Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
102. Cepat Pulang, Cepat Kembali


__ADS_3

Po membuka pintu utama rumah yang mereka tempati, dan...


Po sejenak terlihat membulatkan matanya menatap kedua orang yang kini berdiri di depannya.


Dua orang itu terlihat tersenyum pada Po yang seolah begitu terkejut.


"Kak Flo..."


"Al... bar."


"Boleh masuk ngga Po, panas nih di luar."


Kata Flo membuat Po yang tak juga mempersilahkan mereka masuk jadi tertawa canggung.


"Ah ya Kak, maaf... Maaf."


Ujar Po.


Po kemudian mempersilahkan Flo dan Albar masuk ke dalam rumah di mana mereka akan tinggal selama kuliah.


"Mau duduk di dalam atau..."


"Sudah di sini saja.


Ujar Flo pada Po saat Po bingung akan mempersilahkan mereka duduk di mana, antara duduk di ruang depan atau di ruang tengah di mana ada ruang makan serta ruang TV.


"Po... Tamu siapa?"


Terdengar suara Dinda dari arah dapur.


Dinda hari ini memang yang ambil jadwal tugas masak pertama kali.


"Sebentar ya Kak, sebentar ya Bar."


Kata Po pada keduanya, sebelum kemudian melompat masuk dengan tergesa-gesa.


"Ndaaa... Dindaa..."


Panggil Po sambil berjalan ke arah dapur.


Dinda yang sedang mulai memasukkan beras yang telah di cuci di wadah ke dalam rice cooker tampak menoleh pada Po yang langkahnya kemudian tertahan di depan tengah bingkai pintu dapur.


"Ada Kak Flo."


Kata Po.


Bersamaan dengan itu Eti keluar dari kamar mandi dengan rambut yang digulung handuk.


"Apaan Kak Flo?"


Tanya Eti nimbrung.


Dinda dan Eti menghampiri Po dari arah masing-masing.


"Ada Kak Flo dan Albar."


Dan demi mendengarnya, Dinda dan Eti langsung membelalakan mata mereka.


"Albaaaar?"


Kompak Dinda dan Eti.


Po mantuk-mantuk.


"Aduh gimana nih, Aqis ke mana? Kak Flo di sini berarti Aqis tadi pergi sama siapa?"


Mereka pun bertanya-tanya.


"Bang Zul, coba tanya Bang Zul, kan katanya dia mau ke tempat Pamannya Bang Beni yang punya rumah ini."


Kata Dinda pada Po.

__ADS_1


Po langsung melompat ke arah sofa yang ada di depan TV di mana tadi ia sedang duduk menonton acara gosip sebelum diminta Dinda membuka pintu.


"Et, kamu bikinin minum dong, aku mau pakai jilbab dulu."


Kata Dinda.


Eti mengangguk lalu langsung menuju dapur tanpa membantah.


Ah ya, Albar...


Bagaimana ya dia sekarang setelah tidak jadi artis? Rasanya Eti akan jadi fans pertama yang melihat Albar lagi setelah idol itu mundur dari dunia hiburan lebih dari satu tahun ini.


"Bang..."


Po lega sekali karena telfonnya langsung diangkat oleh Bang Zul.


"Kenapa Po?"


Tanya sang kakak.


"Bang Zul di mana?"


Po balik tanya.


"Di rumah bos, baru pulang nganter takziah, ini lagi ngopi sambil ngerokok di taman."


Jawab Bang Zul.


"Aqis di situ ngga?"


Tanya Po.


"Oh Aqis, iya di dalam rumah lagi ngobrol sama boss dan Bang Beni."


Po sejenak mengerutkan kening.


"Maksudnya Bang Beni yang punya rumah ini?"


Tanya Po.


Bang Zul tertawa.


"Ikh, bukan itu yang penting Bang."


Po kini mulai bisik-bisik.


"Aqis, suruh pulang sekarang Bang."


Ujar Po.


"Lha kenapa? Kasihan udah biarin, kalian tinggalin dia sendirian, untung ada Bang Beni kadi diajak jalan-jalan."


Kata Bang Zul enteng, tak tahu kepala adiknya malah jadi cekot-cekot.


"Aduuh Bang, udah sih suruh pulang cepetan, penting banget, darurat."


Kata Po.


"Ada apa sih? Abang aja yang ke sana."


Kata Bang Zul jadi panik karena Po sepertinya serius.


"Iiikh, Bang Zul mah enggak ada gunanya, kita butuhnya Aqis."


Kesal Po.


"Heh, Bang Zul nggak ada gunanya?!"


Bang Zul langsung keluar asap.


"Eh hehehehe... Maap maap Bang, kelepasan, maksudnya untuk kali ini yang dicari itu Aqis."

__ADS_1


Kata Po.


Bang Zul menghela nafas.


"Ya ya baiklah, sebentar, Bang Zul ke dalam dulu."


Kata Bang Zul akhirnya.


"Makasih Bang."


Po menutup telfonnya, tepat saat Dinda keluar dari kamar dan sudah memakai jilbab serta berganti gamis yang lebih sopan daripada daster rumahan sebelumnya.


**-------------**


Siang di Jakarta hari ini terasa sangat terik, rasanya saking panasnya otak di dalam kepala nyaris meleleh.


Beni membawa motornya dengan cepat, yang tadinya harapannya bisa jalan-jalan dengan Balqis sampai malam lalu akan menyempatkan diri mengajak Balqis ke cafe saudara Albar, akhirnya terpaksa harus ditunda karena Bang Zul supir Pamannya memberitahu jika Balqis harus segera pulang.


Rencana mereka yang semula akan ke kampung rambutan juga nyatanya ikut gagal pula.


Balqis sendiri duduk di boncengan di belakang Beni dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh.


Kata Bang Zul, ia diminta segera pulang ke rumah oleh Po karena ada sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa ditunda, tapi begitu Balqis menghubungi hp Po, tidak diangkat, menghubungi Dinda juga begitu, apalagi Eti.


Bahkan Balqis mengirimkan pesan ke grup chat mereka juga sama sekali tak ada yang membaca apalagi membalas.


Ada apa sebetulnya? Ah mereka membuat Balqis jadi takut dan khawatir saja.


Motor terasa terus meliuk-liuk, menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya.


Jalanan kini bukan hanya panas, namun juga padat, berisik suara klakson dan juga berdebu. Ah rasanya sungguh pusing.


Hingga sekitar hampir satu jam lebih, akhirnya motor yang mereka tumpangi memasuki jalanan komplek yang menuju rumah Beni.


Dan begitu tak jauh lagi dari rumah, Beni terlihat sedikit terkejut manakala melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya.


Beni pun memelankan laju motornya, melewati mobil yang sepertinya tak asing di mata Beni.


Setelah Beni menghentikkan motornya masuk ke bagian teras depan rumah, Balqis segera turun.


Dari dalam muncul Po, Eti dan Dinda melongok keluar.


Mereka kaget melihat Balqis datang bersama seorang pemuda, yang...


"Ah dia pemilik rumah ini kan?"


Gumam Po.


"Jadi benar kata Bang Zul, kalau Aqis pergi dengan Bang Beni."


Lanjut Po lagi.


Balqis yang melepas helmnya setelah turun dari boncengan dan memberikan helm itu kepada Beni terlihat menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan yang sama-sama heran.


"Kamu minta aku pulang cepet, ada ap..."


Balqis belum selesai bicara saat Po dan Eti segera menghambur ke arahnya.


Po menarik tangan Balqis, sementara Eti menutup mulut Balqis.


Keduanya mengapit Balqis kiri dan kanan, lalu menggiring Balqis menuju pintu utama.


Balqis berusaha melepaskan tubuhnya dan juga mulutnya dari Eti dan Po, namun keduanya berusaha sekuat tenaga menahan Balqis.


Dinda hanya terlihat mengulum senyum saja manakala Balqis menatapnya seperti meminta tolong.


Sementara Beni yang baru selesai menggantung dua helm nya di motor terlihat berjalan cepat menyusul Balqis yang sedikit lagi masuk ke dalam rumah.


Dan...


**------------**

__ADS_1


__ADS_2