Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
25. Dari Mie Goreng Turun Ke Hati


__ADS_3

"Jadi serius kamu ingin tahu siapa itu Muhamad Adit Ghazali?"


Tanya Fajar si juragan ayam saat akhirnya di malam hari bicara dengan Albar lewat telfon.


"Yup."


"Okeeee."


Fajar menarik nafas dalam-dalam, lalu...


"Kamu siap-siap bayangkan ya."


Kata Fajar.


"Oke."


Sahut Albar yang penasaran tingkat dewa sejak sore, dan makin penasaran pula ketika ia pinjam hp Balqis lalu dilihatnya dengan sengaja saat mengulik daftar kontak, dan nama Adit ditulis "Bang Adit (My Idol)".


Haiiishh... Apa banget. Jelas-jelas yang seorang Idol ya Albar Harrys. Batin Albar merasa tidak terima.


"Siaaaaaap..."


Fajar kasih aba-aba.


Albar pasang telinga dan wajah serius.


"Kakek Buyut Adit dari Ustadzah Nur, Uminya, adalah Haji Mansyur, dulu jaman penjajahan beliau seorang Guru ngaji yang terkenal disegani, ditakuti bahkan oleh para Kompeni. Beliau bukan hanya sakti, tapi juga kaya raya, beliau juga sangat dermawan, bahkan konon rumahnya dia jadikan tempat untuk berkumpulnya para santri yang berjuang melawan penjajah."


"Oooo..."


Albar mantuk-mantuk.


Beda ya berarti, Kakek Buyut Albar yang dari Inggris jelas bukan pejuang Indonesia. Hihihi...


"Kakek Buyut Adit dari Haji Imam Samsuri, Almarhum Abinya, adalah pemimpin perjuangan di bagian selatan, ia adalah veteran sejati."


Kata Fajar bersemangat.


"Waaaaaw..."


Albar geleng-geleng kepala.


"Kakek Adit, yang dari Ustadzah Nur, meneruskan Abinya berjuang untuk masyarakat. Karena begitu beliau menggantikan Indonesia sudah merdeka, beliau menyumbangkan seluruh jiwa, raga, pikiran dan harta untuk kemaslahatan umat. Kamu tahu jika hampir seluruh sawah di sini tadinya adalah milik Kakek Buyut Ustadzah Nur?"


"Haaaa..."


Albar ternganga.


"Yah, tadinya semua milik Kakek Buyut ustadzah Nur yang hasil padinya sebagian beliau khususkan untuk makan semua rakyat miskin desa ini."


Kata Fajar makin bersemangat.


"Begitu Kakek Buyut Adit wafat, sebagian sawah itu beliau hibahkan untuk desa, yang sampai sekarang setiap panennya dibagi untuk warga tak mampu, termasuk tadinya keluargaku saat aku masih kecil."


"Luar biasa."


Albar geleng-geleng kepala.


"Adit adalah satu-satunya putra Ustadzah Nur, dia sejak kecil terkenal sangat cerdas, dia bukan hanya selalu juara kelas, namun juga dia selalu jadi siswa teladan tingkat Kabupaten, dia juga sering juara Badminton, catur, bahkan tenis meja. Dia juga juara balap sepeda. Dia juara dua olimpiade Kimia, juara tiga olimpiade matematika, dan juga juara satu menulis tentang memberantas korupsi tingkat Nasional. Semua itu dia raih saat berada di pondok juga. Dia hafidz Qur'an, dia juga juara Qori."

__ADS_1


Albar mendengarnya sampai pusing.


Itu manusia apa mutan, hampir sempurna begitu. Batin Albar.


Fajar menghela nafas.


"Kakek dari Abinya Adit juga memiliki yayasan yang..."


"Sudah Jur, cukup, aku pusing."


Kata Albar.


"Lha masih panjang ini, belum selesai."


Ujar Fajar.


"Sudah cukup, lama-lama aku jadi kayak baca buku biografi."


Gumam Albar.


"Lha gimana, katanya penasaran."


"Udah, rasanya kalo kamu terusin yang ada aku yang mati jadi arwah penasaran."


Sahut Albar.


"Ah ya sudah, padahal aku sedang semangat."


Fajar akhirnya tak jadi meneruskan ceritanya.


Albar menghela nafas.


Albar garuk-garuk kepalanya.


**----------**


Balqis di kamar tampak tengkurap di atas tempat tidur sambil membaca buku tulisan anak Universitas Indonesia.


Yah UI, salah satu Universitas terbaik di Indonesia itu adalah impian Balqis.


Ia ingin sekali bisa masuk kuliah ke sana. Menggunakan almamater kuning milik UI adalah satu kebanggaan tersendiri.


Mengingat nilainya sejak SD selalu bagus, Balqis optimis bisa masuk Universitas Indonesia nantinya.


Balqis bahkan sudah memikirkan bagaimana nanti ia akan menjalani hidupnya selama menjadi mahasiswa.


Ia yang berasal dari daerah, harus bagaimana tinggal di kota.


Di mana ia harus kos dengan uang yang mungkin tak seberapa, lalu ia akan sambil bekerja apa agar bisa tetap ada uang lebih buat jajan dan juga biaya hidup.


Pokoknya Balqis memikirkan semuanya dengan sangat terperinci.


Kemauannya untuk mandiri dan tak bergantung pada siapapun membuatnya sangat detail menyiapkan semua hal, bahkan untuk hal-hal yang paling kecil.


Yah Balqis memang begitu, ia bukan anak yang yatim piatu yang sibuk menangisi nasibnya, ia bukan anak yang merasa hidupnya menyedihkan lalu akhirnya patah semangat menyiapkan masa depannya.


Ia tak suka dikasihani. Ia lebih suka berusaha meraih mimpinya sendiri. Karena pastinya itu akan membuatnya merasa jauh lebih bangga, dan juga akan lebih banyak bersyukur nantinya.


Meskipun, Balqis juga tetap menghargai orang-orang yang menyayanginya selama ini pastinya.

__ADS_1


Entah itu Aki, Wa Icih, atau keluarga besar yang lain, bahkan Ustadzah Nur yang setiap bulan selalu memberikan santunan untuk kebutuhan sekolah Balqis.


Yah...


Bagi Balqis, bisa meraih cita-citanya suatu hari juga termasuk cara Balqis berterimakasih pada mereka yang selama ini sudah baik padanya. Membuat mereka bangga, membuat mereka merasa apa yang mereka lakukan untuk Balqis tidak sia-sia, bahkan sangat bermanfaat.


Dengan begitu, mereka juga tak akan berhenti jadi orang baik.


Mereka akan bisa menolong dan menyayangi anak yatim lainnya juga, karena apa yang mereka lakukan bisa membantu anak-anak tanpa orang tua akhirnya bisa survive dalam hidup.


Balqis tersenyum menatap gambar gedung Universitas Indonesia di dalam buku.


"Suatu hari aku harus ada di sana."


Gumam Balqis.


Trrtt... Trrtttt...


Tiba-tiba hp Balqis bergetar, ada pesan masuk.


Balqis beringsut dari posisinya tengkurap, bangkit untuk kemudian meraih hp nya di atas meja belajar.


Pesan dari "Bang Medit".


Balqis mengerutkan kening.


Ia membuka pesannya.


[Qis, kalau lututnya masih sakit, besok berangkat ke sekolah sama Bang Adit saja, biar Bang Adit jemput. Sekalian Dinda dan yang lain saja, kita pakai mobil supaya tidak jadi fitnah boncengan motor berdua]


Balqis senyum sendiri.


Ah Bang Adit.


Tunggu!


Sejak kapan nama kontak Bang Adit jadi Bang Medit?


Haish...


Ini pasti kelakuan Albar. Sudah jelas dia yang berulah tadi saat pinjam hp untuk hapus status di media sosialnya.


Balqis mengerucutkan bibirnya.


Ia baru akan mengganti nama Adit lagi, saat ia melihat di list paling atas ada nomor kontak baru dengan nama "AA (My Idol Asli)".


Ikh... Apa banget. Balqis kesal, tapi entah kenapa malah ia juga jadi tertawa.


Artis itu nyatanya kelakuannya absurd kelewat galaksi.


Apalagi pas ingat acara makan tadi.


"Kamu tahu ngga Bal, sampai sekarang aku ngga pernah ngerasain masakan Mamiku. Dulu pernah dia nyoba bikin omelette, telur satu kulkas habis buat nyoba bikin dan gagal semua."


Kata Albar bercerita saat makan mie goreng dan telor dadar buatan Balqis yang kata Albar enak badai.


"Aku makan di restoran mahal tuh bosen, tetap saja masakan rumah sebetulnya yang terbaik. Sayangnya Mami ku ngga seperti Ibu-ibu lain, dia pinter cari uang, tapi ngga bisa jadi Ibu normal di rumah."


Kata Albar.

__ADS_1


**---------**


__ADS_2