
Balqis tengah memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas pakaiannya, ketika hp nya menunjukkan ada pesan masuk.
Balqis meraih hp nya di samping tas pakaian di atas tempat tidur, pesan dari Po di grup, dan tentu saja Eti sudah menyambar lebih dulu membalas pesan Po sebelum yang lain.
[Gaes, ada rumah kosong nih, suruh ditempatin doang, punya saudara Bos Bang Zulfi]
[Kita tinggal bayar air, listrik, perawatan, sampah dan keamanan doang]
Tulis Po berikut foto rumah yang ditawarkan.
[Serem]
Komen Eti.
[Di mana?]
Dinda nimbrung.
[Jakarta dong Nda, masa di Amazon]
Balas Po.
[Kirain di atas Gunung Salak]
Tulis Eti.
[Maksudnya kita ngga bayar sewa Po]
Tanya Balqis memastikan.
[Iyap. Itu yang punya suami isteri ngga ada anak, udah meninggal semua, rumahnya nganggur ngga ada yang nempatin]
Tulis Po.
[Lhaa entar kayak film pengabdi setan, ada hantu bunyiin lonceng]
Eti heboh hantu bae.
Korban film horor.
[Tadinya ditempatin keponakannya, tapi sekarang dapet beasiswa di Australia. Ah siapa namanya lupa]
Tulis Po.
[Keponakan mereka udah ngga tinggal di situ lagi berarti?]
Tanya Dinda.
[Katanya sih udah enggak, tapi ada beberapa barang dia yang masih disimpan di rumah, jadi nanti kamar yang ditempati dia dikunci]
[Cowok apa cewek?]
Tanya Eti.
[Cowok.]
__ADS_1
[Kalau gitu ayuklah, sapa tahu jodohku]
Tulis Eti semangat.
Po kirim stiker guling-guling.
Sedangkan Dinda kirim stiker tepuk jidat.
Balqis sendiri merasa ini lebih kepada rezeki yang tak disangka dan tak diduga.
Ah benar saja, rezeki orang yang ingin menimba ilmu nyatanya akan selalu ada, asal kita sungguh-sungguh berniat untuk menggunakan ilmu itu nantinya hingga jadi ilmu yang bermanfaat.
[Kalau aku sih setuju saja Po, Alhamdulillah malah dapat kemudahan langsung, terimakasih untuk Bang Zul ya]
Tulis Balqis.
Po langsung mengirim stiker jempol segede Gaban.
[Oke, jadi fix kita besok ke kontrakan Bang Zul dulu ya]
Tanya Po pada teman-temannya.
[Iya Po]
Balqis menjawab.
[Yup, makmum]
Tambah Eti.
[Ikut saja]
[Sip, besok travel jemput kita jam sepuluh pagi ya, kita ketemu di travel]
Tulis Po.
Obrolan di grup chat mereka pun berakhir, semua mulai sibuk bebenah untuk berangkat ke Jakarta besok pagi.
Balqis berencana malam ini tidur lebih awal, karena besok akan masak untuk bekal diperjalanan dan juga Balqis ingin menyempatkan diri untuk pergi ke makam Aki dan Mang Kus abah angkatnya.
Setelah semua baju masuk ke dalam tas pakaiannya, Balqis pun menyingkirkan tas itu untuk diletakkan di atas kursi meja belajarnya, baru setelah itu Balqis naik ke atas tempat tidur untuk kemudian berbaring dan bersiap tidur.
Rasanya sungguh lega karena di hari akan berangkat seolah Allah langsung memberikan kemudahan dengan tawaran tempat tinggal yang tanpa harus membayar uang sewa.
Sungguh ini seperti sesuatu yang bahkan tak pernah terbayang oleh Balqis selama ini.
Sungguh ini sebuah kejutan yang luar biasa untuk Balqis.
Kejutan yang membuat hatinya tak henti-hentinya mengucap syukur.
Semoga kedepannya semua akan berjalan lebih mudah. Begitu doa Balqis.
Balqis baru akan memejamkan matanya, tatkala hp nya bergetar ada pesan baru kembali masuk.
Balqis meraih hp nya dan terlihat pesan dari Dinda.
[Sudah tidur Qis?]
__ADS_1
Tanya Dinda.
[Belum Nda]
Jawab Balqis.
[Besok kita ke Jakarta, apa kamu jadi akan mendatangi keluarga orangtua kandungmu Qis]
Tanya Dinda.
[Ya Nda, sesuai niatku, sekarang sudah waktunya aku melihat lebih dekat keluarga Ayah dan Ibu]
Balas Balqis.
[Kalau begitu nanti aku temani.]
Tulis Dinda.
[Terimakasih Nda]
**----------**
Esok paginya setelah pulang dari makam Aki dan juga Mang Kus abah angkatnya, Balqis berpamitan pada Wak Icih.
Tampak semua begitu haru melepas kepergian Balqis.
Bang Fajar pagi-pagi sekalu juga sudah sampai di rumah Aki, untuk meyakinkan Balqis tak perlu khawatir soal ayam-ayam Aki yang akan Bang Fajar tetap urus kan.
Balqis berkali-kali mengucap terimakasih kepada semuanya, termasuk juga permintaan maaf jika ada sikap dan kata Balqis selama bersama mereka ada yang dianggap keterlaluan.
Wak Icih memeluk Balqis dengan erat, mendoakan semua yang baik-baik untuk Balqis.
Teh Inggit juga begitu, bahkan Teh Inggit berjanji akan sesekali mengunjungi Balqis di Jakarta bilamana Teh Inggit ada waktu.
Sekitar jam sepuluh lebih lima belas menit, travel yang akan mengantar Balqis pun datang menjemput, di dalam travel sudah terlihat ada Dinda, Eti dan Po tentu saja yang memesankan travel itu.
Travel langganan keluarga Po jika pergi keluar kota.
Dinda, Eti dan Po menyempatkan diri untuk turun dan menyalami Wak Icih sekeluarga, terutama Dinda yang tentu saja harus ada drama kecil perpisahan dengan Bang Fajar.
"Semangat yah Dinda, belajar yang rajin dan jangan lupakan ada Bang Fajar menunggu di sini."
Kata Bang Fajar mengundang ciye ciye dari yang lain.
Balqis membawa tas pakaiannya keluar dari kamar, Navie anak laki-laki Wak Icih langsung sigap membantu membawakan tas Balqis ke mobil travel yang menunggu.
Po akhirnya mengajak semuanya segera masuk mobil karena hari sudah siang.
Po masuk lebih dulu, kemudian disusul Eti dan Dinda, Balqis melambaikan tangan pada semuanya.
"Hati-hati Qis."
Kata Wak Icih sambil berurai air mata.
Balqis mengangguk lantas segera masuk ke dalam mobil travel menyusul yang lain.
Mobil bergerak pelahan, semua melambaikan tangan, Balqis tak kuasa menahan tangisnya, Dinda merengkuhnya untuk membantu Balqis lebih kuat.
__ADS_1
**-------------**