Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
89. Sebuah Tujuan


__ADS_3

Langit Jakarta telah diselimuti lembayung senja tatkala mobil travel yang mengantar Balqis dan teman-temannya tiba di ibu kota.


Bang Zul kakak sulung Po yang telah lama merantau di Jakarta terlihat menunggu kedatangan sang adik di warung kopi dekat kontrakannya.


Warung kopi yang juga milik orang Tasik itu memang tempat nongkrong Bang Zul selama bertahun-tahun hidup di sana.


"Bang."


Po tampak sumringah melihat Bang Zul yang begitu mobil travel berhenti di depan tempat cukur dekat warkop.


Bang Zul bergegas menghampiri, begitu juga dua pemuda lain yang merupakan anak muda sekitar yang tadi nongkrong bersama Bang Zul dan memang cukup dekat dengan Bang Zul selama ini.


Bang Zul dan dua pemuda yang bersama Bang Zul, membantu membawakan tas dan koper pakaian Po serta teman-temannya.


"Ke kontrakan Bang Zul dulu kan?"


Tanya Po pada kakaknya.


"Iya, besok pagi baru Abang antar ke rumah kontrakan kalian."


Kata Bang Zul.


"Asiiik, laper Bang soalnya."


Kata Po.


"Jiaaaah... padahal tadi bekal ayam goreng buatan Aqis saja dia makan tiga."


Kata Eti.


"Weeeek."


Po menoleh sambil melet pada Eti.


"Biarin, Po lagi pengin dimanja."


Kata Dinda.


"Siti Badriah dong."


Sahut Eti, membuat semua jadi tergelak karena Po malah nyanyi lagu Siti Badriah yang hitz.


Mereka menyusuri jalan sempit seperti gang kecil, ada sekitar seratus lima puluh meteran dari jalan raya di mana mereka tadi turun.


Jalanan yang hanya disemen tapi beberapa bagiannya sudah mulai rusak.


Balqis tampak mengedarkan pandangan melihat sekeliling jalan yang mereka lewati. Ada deretan kamar kontrakan, ada lapangan kecil, ada warung-warung papan yang juga ukurannya kecil.


Tampak nya Jakarta ternyata bukan melulu tentang gedung tinggi bertingkat atau gedung pencakar langit, rumah mewah, cafe keren, atau mall-mall besar dan hotel bintang lima.


Ternyata Jakarta juga memiliki sisi yang sama sebagaimana di kampung.


Rumah kecil, warung kecil dan terutama orang-orang yang hilir mudik hanya pakai baju tidur sambil gendong anak.


Sampai akhirnya, setelah cukup lumayan berjalan kaki, mereka sampai juga di depan kontrakan Bang Zul.


Letak kontrakan Bang Zul agak di pojok, jadi semacam gang buntu.


Bang Zul memberikan uang rokok untuk dua pemuda yang tadi bantu Bang Zul membawakan tas dan koper-koper po dan teman-temannya, tentu saja setelah Bang Zul juga memperkenalkan mereka.


Bang Zul membuka pintu kontrakannya dan menyuruh Po, Balqis, Dinda dan Eti masuk.


Kontrakan Bang Zul seperti kamar biasa saja, yang disekat menjadi tiga ruangan dengan satu kamar mandi di dalam dan juga dapur kecil.


"Kalo mau bikin teh, kopi atau energen bikin sendiri, Bang Zul belikan makanan dulu."


Kata Bang Zul yang mengambil jaket dari gantungan di belakang pintu dan juga kunci motornya di atas TV.


"Kalian mau makan apa sih? Nasi Padang atau terserah Bang Zul saja?"


Tanya Bang Zul.

__ADS_1


"Aku mau nasi padang lauk rendang."


Kata Eti tanpa malu-malu.


Kan kakak sahabatku adalah kakakku, begitu prinsipnya.


"Kamu Qis, Nda?"


Bang Zul bertanya pada Dinda dan Balqis.


"Aqis mah terserah Bang Zul saja."


Kata Balqis.


"Nda juga."


Kata Dinda.


"Yaaaaah, alamat aku beda sendiri nih."


Kata Eti sambil rebahan.


"Aku mau nasi iga bakar."


Kata Po.


"Wah, aku juga mau kalo itu."


Eti labil.


"Jiaaaaah..."


Po menimpuk Eti dengan bulatan tisu.


"Ya sudah, nasi iga bakar semua saja.".


Ujar Bang Zul.


Po goyang macam Itik.


"Aqis bikin teh sini."


Kata Balqis menuju dapur.


"Aku mau mandi ah."


Kata Dinda.


Po mengikuti Balqis ke dapur dan Dinda ke kamar mandi, tapi balik lagi ke depan membongkar tas nya lebih dulu, lupa ambil peralatan mandi dan handuk.


Eti sendiri main hp sambil rebahan.


Hingga...


"Weh..."


Eti mengejutkan Dinda.


"Apaan sih Eti, ngagetin."


Dinda menabok kaki Eti.


"Sini Nda."


Kata Eti sambil duduk.


Dinda mendekati Eti dan melihat ke layar hp Eti.


"Kamu masih follow dia? Katanya udah nggak ngefans."


Dinda menatap Eti curiga.

__ADS_1


"Ya kan udah lama berlalu inih, baru ini juga aku mulai lihatin akun dia lagi."


Eti cekikikan.


Dinda menghela nafas, melihat Albar Harrys memposting suasana kampusnya.


Bukan kampusnya yang membuat Dinda menghela nafas, tapi tulisan yang Albar tulis di sana.


[Saat aku ingin mulai belajar menjadi lebih baik karena ingat kamu]


**----------**


Flo duduk di cafe miliknya yang kini ramai pengunjung.


Setelah Albar memutuskan mundur dari dunia hiburan dan kembali ke Perth, Flo akhirnya memutuskan membuat bisnis sendiri.


Flo membuka cafe di sekitar Jakarta Barat, di dekat kawasan salah satu stasiun TV yang cukup besar di Indonesia.


Beberapa pelanggannya ada yang bahkan orang-orang TV, sesama manajer artis dan juga artisnya sendiri.


Flo terlihat duduk seraya menatap layar hp nya, membaca tulisan Albar membuatnya tergugu karena ia yang tahu betul kamu di sana adalah untuk siapa.


[Masih belum berani ke Indonesia? Mau sampai kapan sembunyi]


Komen Flo.


Albar yang tengah menikmati senja di balkon kamarnya begitu komen Flo masuk hanya membalas dengan emot kepala tersenyum.


Suatu hari aku pasti akan kembali. Batin Albar.


Ya satu tahun, waktu yang panjang jika dihitung dari hari, dan terasa lebih panjang lagi saat kita berusaha melupakan sesuatu dan seseorang namun tak mampu.


Albar menghela nafas, menatap warna pekat mulai merapat di kaki langit kota Perth, kota yang selalu menemaninya menyembuhkan diri.


Albar kemudian berdiri dari duduknya, tepat ketika hp nya berdering dan terlihat nama Beni di layar.


Albar mengangkatnya, Beni adalah teman dari Indonesia yang Albar kenal lewat jejaring sosial. Dia baru saja mendapatkan beasiswa dan pindah ke Australia awal bulan lalu.


Sejak pindah Beni cukup dekat dengan Albar, ia juga mengaku telah menjadi follower Albar sejak Albar masih menjadi idol.


"Aku akan pulang ke Indonesia besok lusa, apa kau mau ikut? Kita bisa berangkat bersama."


Suara Beni terdengar di seberang sana, terdengar juga suara banyak orang bicara, jelas sekali ia menelfon Albar dari cafe atau semacamnya.


"Berapa hari di sana?"


Tanya Albar.


"Two or three day, maybe."


Albar terdiam.


Rasa ingin kembali ke Indonesia sebetulnya memang sudah sangatlah besar di hati Albar, kerinduan akan alamnya, suasananya, cita rasa masakannya, dan...


Ah... Ia kembali tersadar betapa sikapnya saat itu yang seperti pecundang lari dari masalah akhirnya menyebabkan kehilangan besar. Dan kini...


Masih bolehkah Albar kembali untuk membuat harapan lagi?


Tapi... Balqis sudah terlampau jauh dijangkau, ia bahkan tak membuka satupun celah untuk mereka berkomunikasi, jadi... Albar harus bagaimana?


"Ayolah, kau bilang ingin makan mie rebus di warkop."


Kata Beni.


Albar demi mendengarnya jadi tergelak.


"Ya... Baiklah, aku akan ikut. Aku kabari saudaraku dulu."


Putus Albar akhirnya.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2