Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
170. Semangat Hajatan


__ADS_3

Suasana di rumahnya Aki di kampung, di mana Balqis dahulu kala dibesarkan, tampak Wak Icih dan Teh Inggit dibantu beberapa Ibu dari tetangga sibuk masak-masak untuk menyambut tamu dari Jakarta besok, sekaligus juga membuat nasi berkat untuk selamatan.


Ramai suasana sampai rasanya meski sudah larut malam masih saja terasa sore.


Para Ibu terlihat ada yang sibuk membuat kue basah, ada juga yang sibuk membuat dodol dan ada juga yang sibuk membuat dendeng.


Wak Icih sendiri baru menyelesaikan membuat ayam goreng lengkuas, sedangkan ada satu Ibu yang rumahnya persis di belakang rumah Wak Icih juga baru selesai mengupas kentang untuk besok pagi dibuat sambal goreng kentang dan perkedel.


Teh Inggit yang mendapatkan tugas membuat kue bolu kukus sudah selesai sejak setengah jam lalu, dan kini sedang bebenah kamar Albar di loteng dengan dua temannya.


Ketiga gadis itu tampak bebenah ruangan sambil kasak kusuk membicarakan tentang Albar dan Balqis yang ternyata malah jadi berjodoh.


Sungguh, tak ada satupun yang menyangka jika Balqis yang selama ini tinggal di kampung nan jauh dari Jakarta, yang bahkan sama sekali tak kenal sosok Albar Harrys justeru akan menjadi isterinya.


Jodoh memang semisteri itu, di mana tak ada satupun yang tahu dengan jelas, siapa akan berakhir dengan siapa.


"Nanti kalau pesta pernikahan Balqis, kita berarti bisa dong Nggit ke Jakarta juga..."


Kata salah satu teman Teh Inggit.


"Iya atuh, nanti semua pasti ke sana, nanti aku akan bilang Balqis deh, supaya kalian bisa diajak."


Ujar Teh Inggit yang tentu saja disambut dengan suka cita.


"Lumayan kan kalau ikut trus ternyata bisa ketemu artis di pesta resepsi Albar dan Balqis, pasti kan ada beberapa artis yang diundanglah ya kan?"


"Hu um, sapa tahu kan ada Inces Syahrini, waah pasti asik banget dong bisa foto sama dia, cantik banget kan dia, ya Allah mana sekarang udah pake hijab."


"Eh, Agnezmo diundang nggak ya?"


"Wah... jauh lah kalau Agnez kan nggak di Indonesia, dia kan pastinya sibuk banget lah."


"Hmm iya juga ya."


"Kira-kira siapa yang nyanyi ya nanti? nggak mungkin kan Albar nyanyi sendiri, nanti dikira nggak modal, hahahaha..."


Mereka tertawa-tawa sendiri, seolah bahagia sekali melebihi calon pengantinnya, wkwkwk...


Sementara itu, Wak Icih di ruangan depan yang meski sudah malam pintunya terlihat tetap dibuka lebar sedang mengajak para Ibu yang ada di sana untuk istirahat dulu sambil makan-makan.


Ayam goreng lengkuas dan sayur sop yang sengaja dimasak untuk makan tengah malam supaya yang bantu-bantu tidak masuk angin disiapkan di meja, termasuk juga gorengan tempe dan tahu anget hasil salah satu Ibu yang memang bertugas menyiapkan makan.


Bapak-bapak dan beberapa pemuda juga tak ketinggalan membantu suami Wak Icih memasang tenda di depan rumah dan juga menata kursi-kursi plastik serta membuat panggung kecil untuk nanti tuan rumah dan barangkali Albar ingin membuat sambutan.


Benar-benar rasanya begitu semarak, bahkan mungkin inilah kali pertama di kampung mereka ada hajatan yang begitu meriah, padahal belum puncak acaranya.


Ya, tentu saja, tidak mungkin pastinya jika ini bukan Albar Harrys yang akan menikahi salah satu gadis di kampung mereka.


Albar Harrys, sang idol yang juga merupakan putra tunggal pengusaha sukses asal Jakarta yang bahkan perusahaannya juga ada yang kini di Australia.


"Aduh, semoga aku bantu-bantu begini jadi ketularan dapat menantu artis."

__ADS_1


Kata si Ibu yang bertugas mengupas kentang sambil memperlihatkan kedua tangannya yang terlihat kotor.


Semua pun tertawa mendengar selorohan si Ibu yang malah jadi berhayal mendapatkan menantu Albar Harrys.


**-------------**


"Besok bawa mobil ke Tasik siap tidak Jur?"


Tanya Albar pada Fajar saat keduanya duduk di gazebo depan kolam renang tak jauh dari kamar-kamar yang ada di belakang rumah Albar yang ditempati Fajar dan lainnya.


"Tenang saja brother, aku selalu ready gas pol."


Sahut Fajar.


Albar tampak tersenyum sekilas lalu ke arah Fajar yang duduk di sebelahnya, lalu tampak pemuda nan tampan rupawan itu menatap langit malam ini yang dipenuhi kerlip bintang.


"Akhirnya aku ada di titik ini Jur, nggak nyangka sama sekali ada skenario begini."


Kata Albar.


Fajar mantuk-mantuk,


"Aku juga bro, sama sekali nggak nyangka bisa kenal kamu, bayangin dong Bro, aku yang selama ini hidupnya hanya berputar-putar di depan ayam potong, tiba-tiba saja kenal kamu artis terkenal dan sekaya ini."


Ujar Fajar.


Albar menghela nafas,


Tanya Albar.


"Rencana gimana Bro maksudnya?"


Fajar bolot,


"Kamu bukannya ingin bersama Dinda? Usahakan dong Jur, supaya tidak sampai lepas dia, ingat Jur, dia anak UI sekarang, masa depan cerah."


Kata Albar.


Fajar mantuk-mantuk,


"Sejujurnya aku juga sedang bingung Bro, mau bagaimana ke depannya. Saat kemarin aku mengantar ke kampusnya saja, aku merasa rendah diri Bro aslinya."


Fajar jadi curhat, Albar pun tersenyum,


"Kalau begitu usaha saja Jur di Jakarta."


Kata Albar akhirnya,


"Usaha jualan ayam potong?"


Tanya Fajar,

__ADS_1


Albar mendengarnya jadi tertawa,


"Kamu jauh-jauh ke Jakarta mau usaha ayam potong lagi."


"Lha trus apa? Ayam petelor?"


Fajar tak bisa berpikir selain tentang ayam.


"Buka aja rumah makan ayam goreng, Ibumu ayam gorengnya enak, minta resepnya, kamu jualan di sini, aku pinjami modal."


Ujar Albar.


Fajar memandang Albar,


"Serius nih bro..."


"Serius lah."


"Wah kamu memang debes pren."


Fajar menepuk-nepuk bahu Albar yang terlihat jadi tertawa melihat Fajar.


"Ya, bagaimanapun Fajar adalah sahabat pertama Albar yang merupakan orang biasa, sosok yang tulus dan apa adanya.


Fajar bukan lagi sekedar sahabat, tapi juga sudah seperti saudara bagi Albar.


Sebagaimana Balqis menganggap Dinda yang sudah macam saudaranya, Albar juga begitu pada Fajar.


"Eh Bro, nanti bulan madu mau ke mana? Kalau ke Lombok aku ikut dong Bro, boleh nggak?"


Fajar bisik-bisik.


"Lombok bukannya kamu udah sering lihat."


Sahut Albar, yang kemudian mengambil gelas kopi susu di dekatnya.


"Hadeeeh, lombok yang aku lihat mah cabe."


Omel Fajar, membuat Albar tertawa geli.


"Ya... ya... aku sih penginnya malah ke Jogja, nanti aku ajakin deh."


"Serius?"


"Seriuslah."


"Ah siaplah, aku nanti mau beli blangkon."


Fajar semangat empat lima tambah empat lima sama dengan titik titik dan isilah dengan benar...


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2