Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
91. Kota Baru Rumah Baru


__ADS_3

Seusai sarapan, Balqis dan teman-temannya pun akhirnya pergi ke rumah yang akan mereka tempati dengan diantar oleh Bang Zul tentu saja.


Mereka begitu bersemangat mengawali hari di ibukota, seolah kini pintu menuju cita-cita tinggal selangkah lagi untuk mereka buka.


Semangat anak-anak muda yang ingin meraih impian jelas tergambar di wajah-wajah ceria keempatnya, penuh semangat dan energi positif begitu terasa menyelimuti mereka.


"Nanti kalau ada apa-apa langsung kasih tahu Bang Zul, setiap sabtu atau minggu kalau Tuan besar sedang tak ada acara mendadak Bang Zul akan tidur menemani kalian."


Kata Bang Zul dari balik kemudi ketika mereka sudah mulai melewati pasar Cipulir.


"Asiaaaap."


Sahut Po dan yang lain kompak.


Balqis menatap jalanan di luar sana dengan senyuman merekah.


Rasanya seperti mimpi ia kini berada di Jakarta, meski sebetulnya ia akan cukup jauh nantinya jika harus ke kampus, tapi tak apalah, toh tinggal gratis, ini sangat membantu meminimalisir pengeluaran.


Mungkin nanti jika ada rejeki Balqis bisa bekerja, baru Balqis akan cari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampusnya.


Po yang duduk di depan bersama Bang Zul kemudian memutar lagu JKT48 yang berjudul River.


Lagu itupun mengalun memenuhi mobil menambah suasana ceria dan penuh semangat.


Eti yang paling bersemangat ikut bernyanyi, seolah sedang menonton konser Melodi dkk saja.


"Ah aku jadi ingat dulu mereka satu panggung lho sama Albar."


Kata Eti kelepasan.


Saking semangatnya ia menyanyi dan menghayati suasana, sampai lupa suasana hati temannya yang bisa saja langsung mendung gara-gara mulutnya yang suka rem blong.


"Haiiisssssh..."


Dinda dan Po langsung mendesis ke arah Eti yang langsung celingak-celinguk dan kemudian gugup menatap Balqis.


Balqis hanya tersenyum tipis saja.


"Aku tak apa, jangan terlalu begitu, aku malah tak nyaman."


Kata Balqis sambil mengganti posisi duduknya yang semula bersandar menatap kaca mobil untuk menikmati jalanan Jakarta, kini jadi duduk tegak.


"Sori Qis."


Kata Eti.


Dinda menabok lengan Eti sambil bibirnya was wes wos lirih.


"Sudah, kita mau sampai nih."


Bang Zul menengahi, dan benar saja mobil kini berbelok masuk ke dalam jalan komplek, melewati beberapa rumah saja dan kemudian berhenti.


Mereka tampak menghela nafas bersama, melihat rumah yang kini berdiri di sana ternyata memang sama persis dengan yang ada di foto.


Dari depan terlihat seram memang, karena pastinya sudah agak lama tak dihuni, tapi tak bolehlah takut hantu, ya kaaaaan?

__ADS_1


Mereka kemudian keluar dari mobil, Bang Zul membantu mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi.


Setelah itu Bang Zul membukakan gembok pagar dan juga kunci pintu rumah.


Semua dengan membawa tas pakaian masing-masing mengikuti Bang Zul masuk ke dalam rumah.


"Waaah lengkap perabotannya."


Po senang bukan main begitu masuk ke dalam rumah tampak sudah lengkap dengan perabotan.


"Kan tugas kalian memang menempati sekaligus memelihara, kalau bagus malah nanti dikasih gaji."


Ujar Bang Zul.


"Hah?"


Mereka melongo.


"Ya kata Tuan besar begitu, kalau kalian menempatinya dengan baik, nanti malah dikasih uang jajan sekalian."


"Wah baik banget."


Kata Eti.


Rumah satu lantai itu terdiri dari empat kamar, tiga kamar depan berukuran cukup besar, satu kamar berukuran kecil dekat dapur dan ruang setrika yang sepertinya dulu digunakan tidur asisten rumah tangga.


Hampir semua perabotan masih lengkap dan berfungsi dengan baik, bahkan shower kamar mandi juga masih lancar, jelas saja Eti senang bukan main.


"Eh kamu tidur di kamar mana Qis?"


Tanya Po pada Balqis.


Kata Balqis.


"Aku yang ini deh."


Po memilih kamar nomor dua.


"Wah aku berarti tidur sama po, soalnya aku juga naksir kamar nomor dua."


Ujar Eti.


Balqis dan Dinda mantuk-mantuk, lalu memilih kamar nomor tiga.


Kamar yang sudah ada springbed dan meja serta dilengkapi AC juga itu terlihat nyaman, hanya tinggal dibersihkan saja karena lama tidak ditempati.


"Kalau kamar yang depan ini biar saja terkunci dan tak usah dibersihkan, soalnya itu punya Bang Beni."


Ujar Bang Zul.


"Bang Beni siapa?"


Tanya Eti kambuh pikunnya.


"Keponakan pemilik rumah ini, keponakan tuan besar juga, yang sekarang di Australia."

__ADS_1


Ujar Bang Zul.


"Oooh."


Eti mantuk-mantuk.


"Nah itu orangnya."


Bang Zul menunjuk beberapa foto yang dibingkai dan dipajang di ruang tengah rumah yang digunakan untuk ruang nonton TV.


Mereka pun kompak melihat foto-foto dalam bingkai yang dipajang itu, seorang cowok yang cukup tampan.


"Wiiih bisa digebet niih."


Kata Eti cekikikan, membuat semuanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Ingaaat Eti, tujuan kita ke Jakarta adalah menjemput impian."


Ujar po.


"Lho, impianku kan juga dapat cowok tampan, berarti ini juga bagian dari menjemput impian."


Sahut Eti.


"Iyaaaaalaaaa terserah kamu."


Kata semuanya.


Eti cekikikan sambil melihat foto cowok bernama Bang Beni lagi.


Bang Zul kemudian membantu mengecek semuanya, air, listrik, telfon rumah, wifi, dan lain sebagainya.


Sedangkan keempat gadis itu mulai sibuk bebenah, termasuk menata pakaian ke dalam lemari.


Hari inipun jadi hari yang sibuk untuk mereka, hari di mana mereka bebenah rumah dan mempersiapkan semuanya.


"Bang, katanya dari sini deket kan sama stasiun TV, jalan-jalan dong ke sana."


Kata Po yang sambil mengelap meja makan.


"Ya nanti habis bebenah kalian mandi, kita jalan-jalan, Bang Zul ajak lihat stasiun TV dari luar aja tapi, trus kita makan di cafe yang hitz banget belakangan ini."


"Wiiih gaooool kita."


Kata Po.


Eti yang sedang menyedot debu di sofa jelas saja langsung bersorak senang menyambut rencana Bang Zul.


Sementara Balqis dan Dinda yang juga sedang sibuk mengelap perabotan di rumah itu hanya tersenyum saja melihat mereka.


Balqis terutama, rasanya mendengar kata stasiun TV seolah jadi melihat bayangan Albar dengan jelas.


Andai saja masa lalu itu tak ada, andai saja mereka bertemu sebagaimana pasangan lain yang tak memiliki sejarah yang pahit.


Mungkin...

__ADS_1


Balqis menghela nafas, ia segera menghentikan pikirannya memikirkan Albar karena matanya langsung terasa meremang.


**----------**


__ADS_2