akan kembali kesulitan hidup sebagai orang normal, ia akan kembali mengunci diri di dalam kamar dan menjauhi banyak orang.
Ah sayang, di mana kamu nak? Mami menangis.
__ADS_1
**------------**
"Qis, jadi beneran itu yang jemput kamu ke sekolah dulu pake Fortuner teh si Albar Harrys?"
"Kok kamu ngga kasih tahu kita sih Qis?"
"Qis mintain fotonya yang terbaru dong Qis."
"Kamu nanti berarti bakal nikah sama Albar setelah lulus yah Qis?"
"Qis, kamu udah lihat rumah aslinya Albar belum Qis? Mau dong lihat rumahnya Qis?"
"Balqis, Albar tuh punya adik atau kakak ngga sih, dia low profil banget."
Heboh teman-teman Balqis begitu berita jumpa pers Albar bergulir.
Mereka menggeruduk media sosial Balqis, semua media sosial milik Balqis.
"Ya Allah, belum apa-apa sudah begini, bagaimana ini?"
Balqis menatap ketiga temannya dengan galau.
"Hmm kayaknya kamu harus siap-siap jadi seleb dadakan Qis, jangan-jangan nanti kamu juga diburu wartawan."
Seloroh Eti membuat Balqis tambah ketakutan.
Dinda merangkul bahu Balqis.
"Jangan khawatir Qis, ngga usah terlalu nanggepin pertanyaan mereka dan permintaan mereka, kamu bilang saja itu urusan Albar."
Balqis mengangguk.
"Dari awal aslinya semua juga sudah curiga dia Albar, tapi karena Aki yang bilang dia bukan Albar jadi pada percaya, sekarang udah pada tahu dan dia nyebut nama kamu di jumpa pers ya jelas lah langsung heboh."
Ujar Eti.
"Ngerinya kalau ternyata kalian putus ya."
Kata Po tiba-tiba, membuat Eti dan Dinda jelas saja langsung mendelik ke arahnya.
"Poooo..."
Keduanya langsung narik ujung jilbab Po yang menyadari salah bicara.
Balqis tampak memaksakan satu senyuman.
Yah, yang Balqis takutkan dulu, saat Albar pura-pura mereka dijodohkan, Balqis takut Albar kembali ke Jakarta dan menghilang begitu saja.
Sementara semua orang sudah tahu, semua laki-laki termasuk Bang Adit sudah menjauh, ternyata Balqis akhirnya ditinggalkan.
"Ngga mungkin lah kalian putus Qis, udah keliatan kalau Albar bucin gitu kok."
__ADS_1
Eti menghibur Balqis.
Balqis kembali memaksakan satu senyuman tipis.
"Maaf Qis, aku salah bicara."
Kata Po jadi benar-benar tak enak hati.
"Ngga apa Po, memang aku juga sebetulnya takut suatu hari akan jatuh kalau terlalu dilambungkan tinggi, bagaimanapun aku tetap sadar diri akan posisiku."
Kata Balqis.
Eti dan Dinda saling berpandangan sebentar, keduanya merasa jadi ikut tak enak hati.
Mereka memeluk Balqis.
"Kami akan selalu bersamamu Qis, apapun yang terjadi kami akan jadi saudara yang baik untukmu. Semoga semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu Aqis."
Ujar mereka kompak.
Balqis menitikkan air mata.
Tentu saja tak ada yang lebih membahagiakan dari seorang manusia tatkala mendapatkan curahan cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat.
Berteman dan bersahabat lebih dari tujuh tahun dengan mereka membuat Balqis menganggap Dinda, Eti dan Po sudah jadi bagian dari hidupnya.
Mereka bukan hanya sekedar teman, namun juga saudara, keluarga.
Sementara itu, jauh di sana. Di salah satu pemakaman umum di kota jakarta, Albar kini dipaksa berdiri oleh Flo karena telah berjam-jam menangis di pusara kedua orangtua Balqis.
Hari sebentar lagi telah senja, Mami Albar sudah mengirimkan pesan berpuluh kali jika ia tak akan terbang ke Perth sebelum Albar pulang.
"Kita pulang Bar, Mami menunggu sejak siang."
Kata Flo.
Albar yang seperti orang linglung terhuyung dirangkul Flo berjalan menjauhi area pemakaman.
Pardi telah siap di depan gang terdekat karena Flo sengaja menyuruhnya datang agar tak banyak orang yang akan mengganggu Albar.
Namun, tentu saja tak semuanya bisa berjalan sesuai rencana.
Adanya Albar di sana sudah barang tentu menjadi berita hangat yang bukan hanya memancing banyak orang di kampung itu berduyun-duyun datang, namun juga ada wartawan yang meliput kedatangan Albar diam-diam ke makam tersebut.
Flo berusaha melindungi Albar dari jepretan kamera wartawan maupun juga dari ponsel para warga.
Meski Flo tahu itu tak akan bisa sepenuhnya dihindari namun setidaknya wajah Albar yang sudah basah kuyup karena air mata tak sampai terlihat jelas.
Yah...
Sepertinya, idol itu harus kembali bersembunyi.
__ADS_1
Bersembunyi dalam waktu yang akan sangat lama.
**-----------**