
Bang Fajar dan supir travel yang akan membantu mengusungi barang bawaan Tio yang sebejibun banyaknya kini mengerutkan keningnya begitu Tio tampak berjalan lunglai kembali ke mobil travel.
Mereka memang baru saja sampai di kawasan Jatinegara di mana kata Tio sudah mendapatkan kos-kosan yang ia pesan lewat internet, bahkan ia sudah transfer uangnya untuk pesan dan satu bulan menempatinya.
"Kenapa Dik Tio?"
Tanya Pak supir yang bingung melihat Tio lemas lunglai macam ikan bandeng yang baru saja dipresto.
"Saya kena tipu."
Kata Tio dengan wajah pucat.
"Ibu pasti akan memarahi saya habis-habisan."
Ujar Tio lagi.
"Di tipu bagaimana? Maksudnya bagaimana?"
Bang Fajar jadi ikut panik.
Tio menghela nafas, lalu...
"Saya tidak ada teman di Jakarta, saudara juga tidak punya, jadi saya cari kos lewat internet, kebetulan ada yang iklan dan dari fotonya saya suka, ditambah dari semua harga kos di Jakarta dengan kamar yang cukup bersih dan rapi serta sudah lengkap dengan kasur, lemari dan meja, kos itu termasuk murah."
"Terus?"
Tanya Bang Fajar dan pak supir nyaris bersamaan.
"Terus kan saya sakit, jadi saya kan tadinya mau ke tempat kos dulu buat memastikan sekalian pembayaran, karena katanya sedang musim mahasiswa cari kos mereka tidak bisa menunggu dari hari saya pesan hingga saya sembuh dan berangkat kecuali ada uang pesan dan juga pembayaran minimal untuk satu bulan."
"Lalu?"
Bang Fajar dan pak supir lagi-lagi nyaris berbarengan.
"Lalu ya saya transfer, dan hari ini saya datang sesuai alamat yang dikasih di internet dan juga chat kami, tapi ternyata itu alamat rumah makan. Di sana memang banyak tempat kos, tapi itu kos putri, dan tidak ada yang kenal Ibu Tiwi, saya hubungi nomornya tidak aktif."
"Waduh!"
Bang Fajar dan pak supir tepuk jidat.
"Saya tertipu."
Tio berjongkok di dekat mobil travel sambil terbengong-bengong, seperti anak kucing yang bingung mau ke mana karena induknya pergi.
__ADS_1
Tio memegangi kepalanya yang langsung terasa senut-senut.
"Duh coba kalau saya ada kenalan yang punya tempat kos, saya bisa tolong dik Tio ya."
Ujar pak supir iba.
"Kalau toh ada uangnya saya tidak ada Mang, kalau saya bayar kos, sebulan ke depan saya nggak bisa makan."
Kata Tio bingung.
Bang Fajar menghela nafas.
Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menawarkan bantuan? Ada uang tapi itu uang Balqis, dia tidak boleh pakai uang Balqis sebelum laporan, begitu kan nasehat Emak.
Tapi melihat Tio kini terlihat kebingungan, jelas Bang Fajar tak tega.
Maka akhirnya Bang Fajar setelah berpikir keras memeras otaknya hingga kering dan tinggal di setrika, akhirnya...
"Sebentar dik Tio, Bang Fajar telfonkan saudara Bang Fajar dulu, kalau boleh nanti Bang Fajar pinjamkan uang untuk dik Tio bayar kos baru."
Kata Bang Fajar.
Lalu Bang Fajar cepat menelfon Balqis.
Balqis baru saja turun dari mobil bersama Dinda dan akan masuk ke rumah saat panggilan Bang Fajar masuk ke hp nya.
"Bang Fajar."
Kata Balqis pada Dinda.
Dinda mengangguk pelan.
Sebetulnya ia kecewa karena Bang Fajar justeru menelfon Balqis bukan menelfon dirinya, tapi Dinda tetap berusaha positif thinking bahwa apa yang akan dibicarakan Bang Fajar pasti memang berkaitan dengan Balqis, bukan untuk telfon kasih kabar dia sampai mana.
"Ya Bang Fajar, gimana?"
Balqis mengangkat panggilan Bang Fajar dan men loud speaker volume panggilan Bang Fajar.
"Qis, maaf nih ganggu."
kata Bang Fajar.
Dinda ikut mendengarkan.
__ADS_1
Bang Fajar kemudian menceritakan kejadian yang menimpa anak si penjual cabe, di mana ia tertipu kos-kos an bodong.
Sekarang ia bingung harus tinggal di mana, sedangkan uang juga dia cuma punya hanya cukup untuk makan dan transport ke kampus sehari-hari selama satu bulan ke depan.
Bang Fajar berniat meminjamkan uang untuk bayar kos baru buat Tio, tapi karena uangnya milik Balqis, jadi Bang Fajar minta ijin lebih dulu.
"Tio, dia angkatan Aqis apa Bang?"
tanya Balqis.
"Iya Qis, tapi dia dulu di SMA negeri, jadi tidak satu sekolahan dengan Aqis, ya kan Tio?"
Terdengar Bang Fajar memastikan lagi, soalnya Bang Fajar juga lupa-lupa ingat ngobrol dengan Ibunya Tio yang jualan cabe.
"Ooh gitu, ya gini aja Bang."
Balqis membuat keputusan.
"Tio sementara tinggal aja di sini, tapi kamarnya di belakang, di sana ada tujuh kamar dan yang ditempati cuma tiga, masih ada sisa empat, tinggal aja di sana, nanti Aqis minta ijin ke Albar nya nyusul ngga apa."
Kata Balqis.
"Kampusnya kan berarti sama kayak Eti dan Po, letaknya juga masih lumayan deket dari sini kalau memang dia diterima di universitas itu."
Ujar Balqis lagi.
"Oh gitu ya Qis, nggak apa nih kalau Albar dengar?"
Tanya Bang Fajar.
"InshaAllah nggak apa Bang Fajar, nanti Aqis yang bilang."
"Wah terimakasih banyak Qis, ini Bang Fajar langsung otw bareng Tio."
Kata Bang Fajar semangat 45.
"Ya Bang sama-sama. Kan kalau di perantauan kita yang berasal sari satu daerah jadi saudara semua."
Kata Balqis.
"Wah memang dasar kamu baik Aqis, pantaslah dapat calon suami Albar Harrys, wah aku ingin ketemu dia lagi Qis, kangen banget aku."
Bang Fajar rasanya ingin melompat setinggi monas saking girangnya bisa menolong anak si penjual cabe.
__ADS_1
**----------**