Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
73. Kenikmatan Di Warkop


__ADS_3

Seperti yang diinginkan Albar, tampak Pardi mengurangi kecepatan laju mobilnya begitu sudah mulai dekat jalan menuju komplek rumah Albar.


Warkop yang merupakan tempat langganan Pardi menikmati kopi dan kadang juga makan mie instan itu benar tampak masih buka.


Pardi memarkirkan mobilnya tak jauh dari warkop.


"Biar saya duluan yang turun."


Ujar Pardi.


Tapi Albar malah ikut turun juga.


"Heh Bar."


Flo jadi kaget.


"Aku mau makan langsung di warung, sepi inih."


Kata Albar.


Haiiish... Flo mendesis.


Albar kemudian mengikuti Pardi menuju warkop yang kini tampak tak ada orang selain penjual warkop yang sedang setengah mengantuk.


"Bang."


Pardi mengagetkan sang penjual.


Penjual itu terlihat langsung melek, ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap Pardi baru kemudian Albar di dekat Pardi.


Sejenak penjual warkop itu seperti memperhatikan Albar dari ujung kepala hingga tengah perut karena dari perut ke bawah tak bisa dilihat tertutup meja.


"Bukannya dia..."


Penjual warkop menunjuk Albar tapi wajahnya ke arah Pardi.


Pardi yang paham maksud penjual warkop mengangguk.


"Iya ini Tuan Muda Albar Harrys, tuh yang iklan mie instan itu."


Kata Pardi menunjuk mie instan yang kabarnya dinobatkan menjadi salah satu mie instan terenak di dunia itu. Hihihi...


"Dan saya mau makan mie instan malam ini."


Kata Albar yang kemudian duduk di bangku kayu panjang yang ada di sana.


Bangku kayu yang menghadap meja yang mengelilingi sang penjual warkop.


"Gorengannya ada yang anget ngga Bang?"


Tanya Pardi.


"Wah, harus goreng dadakan ini."


Ujar penjual warkop.


"Ya gorengin deh, aku mau."


Kata Albar.


Bersamaan dengan itu Flo muncul dan ikut bergabung.


"Jangan makan banyak-banyak gorengannya."


Kata Flo.


"Jiaaaah kenapa."


Sahut Albar.


"Kamu mau batuk trus ngga bisa nyanyi."


Kata Flo.


Haiish... Flo mendesis.


"Ah belum jelas ada kontrak nyanyi lagi ini, santai lah."

__ADS_1


Bukan Albar kalau tidak semau sendiri kan?


Albar lalu pesan mie instan yang persis sama dengan yang dibuat Balqis, yang dikasih sawi, dikasih rawit, dikasih bawang goreng, dikasih telur, pokoknya riweuhlah.


Tapi motto pembeli adalah raja rupanya di junjung tinggi-tinggi oleh penjual warkop, ia berusaha mengikuti apapun kemauan Albar.


Jangankan cuma dikasih sawi, dikasih irisan batang pisang, dikasih janur kuning, atau sekalian bila perlu masukin ikan paus juga kalau pembeli yang minta akan ia usahakan.


Setelah memesan mie instan rebus ala Balqis yang ia rindukan, Albar juga ikutan Pardi memesan kopi instan yang diseduh.


Flo yang kali ini ngeces melihat Pardi menyeruput kopi akhirnya jadi ikut pesan satu gelas, tak lupa rokok mild favoritnya.


Flo meletakkan bungkus rokok mild miliknya di meja, penjual warkop mengulurkan kopi seduh yang mengeluarkan aroma khas dari asapnya yang mengepul.


Flo menerima gelas kopinya lalu menyeruput nikmat.


"Pinjam korek Bang."


Kata Flo pada pak penjual.


"Ini Non, saya bawa."


Pardi memberikan korek gasnya yang berwarna biru kepada Flo.


Flo tampak menyalakan satu batang rokoknya lalu menghisapnya.


"Katanya mau berhenti merokok."


Kata Albar dari tempatnya.


"Nantilah, kalau sudah ketemu cowok baik."


Sahut Flo masih sambil menikmati rokoknya.


"Jiaaaah... Yang ada keburu matahari terbit dari tenggara."


Ujar Albar.


"Dodol, yang ada matahari terbit dari Barat."


"Ya kan habis timur ke tenggara dulu, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut."


Kata Albar sambil tertawa.


Flo dan Pardi saling berpandangan lalu geleng-geleng kepala.


"Gesrek emang otaknya."


Kata Flo lalu menyeruput kopinya lagi.


Flo duduk di bangku yang dekat jalan, ia menghadap jalan yang lengang, sambil menghisap rokoknya lagi dan kemudian menghembuskan asapnya ke udara, Flo tampak menikmati momen menjadi orang biasa saja.


Mungkin Albar sebetulnya merindukan masa menjadi orang biasa saja di kampung Aki di mana beberapa waktu kemarin ia tinggal.


Flo menghela nafas.


Nyatanya hidup lebih terasa nikmat bisa makan dan duduk ngobrol dengan siapapun dan di manapun.


Flo tersenyum menatap langit tanpa bulan malam ini.


"Mie rebus sesuai pesanan Tuan."


Pak penjual mengulurkan mangkuk mie rebus pesanan Albar.


Pardi yang mengambilkan dengan sigap dan memberikannya pada Albar.


Tampak Albar menyambutnya dengan sumringah.


"Saya cabenya sedikit saja Bang, takut mules."


Kata Pardi.


"Iya atuh kan sudah langganan, sudah hafal seleranya."


Kata penjual warkop.


Albar tampak menatap mie rebusnya yang mengeluarkan aroma sedap persis seperti yang pernah Balqis buatkan.

__ADS_1


Ah ia jadi makin rindu dengan gadis itu.


Flo tampak mematikan puntung rokoknya di tatakan gelas kopinya, menatap Albar yang mulai menikmati mie rebusnya membuatnya kembali ikut lapar.


Kebetulan, penjual warkop juga baru menyuguhkan gorengan yang baru selesai digoreng juga.


"Ada saos ngga pak?"


Tanya Flo.


"Ada Non."


Penjual memberikan saus-saus sachet dengan merk yang cukup familiar.


"Makan gorengan kok pake saus, pake cengek lah Non."


Kata Pardi.


Flo menatap Pardi.


"Hmm... Flo mah hidupnya minim pengalaman."


Seloroh Albar merasa Flo memang jauh ketinggalan dibanding dirinya yang sudah merasakan hidup sebagai orang biasa saja dengan kenikmatan tiada batas.


"Emangnya kamu pernah makan gorengan pake cengek?"


Tanya Flo pada Albar.


"Jiaaaaah, jangankan cuma cengek, aku udah pernah makan gorengan sama lontong yang mangkal di depan pasar pas aku baru beli mesin cuci dan sepeda buat Balqis."


Kata Albar membanggakan diri.


"Kamu ngga cerita."


"Ya enggak perlulah aku cerita, itu prestasi yang aku akan simpan dalam hati, sanubari dan jiwa."


Kata Albar.


Apa banget dah.


Flo geleng-geleng kepala.


Tidak disangka ternyata ia ketinggalan dari Albar.


"Kalau begitu, saya minta cengek Pak."


Kata Flo.


"Nah gitu dong."


Albar menggebrak meja sampai mangkuk mie Pardi nyaris mantul muka Pardi yang lagi fokus tiup-tiup kuahnya.


Penjual warkop mengulurkan satu wadah kecil berisi cengek, Flo menerimanya.


"Baiklah kita hajar."


Kata Flo bersemangat.


Flo menggigit cengeknya lebih dulu dan walhasil dia langsung kepedesan.


Albar dan Pardi jadi tertawa, apalagi penjual warkop.


Heran, bagaimana bisa ada orang hidup di negeri ini sampai belum pernah makan gorengan dengan cengek, bahkan cara makannya saja salah.


Oh oh oh... ternyata terlahir sangat kaya juga bisa terlihat bodoh saat melakukan hal yang sepele bagi kebanyakan orang karena mereka belum pernah melakukannya sebelum ini.


Penjual warkop memberikan satu air mineral botol ukuran sedang ke arah Flo, tampak Flo yang wajahnya merah menahan pedas langsung menyambar air mineral botolnya dan meneguknya.


"Hahaha... makanya baca dulu aturan pakai."


Kata Albar.


"Mana ada aturan pakai gorengan sama cengek, dodol."


Flo jitak kepala Albar yang jadi tertawa lagi.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2