
Pagi-pagi sekali rumah Albar sudah ramai, bukan hanya karena semua penghuni rumahnya sudah bangun dan sibuk, namun juga karena Flo sudah datang sejak sebelum subuh.
Sementara Balqis dan teman-temannya heboh di dapur membuat sarapan, Flo berada di kamar Albar untuk mengobrol sebentar sebelum saudaranya itu kembali ke Perth.
"Kau harus sering ke sini Flo, biar Balqis merasa nyaman."
Ujar Albar yang terlihat memakai jaketnya.
Flo yang duduk di sofa kamar Albar tampak mengangguk.
"Tenang saja, aku sesekali akan menginap di sini juga, aku akan pakai kamarmu."
Ujar Flo.
Albar mengangguk.
"Pakai saja."
Sahut Albar.
"Trus kapan rencanamu pulang ke Indonesia lagi?"
Tanya Flo.
Albar menghampiri sofa di mana Flo duduk. Albar membawa sepatu dan kemudian sibuk memakai sepatunya di sana.
"Setelah aku mengantongi ijin Mami menikahi Balqis."
Kata Albar.
"Meskipun kau belum wisuda?"
Tanya Flo.
Albar mengangguk.
"Mau kerja apa kau menikahi anak orang masih kuliah."
Ujar Flo.
"Sialan, tabunganku saat kerja denganmu masih lebih dari cukup."
Flo yang mendengarnya tertawa.
"Balqis sendiri? Memangnya dia bersedia? Dia punya cita-cita ingin jadi Guru, kalau menikah pasti ia akan sedikit terganggu untuk benar-benar fokus belajar."
Kata Flo lagi.
"Aku akan tetap ijinkan dia kuliah, aku akan dukung dia jadi apapun yang dia mau. Aku ingin jadi laki-laki yang tidak membatasi ruang gerak isteri yang ingin meraih cita-citanya, apalagi jika itu cita-cita mulia seperti Balqis. Memiliki ilmu yang bermanfaat untuk banyak orang, aku pasti mendukungnya Flo."
Kata Albar.
Flo mengangguk sambil bersandar.
"Yah, laki-laki memang harusnya begitu, lagipula hidup di jaman sekarang, perempuan sudah seharusnya mandiri juga, bukan masalah apa-apa, tapi aku rasa kita terlalu menutup mata saja dengan realita yang ada, tak semua laki-laki mampu meninggalkan warisan yang banyak saat ia mati, sementara jika perempuan tak biasa mandiri, ia hanya akan jadi perempuan pengeluh dan cengeng saja, korbannya tentu anak-anak."
Albar terdiam.
"Kau tahu kenapa kebanyakan karyawanku di bagian belakang adalah janda?"
Albar menatap Flo.
"Aku ingin perempuan lebih kuat, terutama mereka yang sendirian, cari uang dengan kemampuan sendiri, jangan halu dapat laki-laki kaya, lebih baik capek sendiri. Ah aku benci melihat banyak janda akhirnya menyerah pada nasib mereka dengan jadi mainan laki-laki bajingan hanya karena butuh menempel untuk memenuhi kebutuhan."
Kata Flo.
Albar mengangguk.
"Kalau sedang begini, kau persis Mami."
__ADS_1
Kata Albar.
Flo tertawa.
"Tentu saja, Mami kamu, Mami aku, dan aku, untuk hal ini kami sangat sependapat. Tak ada yang salah dengan perempuan mandiri, yang salah adalah saat ia mulai merasa berhak menindas laki-laki, tapi kalau laki-lakinya layak ditindas tak apalah, hahahaha..."
Flo tertawa.
"Haiiish, dasar gila kamu mah."
Albar berdiri dari duduknya.
"Kamu sudah ketemu Balqis?"
Tanya Albar.
"Aku tadi datang dia sudah bangun, sudah sibuk bebenah, aku bilangin, kamu ini calon Nyonya di sini, ngapain ngerjain kerjaan Bi Tuti, lalu kamu tahu nggak dia jawab apa?"
Flo ikut berdiri lalu membantu Albar membawa satu kantong berisi beberapa kotak kue unyil pesanan Maminya.
"Apa?"
Tanya Albar.
"Bi Tuti kan asisten rumah, harusnya dia dikasih tugas saja, bukan semuanya dikerjakan dia, kalau semua dia kerjakan dia bukan lagi kerja di sini, tapi budak."
Albar melongo.
"What? Budak?"
Albar geleng-geleng kepala.
Flo tertawa.
"Calon istrimu tidak tahu jika Bi Tuti sebulan kamu kasih delapan juta untuk gajiannya, belum uang makannya. Hahahaha..."
Albar hanya garuk kepalanya lalu memakai topinya.
Sejenak Albar dan Balqis saling memandang.
Mengerti situasi dan kondisinya tak memungkinkan Flo tetap berada di sana, maka Flo permisi pada keduanya untuk turun lebih dulu.
Flo mengambil alih koper pakaian Albar untuk ia bawa lebih dulu ke lantai bawah agar bisa ia minta Pardi masukkan ke dalam mobil.
"Bal."
Albar berjalan mendekati Balqis.
Bingung dan canggung keduanya kini berhadapan.
"Ngg... Aku akan segera berangkat, kamu baik-baik saja ya selama aku nggak ada."
Albar akhirnya membuka suara.
Balqis mengangguk pelan.
Matanya mulai kembali berkaca-kaca.
"Boleh aku memelukmu sebentar? Hanya sebentar, hanya memeluk, tak lebih."
Kata Albar bingung.
Di lain sisi ia tahu itu tidak boleh, tapi di sisi lain ia sungguh tak sanggup melihat Balqis mulai akan menangis. Lagipula ia juga sebetulnya sangat berat harus pergi sekarang.
Balqis membawa satu langkahnya lebih dekat dengan Albar seolah jawaban atas pertanyaan Albar.
"Ku mohon, makan yang teratur, jangan terlalu lelah, jangan sering bersedih, jika akan ke makam orangtua minta antar Pardi dan ditemani Dinda, jangan tidur terlalu larut, kuliah yang baik."
Kata Albar sambil merengkuh Balqis yang kini menangis di dadanya.
__ADS_1
"Aku janji akan segera kembali, aku akan sukses untuk membahagiakanmu Bal."
Kata Albar lirih.
(Hmm... kamu belum sukses yah Bar? Othor lewat dong)
Balqis tampak mengangguk pelan dalam pelukan Albar.
(Hanya dua menit, cukup, jangan lebih, berat, nanti setan nimbrung.)
Ya, hanya dua menit, pelukan keduanya akhirnya terlepas, Albar pelahan menyeka air mata di pipi Balqis.
"Kamu juga Bar, makan yang cukup, jangan begadang, jangan ikut pergaulan yang tidak baik, jangan lupa hidup seimbang dengan jangan tinggalkan ibadah. Jika hari ini kita belum sempurna menjadi orang baik, paling tidak dengan ibadah hati kita tidak terlalu jauh dari Allah, hingga suatu hari saat kita ingin kembali akan lebih mudah menemukan jalan."
Pesan Balqis.
Albar mengangguk.
"Iya sayang, aku tak akan melupakan ibadah demi kamu."
Balqis menggeleng.
"Jangan lakukan kebaikan demi seorang mahluk, tapi demi yang menciptakan mahluk."
Kata Balqis pula.
Albar tersenyum.
"Ya Bal, aku akan ingat itu."
Balqis balas tersenyum mendengar jawaban Albar.
Hingga Balqis tiba-tiba ingat yang semalam telah ia siapkan untuk Albar.
"Bar, tunggu sebentar."
Kata Balqis.
"Ada apa?"
Tanya Albar.
Balqis sedikit berlari menuju kamarnya, ia menuju meja belajarnya dan mengambil satu kotak yang dibungkus kertas biru yang cantik.
Balqis membawanya keluar dari kamar, dan kembali menghampiri Albar.
"Ini."
Balqis memberikan kotak itu pada Albar.
"Apa ini?"
Tanya Albar.
Balqis tersenyum malu-malu.
Wajahnya bersemu merah membuat Albar gemas tapi tak bisa apa-apa selain menatapnya.
"Bukanya nanti saja kalau sudah di pesawat."
Kata Balqis.
"Hadiah?"
Tanya Albar tersenyum.
Balqis hanya menatap Albar sambil masih dengan senyum malu-malunya
Ah manis sekali. Batin Albar.
__ADS_1
**-----------**