
Flo baru keluar dari kamar mandi, memakai handuk kimono ia berjalan mendekati tas di atas tempat tidurnya.
Ia ingat belum menelfon Albar.
Flo membuka tas dan mengambil hp nya, yang begitu Flo lihat layarnya kini penuh panggilan tak terjawab dari Albar dan satu nomor baru.
Tampak Flo mengerutkan kening.
Selain panggilan tak terjawab, di sana juga ada beberapa pesan masuk, di antaranya juga ada yang dari nomor baru tersebut.
Flo baru akan membacanya, manakala ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Siapa?"
Tanya Flo mengeraskan suaranya.
"Saya Nona, Lisa."
Sahut suara dari luar.
Flo menghela nafas, ia lantas membawa langkahnya dengan malas menuju pintu kamar, membuka kuncinya lalu membuka pintunya untuk Lisa.
Tampak Lisa berdiri di depan Flo sambil menganggukkan kepala.
"Maaf Non, ganggu."
Kata Lisa.
Ia kemudian mengulurkan kertas seperti undangan.
"Apa ini?"
__ADS_1
Tanya Flo mengerutkan kening.
"Itu ada di amplop uang yang tadi dititipkan Tuan Indra."
Ujar Lisa.
Flo meraih undangan itu, dibukanya lalu dibacanya.
"Tasyakuran?"
Gumam Flo membaca undangan tersebut.
"Ya sudah, thanks Lis."
Kata Flo pada Lisa, lalu ia kembali menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Flo membuka hp nya, dan mencari pesan dari si nomor baru.
[Maaf mungkin saya tidak sopan karena mengembalikan uang Nona Flo tanpa langsung bicara dengan Nona Flo]
[Ibu saya menghendaki uang itu dikembalikan karena Nona Flo sudah bersedia repot mengembalikan dompet hingga ke rumah saja kami sudah sangat berhutang budi. Jatuhnya saya dari motor itu karena kecerobohan saya sendiri, jadi itu bukan harus jadi tanggungjawab nona Flo untuk pengobatan saya]
[Meskipun saya sangat berterimakasih, tapi saya sungguh minta maaf karena harus mengikuti kehendak Ibu agar mengembalikannya saja, mohon untuk tidak tersinggung Nona]
[Kami sertakan undangan tasyakuran saya bisa masuk kerja di tempat yang lebih baik, semoga Nona Flo bersedia hadir, Ibu sangat berharap Nona datang ke rumah kami lagi]
[Salam dari ibu]
Flo membaca pesan yang sudah macam surat saja.
Flo duduk di sisi tempat tidurnya, menatap kertas undangan di tangan satunya.
__ADS_1
Sedang sibuk berpikir tiba-tiba hp Flo ada panggilan masuk.
Albar.
Flo cepat mengangkatnya.
"Ke mana saja kamu? Kiriman ilang."
Omel Albar.
"Ilang, emang aku anak kucing."
Flo balas mengomel.
Flo merebahkan tubuhnya ke belakang, dengan kaki masih tetap menapak di lantai.
Tangan yang memegang undangan ia rentangkan ke kiri, sambil tetap memegangi undangan dari Indra dan Ibunya.
"Aku tadi datang jam..."
Albar mulai bercerita ke sana ke mari, tapi Flo tak begitu memperhatikan, nyatanya telinga mendengar suara Albar, tapi otaknya memikirkan hal lain.
"Apa kau tahu, Mami masih ada di Paris, janjinya akan langsung pulang ke Perth begitu aku sampai, tapi nyatanya ia malah shoping dengan Mami mu, lalu..."
Albar masih terus sibuk bicara hingga berbusa-busa, dan Flo sama sekali tak menyahut.
Herannya Albar seperti tak sadar jika ia sedang dikacangi.
Ah andai Albar tahu jika dia dikacangi macam batagor, sudah pasti dia akan mengomel lebih panjang dari rangkaian gerbong kereta Joglosemarkerto.
**--------------**
__ADS_1