
Albar keluar dari kamar mandi tampak lebih segar. Sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk tampak Albar berjalan menuju lemari untuk memilih baju ganti, saat tak sengaja ia melihat gitar lamanya yang ada di Perth.
Albar sejenak menatap gitar yang ada di sudut ruangan dekat lemari bajunya, tiba-tiba ia jadi ingat gitar miliknya pula di Jakarta.
Albar menghela nafas, ia kembali menatap beberapa t'shirt yang tertata rapi di rak lemari bajunya.
Albar memilih warna putih kesukaannya, sesuai dengan kulitnya yang juga putih.
Albar memakai t'shirt nya, dan kemudian entah kenapa tiba-tiba ingin membuat menyanyikan sebuah lagu.
Yah...
Albar tahu jika keputusannya untuk akhirnya tiba-tiba keluar dari dunia hiburan pasti mengecewakan banyak pihak, ia juga sadar jika beban yang kini harus ditanggung Flo cukup berat untuk menguruskan semua pembatalan kontrak pekerjaan Albar.
Untungnya memang sejak isyu dengan model yang mengaku dihamili itu memang baru beberapa proyek pekerjaan saja yang masuk, jadi Albar bisa dibilang tak terlalu perlu kehilangan banyak uang untuk membayar denda atas pemutusan kontrak secara sepihaknya.
Dan Balqis...
Ah Albar menghela nafas, lalu ia berjalan ke sudut kamar untuk mengambil gitar lama miliknya.
Gitar yang telah lama ia tinggalkan dan tak ia pakai namun masih tetap terawat tentu karena banyak sekali pelayan yang bekerja di rumahnya di Perth ini.
Albar mengambil gitar itu, lalu ia mengambil kamera dari tas yang ia bawa dari Jakarta.
Kamera, gitar, laptop, lalu Albar meminta pelayan membuatkannya orange jus dan meat pie melalui alat komunikasi yang menghubungkan beberapa ruangan di dalam rumah ke dapur dan ruangan para pelayan rumah bila memerlukan sesuatu.
Setelah itu Albar tampak menuju set sofa di kamarnya, ia duduk di sana menghadap kamera yang ia nyalakan.
Albar akan merekam satu lagu untuk nantinya ia unggah di media sosialnya.
Ya cukup satu lagu, setidaknya ini akan membuatnya tak terlalu seperti seorang idol pecundang yang menghilang begitu saja.
Ah pecundang, Albar ingat saat tadi akan naik pesawat, ia mencoba menghubungi Balqis, ia ingin meminta maaf dan meminta waktu sebentar untuk menenangkan diri, memintanya menunggu sampai Albar siap menjelaskan semuanya.
Albar juga ingin memberi Balqis kabar ia akan ke Perth dan mengganti nomornya sementara waktu agar tak ada yang mengganggu, ia akan memberitahu nomor barunya pada Balqis saja dan juga hanya pada Flo.
Tapi, Balqis tak mengangkat telfonnya, entah ke mana dia? Atau mungkin ia sebetulnya tahu Albar menelfon namun sudah enggan mengangkat telfon Albar karena terlanjur melihat berita tentang dirinya.
Ah entahlah...
Nyatanya, semalaman Albar memang tak bisa tidur karena memikirkan Balqis.
Perkataan Flo padanya jika ia merasa bersalah seharusnya menebusnya dengan membahagiakan Balqis begitu mengganggu pikiran Albar saat malam sebelum ia pulang ke Perth.
Semakin Albar mengingat kalimat Flo itu semakin membuat Albar sadar jika ia pergi sepenuhnya mungkin akan berakhir dengan perasaan lebih bersalah lagi pada Balqis.
Albar terus memikirkannya, hingga akhirnya begitu akan naik pesawat barulah ia memutuskan menghubungi Balqis, tapi sayangnya Balqis tak mengangkat telfonnya.
Albar menghela nafas, ia kemudian meraih gitarnya, sejenak mencoba menyetel kunci gitarnya, baru kemudian setelah memastikan setelannya sesuai yang ia inginkan, Albar menyalakan kameranya.
Albar memilih sebuah lagu lawas yang tiba-tiba ia ingin nyanyikan untuk kemudian ia unggah di media sosialnya.
Persembahan untuk para fansnya, dan juga harapannya Balqis akan melihatnya.
...🎶Seringkali bertanya...
...Saat bahagia hadir ...
__ADS_1
...Akankah ada akhir...
...Akankah tuk selamanya...
...Seringkali bertanya...
...Adilkah hidup ini...
...Kala Sedih melanda...
...Meruntuhkan rasa di jiwa...
...Tak mudah untuk di hati...
...Saat harus mengucap...
...SELAMAT TINGGAL...
...Segala tentang cinta...
...Buat hati terlena...
...Membawa kedamaian...
...Menyejukkan dunia...
...Segala tentang sesal ...
...Membuat hati kecewa...
...Membawa air mata...
...Meruntuhkan rasa di jiwa...
...Tak mudah untuk di hati...
...Saat harus mengucap...
...SELAMAT TINGGAL...
...Kadang Ingin Jauh Berlari.....
...Bila diri bertemu REALITA...🎶...
Dan entah kenapa saat menyanyikan setiap lirik lagu milik Bang Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan itupun dada Albar terasa begitu sesak.
Matanya berkaca-kaca seolah melihat wajah Balqis di pelupuk matanya.
**----------**
Balqis pulang dijemput Teh Inggit, sesampainya di rumah Balqis disuruh Teh Inggit langsung istirahat sambil menunggu Teh Nurul datang membawa bubur.
Tadi saat akan jemput Balqis, Teh Inggit pesan pada Teh Nurul temannya untuk membelikan bubur untuk nanti dibawa ke rumah Balqis.
Balqis yang merasa Teh Inggit sudah seperti kakak sendiri sekarang tentu saja langsung menurutinya, Balqis masuk kamar, mengganti seragamnya dengan baju rumahan, baru kemudian rebahan di tempat tidur.
Balqis merasa tubuhnya begitu lelah, padahal ia tak habis melalukan apa-apa.
__ADS_1
Mungkin semua karena jiwanya yang lelah, jadi kelelahan itupun berimbas pada fisiknya pula.
Balqis baru meletakkan hp nya di atas bantal sebelah bantal yang ia pakai, tatkala satu pesan masuk dari nomor baru di aplikasi chatnya.
Balqis mengerutkan kening, ia membuka pesan masuk itu dan terlihat sebuah video.
Balqis mengklik video tersebut, dan tampak video Albar menyanyikan lagu selamat tinggal.
Balqis matanya kembali meremang, tangannya gemetar karena perasaannya campur aduk sekarang.
Benci yang terlanjur mengakar itu terasa sangat menyakitinya kali ini.
Albar, buat apa dia kirim video seperti ini setelah pergi tanpa kata-kata?
Dia sepertinya sungguh-sungguh merasa berhak mempermainkan perasaan orang lain.
Dia sepertinya tak memahami situasi dan kondisi Balqis dengan baik.
Setelah memutuskan pergi seenak sendiri, bukannya mencoba memberi penjelasan malah berencana menghilang, lalu kini dalam hitungan jam saja dia berubah lagi.
Dia sungguh tak bisa Balqis mengerti.
Sayang dan cinta macam apa jika ia sama sekali tak peduli dengan hati Balqis yang berulangkali ia hancurkan.
Apa dia tidak tahu jika semua kenyataan yang terjadi sangat melukai Balqis?
Apa dia tidak mengerti? Atau memang tidak peduli? Atau apa sebetulnya?
Balqis menyeka air matanya.
Ia sungguh benci harus menangis lagi untuk Albar.
Balqis memblokir nomor baru itu, mematikan hp nya dan digeletakkannya di atas meja saja.
Ah laptop dan hp itu dulu dibelikan Albar, Balqis tak mau memakainya lagi.
Sungut Balqis dengan dada yang begitu sesak dan panas.
Ia benci dengan hubungannya dan Albar yang jadi seperti ini.
Harusnya mereka tak perlu bertemu, ini terlalu menyakitkan untuk Balqis.
**----------**
"Terimakasih untuk dukungan kalian selama ini, banyak cinta untuk kalian semua para fans Albar Harrys, tetap semangat. Maafkan jika saya tak bisa menjadi idol yang pantas dibanggakan. Keputusan ini sungguh berat untuk saya, tapi mungkin memang untuk saat ini hanya inilah yang saya rasa terbaik untuk dilakukan."
"Sekali lagi terimakasih, terimakasih, terimakasih."
Albar menutup unggahan Videonya di media sosial pribadinya, berharap para fansnya bisa memahami apa yang telah menjadi keputusannya.
Yah...
Albar merasa tak pantas lagi menjadi idola dengan masa lalunya yang ternyata menjadi penyebab meninggalkan kedua orangtua Balqis.
Dan untuk Balqis...
Albar menatap hp nya, ia melihat tiba-tiba foto Balqis di aplikasi chatnya menghilang.
__ADS_1
Apa Balqis memblokirnya? Batin Albar.
**--------**