
Balqis baru selesai mandi dan akan bersiap ke sekolah, saat ia melihat hp nya di atas meja menyala.
Buru-buru Balqis meraih hp nya dan terlihat nama Albar di sana.
Panggilan tak terjawab dari Albar.
Balqis menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
Hatinya kini terasa seperti berperang, antara senang Albar akhirnya menghubunginya kembali, namun ada malas dan benci saat mengingat kesalahan orangtua Albar.
"Dan lagi, kesalahan yang diperbuat orangtuanya toh bukan kesalahan Albar kan Qis? Jadi jangan terlalu menghukum Albar."
Nasehat Dinda seolah kembali terngiang.
Balqis membawa hp nya menuju tempat tidur dan kemudian duduk di sana.
Haruskah aku balik menghubungi? Batin Balqis.
Balqis kemudian membuka kunci layar hp nya, dan kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam lebih dulu lalu menghembuskannya pelahan agar bisa lebih tenang, maka Balqis menguatkan diri untuk balik menghubungi nomor Albar.
Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, bla bla bla...
Balqis tampak kecewa.
Kenapa tidak bisa dihubungi? Padahal baru saja nomor itu menghubunginya.
Belum lagi Balqis selesai bertanya-tanya, tiba-tiba beberapa pesan baru masuk.
Pesan masuk dari Kak Flora, tampak Balqis pun langsung membuka pesan dari adik sepupu Albar itu.
[Sehat Qis? Kak Flo semula ingin langsung berkunjung, tapi sepertinya tak bisa karena banyak yang harus diurus]
[Albar pulang ke Perth hari ini, dia memutuskan berhenti dari dunia hiburan setelah semua yang sudah kami perjuangkan]
[Tapi nyatanya hidup memang tentang sebuah pilihan kan Qis? Semoga Balqis bisa memahami]
[Banyak yang terjadi dan tak bisa Kak Flo jelaskan sekarang, tapi Kak Flo yakin Balqis akan mengerti]
[Lupakan Albar sementara waktu Qis, jika lelah tak usah menunggu. Ia terpuruk dan entah kapan akan pulih]
[Jalanilah hidup dengan semangat untuk meraih cita-citamu, maafkan Albar, maafkan juga Kak Flo]
[Semoga kamu bahagia Qis, doa Kak Flo selalu menyertai kamu]
Balqis tercekat membaca pesan-pesan dari Flo.
Matanya nanar, ia bingung harus bagaimana.
Perasaannya yang telah hancur kini seperti semakin lebur dibuatnya.
Albar kembali ke Perth?
Tanpa kata apapun?
Apa dia tidak sadar jika semuanya semakin menyakiti Balqis?
Balqis yang sempat membenci namun juga merindu kini pun menjadi membenci lagi.
Benci, sedih, sakit, kecewa, marah, semuanya seolah bercampur menjadi satu.
Balqis belum membalas pesan dari Flo ketika terdengar suara teman-temannya di luar rumah mengucap salam lalu memanggil namanya.
Suara cablak Eti bahkan tahu-tahu sudah ada di depan kamar Balqis dan membuka pintu kamar.
"Yeee, kirain udah siap."
Kata Eti begitu mendapati Balqis masih duduk di tepi tempat tidur dengan rambut panjangnya yang dililit handuk.
Eti masuk ke dalam kamar, tak lama Po dan Dinda juga menyusul.
"Ada apa sih Qis?"
Tanya Eti sambil duduk di samping Balqis yang mematung memegangi hp nya.
Balqis dadanya kini seolah akan pecah karena rasa marah yang bercampur dengan semua rasa yang ada.
Ia ingin menangis bahkan sudah tak bisa karena matanya telah benar-benar lelah.
Eti yang tak sabar menyambar hp Balqis, dilihatnya di sana ada pesan dari Kak Flo.
Beberapa pesan yang cukup panjang.
__ADS_1
Eti membacanya, dan seketika reaksinya sudah Balqis duga akan seperti petasan banting.
"Apa-apaan!!"
Eti meleduk.
Dinda duduk di samping Balqis untuk merangkul sahabatnya itu.
Dinda belum paham apa sebetulnya yang terjadi, namun sudah bisa dipastikan dari reaksi Eti dan ekspresi Balqis saat ini, pesan yang dikirimkan Flo bukanlah pesan untuk menyampaikan hal atau berita baik.
Po tampak ikut membaca pesan Flo di hp Balqis yang ada di tangan Eti.
"Cowok macam apa yang tiba-tiba saja pergi tanpa kabar! Bisa-bisanya dia tiba-tiba pergi ke Perth dan yang ngasih tahu malah sepupunya. Harusnya kan dia ngomong langsung ke Aqis, lagian mau apa dia ke Perth dan kenapa harus berhenti dari dunia hiburan juga?"
Eti mengomel tak jelas juntrungnya.
"Coba saja lihat, dia pikir fans garis keras tidak bisa berubah jadi haters garis keras juga apa!! Berani-beraninya mempermainkan perasaan sahabat ku!!"
Eti masih mengomel lagi.
Po dan Dinda menatap Eti yang hampir keluar asap dari atas ubun-ubun nya.
Balqis yang akhirnya bisa berlinang air mata terlihat mengusap air matanya dari wajahnya yang ayu.
"Sudahlah Et, biar saja, dia akan dapat balasan dari Allah atas apa yang dia lakukan padaku."
Kata Balqis dengan suaranya yang parau.
"Allah ngga tidur, siapa yang menyakiti mahluk'Nya pasti juga akan dibuat merasakan hal yang sama."
Ujar Balqis pula.
Eti menatap Balqis.
"Bagaimana bisa? Kamu kenapa seperti sudah siap dapat berita begini buruk sih? Kalau aku pasti sudah langsung pesan petasan buat ledakin rumah Albar."
Kata Eti.
Po menarik ujung jilbab Eti.
"Kamu mah anarkis."
Kesal Eti.
"Itu kan idolamu."
Seloroh Po.
"Nggak!"
Eti menggeleng keras.
"Sekarang aku bukan fans Albar Harrys. Aku akan ganti idola saja."
Kata Eti tegas.
"Sudah Qis, lupakan saja cowok model Albar, apaan begitu, asal kabur aja tanpa penjelasan."
Eti malah lebih berapi-api.
Dinda menghela nafas.
"Kamu berangkat sekolah kan Qis, ayok siap-siap dulu."
Kata Dinda.
Balqis mengangguk.
"Iya."
Lirih Balqis lemas.
Dinda berdiri dan mengajak teman-temannya keluar dari kamar lebih dulu agar Balqis bisa ganti seragam.
Bersamaan dengan itu Bang Fajar datang dengan tossa nya.
"Ciyeeee Dinda, babang Fajar datang tuh dengan Mercy nya."
Kata Po menggoda Dinda.
Teh Inggit yang baru saja meletakkan sepiring telor dadar di atas meja makan tampak tersenyum melihat anak-anak ABG itu.
__ADS_1
"Dinda pacaran sama Bang Fajar ya, baru tahu nih Teteh."
Ujar Teh Inggit membuat Dinda jadi tersipu.
Teh Inggit terlihat sibuk menata kotak makan berisi nasi, tumis labu siam, telor dadar dan tahu kulit goreng.
"Balqis belum sarapan, ini nanti bilangin jangan lupa dibawa, Teteh mau mandi dulu ya, ada kelas pagi."
Kata Teh Inggit.
"Iya Teh."
Sahut ketiganya kompak.
"Assalamualaikum, girls..."
Bang Fajar mengucap salam seraya masuk ke dalam rumah dengan senyumannya yang selebar karpet.
Matanya berbinar-binar begitu melihat pujaan hati kini berdiri bersama teman-temannya.
"Tumben nggak pake kacamata hitam Bang."
Kata Po.
Bang Fajar mantuk-mantuk.
"Iya kacamata hitam yang dibelikan Albar dua hari lalu jatuh di kandang ayam. Aku taruh di kepala, eh pas nunduk jatuh ke bawah, kena kotoran ayam dah."
Bang Fajar tepuk jidat.
Po dan Eti geleng-geleng kepala.
Sungguh terlalu gaul, ke kandang ayam saja pake kacamata hitam, apa ayamnya ngga jadi kelihatan berubah jadi Cemani semua?
"Balqis ke mana?"
Tanya Bang Fajar.
"Lho kok malah nanyanya Balqis? Tuh Dinda ada."
Bang Fajar tersenyum semanis Jagung pada Dinda.
"Ini."
Bang Fajar mengeluarkan amplop dari tas kecil selempangnya.
"Fortuner punya Babang Albar disewa sodara, lumayan ini tiga hari, uangnya bisa buat tabungan Balqis. Kemarin sih Albar ditelfon belum angkat, tapi aku rasa dia pasti setuju sajalah."
Kata Bang Fajar.
Eti baru akan bersuara saat Po segera membekap mulutnya.
Dan Dinda yang menarik tangan Bang Fajar untuk diajak bicara.
"Uangnya simpan Bang Fajar dulu saja."
Kata Dinda dengan suara rendah.
"Kenapa?"
Tanya Bang Fajar bingung.
Dinda menghela nafas.
"Untuk sementara kita ngga usah bahas soal Albar dulu, kita jadikan nama itu terlarang saat ada Balqis."
Kata Dinda kemudian.
"Hah? Semacam nama keramat?"
Tanya Bang Fajar.
Dinda mengangguk.
Bang Fajar yang sejatinya tak mengerti apa yang terjadi sebetulnya selain berita kemarin yang ia lihat akhirnya hanya mengangguk saja.
Ada apa memangnya? Harusnya kan Balqis malah bersimpati dengan musibah yang menimpa Albar.
Dia sedang kena isu lagi cuma karena ngunjungin makam, sungguh kejam dunia hiburan dan dunia percintaan ternyata. Batin Bang Fajar.
**-----------**
__ADS_1