Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
87. Masih Terasa


__ADS_3

Hari berlalu, tahun berganti. Semua berjalan seperti biasa untuk Balqis.


Balqis tetap berusaha semangat sekolah, dan tetap menjalani kehidupannya secara normal bersama teman-temannya.


Meskipun tentu saja tak ada yang instan di dunia ini, termasuk juga proses melupakan dan memaafkan seseorang.


Balqis juga masih menutup diri dari cowok manapun, tidak untuk nama baru maupun juga untuk Bang Adit yang sejatinya jika Balqis mau membuka diri lagi maka dengan senang hati pasti akan masuk kembali dalam kehidupannya.


Tidak, Balqis memang sudah berencana untuk tidak kembali membuka hatinya lagi untuk siapapun hingga ia jelas diterima di Universitas impiannya.


Ya, apalagi jika bukan Universitas Indonesia, salah satu universitas terbaik yang dimiliki Negeri ini, yang menjadi wadah anak-anak berprestasi menimba ilmu yang lebih tinggi.


Dan kini, hari ini, Balqis akhirnya dinyatakan lolos seleksi masuk universitas impiannya tersebut.


Setelah lulus dengan nilai yang cukup tinggi, kini Balqis kembali mendapat kabar yang tak kalah baiknya, dan yang makin membuat Balqis semakin senang adalah Dinda juga masuk di universitas yang sama.


Sedangkan Eti dan Po yang nilainya cukup tiarap, akhirnya memilih mendaftar di kampus swasta di gelombang berikutnya.


"Aaaaaa... seneng banget ya Allah."


Balqis dan Dinda berpelukan untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka.


Po dan Eti sebagai sahabat juga tetap ikut berbahagia dengan kesuksesan keduanya.


"Eh nanti kita cari kos nya bareng ya."


Kata Po.


"Lha kalo kampusnya jauhan gimana?"


Tanya Dinda.


"Ngga apalah, kan nanti aku minta bawa motor sendiri."


Ujar Po.


"Iya aku juga nanti bawa motor sendiri saja."


Kata Eti.


"Aku kemarin iseng nyari di media sosial ada beberapa kos putri yang bagus dan harganya lumayan siring, kapan ya kita ke Jakarta enaknya."


Kata Balqis.


"Lusa saja hari Sabtu."

__ADS_1


Kata Po.


Eti mengangguk setuju.


"Bener tuh kata Po, kita ke sana hari sabtu."


Ujar Eti.


Balqis mantuk-mantuk.


"Naik bus aja kali ya, seru."


Ujar Po lagi.


"Ikh jangan kita kan baru ke Jakarta, mending naik travel, lebih aman."


Kata Dinda.


"Ah iya bener pake travel saja."


Sahut Balqis setuju dengan pemikiran Dinda.


"Aku nanti juga minta Bang Zul nyariin kos buat kita supaya ada alternatif. Kata Bang Zul kalo deket kontrakannya sih ada banyak, tapi ya lumayan jauh kan dari Depok, nanti kalian yang kuliah di UI bingung."


Ujar Po.


Kata Balqis yang sadar betul kondisinya yang tidak memungkinkan untuk terlalu banyak pengeluaran karena uang untuk kuliah yang ia kumpulkan sendiri selama ini tak akan cukup, itu juga nanti Balqis masih memakai uang hasil peternakan ayam Aki yang dikelola Bang Fajar.


Balqis sebetulnya merasa tak enak hati, namun setelah Balqis bicara pada Wak Icih tentang proses adopsi nya, Wak Icih ternyata tidak berubah sama sekali.


Ia tetap baik dan memperlakukan Balqis selayaknya benar cucu kandung Aki, bahkan untuk pemasukan dari ternak ayam dan telur juga Wak Icih menyerahkannya pada Balqis.


Satu-satunya yang Wak Icih ambil hanyalah rumah Aki yang ditempati Balqis, rumah itu digunakan Wak Icih untuk tinggal Inggit dan Navie, yang kelak mungkin akan ia bayari lalu dibagi pada ahli waris Aki yang lain.


Inilah memang kelebihan orang yang tahu ilmu agama dan juga menerapkannya dalam hidup, mereka tak serakah, dan juga tak lantas jadi gelap mata saat melihat harta milik saudara lain.


Balqis sungguh merasa beruntung berada di tengah mereka, dan satu kalimat yang Balqis akan terus ingat dari Wak Icih adalah,


"Hubungan saudara tak selalu soal hubungan darah, buat kami Aqis tetaplah cucu dari almarhum Aki dan anak dari Abah Mang Kus."


Begitulah saat satu tahun silam Balqis menyerahkan berkas proses adopsinya pada Wak Icih.


Ya, setahun lalu, tepat satu minggu setelah Balqis sempat masuk Rumah Sakit sebab masalah dengan Albar.


**----------**

__ADS_1


Albar melajukan mobilnya keluar dari pelataran Edith Cowan University. Satu tahun ini ia akhirnya memutuskan menuruti kemauan Maminya untuk kembali masuk kampus dan mempelajari bisnis manajemen yang sampat ia tinggalkan karena lebih tertarik menjadi idol.


Sejak kemudian Albar mendapatkan kenyataan pahit akan masa lalunya, Albar kehilangan semangatnya untuk meneruskan karir idolnya dan juga kemudian yang lebih menyakitkan adalah kehilangan cintanya.


Ketakutan akan membuat Balqis tak mau menerimanya membuat Albar merasa lebih baik lari menjauh, namun sikap itu justeru yang akhirnya menjadi sebab Balqis benar-benar tak mau menerimanya lagi.


Ah dan satu tahun itu berlalu dengan berat oleh Albar, ia sampai sekarang bahkan masih tak bisa melupakan gadis cantik yang nyatanya telah mencuri seluruh hatinya itu.


Entahlah, rasanya Albar bahkan tak tahu apakah ia akan bisa jatuh cinta lagi nantinya.


Bukan satu dua kali Mami berusaha mengenalkan Albar dengan anak-anak temannya, atau bahkan di kampus pun juga Albar kenal banyak gadis cantik lain, namun tak satupun dari mereka yang bisa menggantikan nama Balqis di hatinya.


Albar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tujuannya kali ini adalah Conca's Pizza Bar Cafe yang terletak di sekitar Victoria Park.


Albar hari ini ingin makan Chili Mussel favoritnya yang termasuk buatan Concas inilah yang paling lezat selama Albar makan.


Makanan yang sejatinya dari Italia itu memang cukup disukai Albar sejak dulu, cukup sulit sepertinya mencari di Indonesia, tapi makanan di Indonesia yang lebih beragam pilihan tentu saja menjadi kelebihan sendiri bagi penyuka jajan di luar rumah.


Sesampainya di Conca's dan memesan menu, Albar tampak sibuk berselancar dengan hp nya seraya duduk di kursi cafe yang letaknya cukup di sudut.


Albar senang duduk di sana karena tak harus terlalu terganggu dengan orang yang lewat saat nanti cafe ramai pengunjung.


Albar menghela nafas, melihat status beberapa temannya, termasuk juga status Flo di media chat nya.


[Samua berlalu dalan satu tahun seperti mimpi]


Tulis Flo.


Albar baru akan mengomentari status Flo manakala ia melihat dua gadis masuk ke dalam Concas.


Dua gadis itu yang satu dari Asia dan yang satu sepertinya warga Australia juga.


Gadis Asia itu sepertinya jika bukan dari Indonesia maka ia dari Malaysia atau Brunei. Ia memakai jilbab seperti Balqis biasa pakai.


Kedua gadis itu memilih tempat duduk tak jauh dari tempat Albar, keduanya bahkan sempat menoleh pada Albar yang memperhatikan keduanya karena teringat akan sosok yang jauh di sana.


Balqis, apa kabar dia sekarang?


Dia pasti sudah lulus sekolah bukan?


Apa dia bisa masuk UI sebagaimana impiannya?


Jika iya, di mana ia tinggal nanti?


Ah... Albar jadi ingat semua pemberiannya dikembalikan kata Flo, tidak diberi nomor rekening oleh Flo, Balqis nekat meminta tolong kakak Po yang bekerja di Jakarta untuk membawakan uang pemberian Albar kepada Flo.

__ADS_1


Gadis itu tampaknya sangat membenci Albar sekarang, dan itu membuat Albar semakin tak bisa melupakannya.


**-----------**


__ADS_2