Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
168. Calon Yang Tepat


__ADS_3

Parkiran Flora Cafe tampak padat seperti kue bantet.


Indra memarkirkan motornya berjejer dengan motor dan mobil yang cukup banyak ada di sana.


Dilepasnya helm yang ia pakai dan kemudian digantungkan di spion motor.


Sejenak ia tampak merapihkan rambut dulu, set set set...


Tak lupa diambilnya satu botol kecil minyak wangi dan disemprotkan ke baju dan jaketnya, yang seketika mengundang kupu-kupu dan lebah dari taman-taman kota.


Indra menatap bangunan Flora cafe sebentar, menengadahkan wajahnya ke arah lantai dua cafe yang pastinya ia tengah di tunggu keluarga Flo di sana.


Ya keluarga Flo, yang ternyata dia adalah Albar Harrys, sang idol yang sempat mengguncang hati para gadis dan janda se-nusantara, dan mengganggu kestabilan perasaan serta kepercayaan diri para laki-laki tampan di sepenjuru muka bumi.


Setelah Indra merasa lebih tenang, tampak ia pun kini berjalan menuju bangunan Flora cafe.


Ia lupa membawa buah tangan, ia juga lupa membawa rangkaian bunga untuk Flo.


Ah sial memang, sebagai duda harusnya ia bisa lebih tenang menghadapi situasi ini, tapi nyatanya ia tetap tak bisa.


Ia masih saja panik dan tak cukup salah tingkah dengan undangan makan malam bersama keluarga Flo.


Hmm...


Ya... Ya... mungkin karena ini akibat kesenjangan ekonomi antara dirinya dan keluarga Flo jelas seperti bumi dan Pluto.


Jadi rasa-rasanya hati saja sudah merinding macam habis kehujanan tiga hari tiga malam, dan hanya memakai kolor doang.


jadi bisa dibayangkan, betapa merindingnya hati Indra saat ini.


Itu belum termasuk nanti saat ketemu langsung dengan Mami Albar, kemungkinan hati Indra akan terkena batuk, pilek dan mencret.


Indra masuk ke dalam cafe, dan langsung disambut Lisa yang memasang senyuman lebar 5 x 5 meter persegi.


"Silahkaaan Tuan Indra ke tujuh."


Kata Lisa ramah.


Indra tampak nyengir.


"Saya akan antar sampai anak tangga menuju lantai dua di mana anda ditunggu Nona Flo dan keluarga."


Kata Lisa pula.


Indra mantuk-mantuk, lalu mengikuti langkah Lisa.


Banyak meja tampak penuh pengunjung.


Sajak penampilan Albar di cafe Flo, memang cafe jadi makin ramai.


Yang biasanya hanya ramai saat menjelang sore sampai malam, selama weekend benar-benar cafe seolah tak ada waktu sepinya.


"Ya sudah sampai Tuan, silahkan melanjutkan perjalanan anda sendirian ke lantai atas."


Ujar Lisa yang berhenti di dekat anak tangga pertama.


Indra kembali nyengir, dan kemudian mulai menaiki anak tangga untuk menuju lantai atas.


Sempat masih bisa Indra dengar ada pelayan laki-laki yang seperti berkata pada Lisa,


"Lis, itu calon majikan kita?"


Indra yang mendengarnya, tentu saja langsung serasa kejatuhan durian runtuh sepohon-pohonnya.


Majikan?


Calon majikan?


Ah tentu saja, jika ia berjodoh dengan Flo, maka otomatis ia akan menjadi pemilik cafe ini juga.


Tapi...


Tidak!


Tidak!

__ADS_1


Indra menggelengkan kepalanya.


Laki-laki tidak boleh matre.


Yang boleh matre hanyalah surat perjanjian dan akta notaris, termasuk juga kuitansi.


Wkwkwk...


**-----------**


"My meeen..."


Albar menyambut kedatangan Indra saat pemuda itu muncul ancul-ancul dengan senyuman nya yang semanis gula merah di es dawet.


Mami tampak menoleh ke arah munculnya Indra, termasuk juga Balqis, dan pastinya Flo yang langsung kakinya macam mesin getar.


Balqis jadi tersenyum melihat Flo yang biasanya sangat cuek, kini benar-benar seperti menunjukkan bahwa ia memang seorang perempuan biasa.


Albar merangkul Indra dan mengajaknya menghampiri Mami yang tampak tersenyum ramah.


Tidak ada itu wajah-wajah orang kaya yang sok dan belagu.


Mami Albar sangat santai,


Indra membungkuk memberi salam pada Mami, setelah itu barulah ia menyalami Mami Albar dengan sopan.


"Siapa namanya?"


Tanya Mami saat Indra menyalami Mami.


"Indra, Tante."


Kata Indra.


Mami Albar mengangguk sambil tersenyum,


"Panggilnya Bu Dhe, biar sama kayak Flo."


Kata Mami.


Indra nyengir.


Kata Mami.


Indra pun duduk di dekat Flo, sedangkan Albar duduk di samping Balqis.


"Nona Flo, apa pesanan disajikan sekarang?"


Tanya Eti berbisik pada Flo.


Flo mengangguk tanda mengiyakan.


Eti pun segera melesat cepat seperti Tamiya.


"Ini kita kan sebentar lagi akan mengadakan pesta pernikahan Albar, kebetulan keluarga Flo nanti semuanya pasti akan hadir, makanya ini Bu Dhe mewakili keluarga Flo dulu nih kenalan sama calon suami Flo."


Mendengar Mami Albar langsung saja mengatakan Indra calon suaminya, tentu saja Flo langsung hampir pingsan karena malu.


Indra cengar-cengir antara senang tapi juga keder, karena tiba-tiba sudah langsung dikata calon suami Flora.


"Apa mau dibarengin saja?"


Albar malah tambah mengompori, membuat Flo menendangkan kakinya ke arah Albar, yang ternyata malah salah tendang kaki Balqis.


"Aduh."


Pekik Balqis yang kaget setengah mati karena tiba-tiba kakinya ditendang.


"Ada apa?".


Tanya Albar begitu Balqis mengaduh dan melihat ke arah bawah meja.


"Sori Qis... sori bangeeet."


Kata Flo lirih dengan wajah benar-benar seperti antara malu dan juga merasa bersalah.

__ADS_1


"Flo, kamu kenapa nendang kaki Balqis?"


Omel Albar.


Balqis mengusap lengan Albar,


"Udah, aku nggak apa kok, cuma kaget aja, Kak Flo bukan nendang, dia meluruskan kaki tapi menginjak kaki ku tanpa sengaja."


Ujar Balqis berbohong untuk menutupi malunya Flo, dan juga agar Albar tak terus mengomel.


"Dia biasanya suka nendang kaki."


Kata Albar.


Balqis menggelengkan kepalanya.


"Enggak, tadi enggak gitu, serius deh."


Ujar Balqis.


Mami menghela nafas,


"Inilah kenapa duduk itu enaknya lesehan,"


Kata Mami.


"Kayak Mami pernah makan lesehan saja."


Kata Albar,


Mami Albar jadi cekikikan, ia jadi sadar kalau selama hidupnya memang belum pernah makan di warung makan lesehan.


"Kapan-kapan makan di warung lesehan Mam, yang ada mancing ikan itu,"


Ujar Albar.


Mami mantuk-mantuk,


"Wah ide bagus.'


Kata Mami.


"Nanti di Tasik ya, cari warung makan lesehan."


Ujar Mami pada Balqis.


"Iya."


Balqis mengangguk.


"Oh, kapan ke Tasik? Besok?"


Tanya Flo.


"Iya besok, mau ikut? Ikut aja. Eh Indra mau ikut juga tidak? Biar rame."


Kata Mami.


"Ikutlah, sudah mau jadi satu keluarga harus rukun, kompak, biar kayak tim bola."


Kata Albar.


Mami mengangguk setuju.


"Bener itu kata Albar, jadi harus ikut ya Indra."


Kata Mami.


Indra dan Flo tanpa sengaja saling pandang, dan akhirnya mengangguk.


Albar tentu saja senang dengan kenyataan jika Indra akan ikut serta rombongan mereka pulang ke Tasik.


Sudah lama sekali rasanya tidak melihat Flo benar-benar seperti bahagia yang benar-benar bahagia saat berada di dekat Indra.


Albar sebagai saudara laki-laki nyatanya merasa yakin Indra kali ini pilihan yang baik untuk Flo.

__ADS_1


Tidak seperti yang lalu-lalu, yang kebanyakan hanya memanfaatkan harta Flo saja.


**-----------**


__ADS_2