Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
105. Aturan Albar


__ADS_3

"Balqiiiiiiiiiis, aku cinta kamuuuuuuuuu, ayo kita nikaaaaaaaaaaaaah."


Albar teriak-teriak macam Tarzan, membuat Balqis harus menutupi wajahnya dengan telapak tangannya karena tetangga rumah Beni yang rumahnya juga tingkat dua jadi melongok dari rumah mereka dan memandangi Albar dan Balqis.


"Waah itu Albar Harrys..."


Beberapa dari mereka mengenali Albar, membuat Balqis tambah malu.


Balqis segera menarik lengan Albar menjauh dari lantai atas, tempat di mana untuk menjemur cucian.


"Aduh kenapa sih Bal?"


Tanya Albar sambil mengikuti langkah Balqis yang begitu terburu-buru sambil menarik Albar masuk dan menuruni tangga.


"Kamu mah sukanya malu-maluin."


Kata Balqis membuat Albar tertawa.


Flo bersama Eti dan Po tampak sudah duduk lesehan di karpet depan TV, mereka terlihat sudah mulai menikmati santap siang, sedangan Dinda terlihat di dapur sedang menyelesaikan membuat gorengan.


"Bar, masakan Balqis nih katanya, enak banget."


Kata Flo dari tempatnya.


Albar yang kini tangannya dilepas Balqis begitu berada di ruang tengah rumah Beni yang ditempati Balqis dan teman-temannya itupun tampak tersenyum bangga.


"Iyalah, calon bini siapa dulu."


Pongah Albar.


"Huuuu ngaku-ngaku, kayak Balqis mau aja ya Qis?"


Seloroh Flo pada Balqis yang tersipu saja. Flo sambil berdiri membawa piringnya yang terlihat sudah hampir habis dan sepertinya mau nambah.


Albar melongok menu hari ini yang dimasak sang kekasih.



"Albar cuci tangan dulu."


Kata Balqis mengingatkan.


"Iya calon Mamah anak-anakku."


Gombal Albar, membuat Flo nyaris tersedak.


"Panjang amat panggilannya, dodol, hahaha..."


Flo terbahak, di sambut pula oleh Po dan Eti.


Flo terlihat menambah porsi makanannya, mengambil nasi, dan lauk yang disajikan Balqis.


Dinda keluar dari dapur membawa sepiring gorengan yang baru selesai ia goreng.


Flo pindah ke meja makan, untuk kemudian makan kedua kalinya menemani Albar dan Balqis.


"Habis makan kamu beresin pakaian kamu Bal, ikut aku pulang."


Kata Albar sebelum memulai acara makannya.


Balqis menatap Albar bingung.


"Maksudnya gimana?"


Balqis juga menatap ke arah Flo yang tersenyum pada Balqis sambil menggigit gorengan buatan Dinda.


"Maksudnya ya kamu ikut pulang kita, jangan tinggal di sini, tinggal di rumah Albar saja."


"Lho, tapi kan kami ud..."


"Pokoknya pindah, nggak ada tapi-tapian."


Kata Albar.


Balqis Menatap Dinda yang kini tengah mengambil nasi dan lauk di meja makan untuk nanti dia bawa makan bersama yang lain di depan TV.

__ADS_1


"Semuanya saja pindah ke rumahku, aku kan nanti pulang ke Perth lagi, di sana ada Bi Tuti, kalian ngga perlu mikirin masak, nyuci dan sebagainya, fokus saja kuliah."


Kata Albar.


"Tapi Bar, kami kan sudah..."


"Nda..."


Albar memotong kalimat Dinda.


"Ini rumah laki-laki, dan dia bukan siapa-siapa nya salah satu dari kalian, kalau rumahku jelas itu rumah calon suami Balqis, yang nanti setelah menikah berarti rumah itu juga rumah Balqis."


Kata Albar.


Dinda dan Balqis saling berpandangan.


"Lagipula letak rumahku kan lebih dekat daripada dari sini kalau kalian mau ke kampus, kalian bisa diantar Pardi, kalau itu si Eti mau belajar nyetir ya tinggal pilih saja mobil di rumah."


Kata Albar lagi, lalu...


"Tapi Balqis ngga boleh belajar nyetir, dia diantar saja."


Kata Albar.


"Ikh, kok gitu."


Balqis cemberut.


"Nyonya itu harus duduk saja, nggak ada nyonya besar nyetir sendiri, ketahuan ngga bisa bayar supir."


Kata Albar.


Balqis menatap Flo yang cekikikan.


"Belajar nggak apa kali, yang penting ke mana-mana sama supir, ngga apa supirnya Bang Pardi inih, Albar nggak bakal cemburu kalau Bang Pardi."


Kata Flo.


"Tapi Aqis nggak enak sama keluarga Bang Beni kan mereka bos nya Bang Zul kakaknya Po."


"Kamu kok nggak enak sama dia, tapi enak sama aku. Mana bisa tenang aku pulang ke Perth kamu tinggal di sini."


Kata Albar.


"Kan dari awalnya ud..."


"Sudah... Sudah... itu ikan goreng nanti hidup lagi trus renang lagi kalau kalian berantem."


Flo melerai.


Dinda yang sudah kumpul dengan Eti dan Po di depan TV jadi geleng-geleng kepala.


"Urusan Beni biar Albar nanti yang bicara Qis, kamu nurut saja, posisi rumah Albar memang lebih dekat dengan kampus kalian, jadi lebih baik pindah saja."


"Bebenah lagi?"


Gumam Balqis.


"Kamu masukin saja baju yang mau dipakai, sisanya nanti Bi Tuti yang aku suruh beresin."


Balqis menatap Albar.


"Kamu serius nyuruh aku pindah gini?"


"Serius lah, kalau nggak pindah nanti kamu pergi lagi sama Beni, masak buat Beni, senyum-senyum ke Beni, ngga boleh!"


Kesal Albar membuat Flo terbahak.


"Dodol, ngomong bae, lama-lama tuh nasi jadi beras lagi, makan... makan."


Flo mendorong piring berisi nasi milik Albar yang sudah disiapkan Balqis.


"Aku nggak akan makan kalau Balqis belum bilang ya dan nurut sama aku."


Ujar Albar.

__ADS_1


Flo tertawa lagi.


"Ya udah kebeneran kalau aku sih kamu nggak makan, jatah kamu buat aku saja."


Sahut Flo enteng.


Balqis menghela nafas, lalu menatap Albar yang menatap Balqis menunggu gadis itu menjawab permintaannya.


Balqis yang melihat wajah tirus Albar dan jadi berakhir tak tega akhirnya mengangguk.


"Iya... Iya... Nanti aku ikut pulang."


Putus Balqis akhirnya, membuat Albar tersenyum lega.


"Nah gitu dong."


Albar senang bukan main, macam habis dapat lotre.


Albar lalu ke arah Dinda, Po dan Eti.


"Kalian juga, pindah semua."


Kata Albar.


"Hah, apa? Pindah?"


Eti dan Po celingak-celinguk.


Dinda mengulum senyum.


"Albar nyuruh Aqis tinggal di rumah dia saja, trus kita ikut karena buat nemenin Aqis."


Kata Dinda menjelaskan, karena tadi Dinda yang mendengar mereka berbincang, sedangkan Eti dan Po karena di depan TV jadi suara obrolan Balqis, Albar dan Flo tak terdengar karena terhalang suara TV.


"Trus rumah ini?"


Po bergumam.


"Albar mungkin yang akan ngomong sama Bang Beni."


Ujar Dinda.


"Aku setuju banget sih kalau pindah ke rumah Albar, ayuklah."


Eti berdiri dari duduknya, membawa piringnya yang sudah bersih karena makanannya habis.


"Et, nanti kamu belajar nyetir, biar bisa bawa mobil sendiri."


Kata Albar.


"Oh siap... siap."


Eti mantuk-mantuk langsung, tanpa bertanya, tanpa membantah.


Balqis menghela nafas.


"Biar nanti kalau mau jalan-jalan kamu yang bawa, jadi misal Pardi sedang ada halangan, Balqis ngga sampe diantar pergi cowok asing."


Kata Albar lagi.


Eti mengacungkan jempolnya, sambil berdiri di dekat meja makan untuk mengambil dua potong gorengan dan sambal.


"Eh tapi aku weekend tetep bisa di cafe Kak Flo kan?"


Tanya Eti.


Flo mengangguk.


"Ya dateng aja, untuk weekend tidur saja di tempatku, jadi ngga bolak-balik."


"Wiiih asik, thanks ka."


Eti senang bukan main."


Balqis dan Albar saling bertatapan lagi. Jelas sekali keduanya saling menyimpan rindu yang sama dalamnya, tapi untuk melepasnya mereka masih terhalang.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2