Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
69. Sulit


__ADS_3

"Qis, kamu mau nitip apa aja?"


Eti sibuk nulis daftar cemilan yang akan dibeli untuk nanti malam nonton perform Albar.


Flo memberi kabar jika nanti saat Albar perform Flo akan siaran langsung lewat aplikasi, supaya Balqis dan teman-temannya di kampung bisa ikut menikmati.


Dan tentu saja, kabar itu langsung di sambut dengan gegap gempita, bahkan berisiknya suara Eti melebihi suara aliens yang sedang ngobrol mengintai manusia di bumi.


"Aku keripik kentang saja Et, sama coklat."


Kata Balqis.


"Ukuran gede ya."


Kata Eti yang langsung mencatat sambil tengkurap.


Po sendiri sedang sibuk mematut diri di depan cermin memakai jilbab, sedangkan Dinda sibuk baca buku tentang Bung Hatta.


Dinda memang sangat menyukai sosok Bung Hatta, buat Dinda beliau adalah salah satu tokoh yang harus ditiru banyak generasi muda.


Bukan hanya cerdas, namun juga sholeh. Wawasannya tinggi, rendah hati, dan amanah.


Hal yang paling berkesan untuk Dinda dari sosok Bung Hatta adalah saat beliau menolak berangkat ibadah haji dengan fasilitas Negara meskipun beliau saat itu menjabat sebagai orang nomor dua di tanah air.


Beliau berangkat haji dengan uang tabungan beliau sendiri, tak menggunakan fasilitas Negara meskipun sebetulnya beliau juga berhak untuk itu.


Sungguh, Dinda begitu mengagumi sosok beliau.


"Eh Nda, kamu mau nitip apa?"


Tanya Eti.


Dinda tampak menoleh sebentar ke arah Eti.


"Apa sajalah, aku ngikut aja."


Kata Dinda.


"Yeee... Aku beliin garam buat cemilan baru tahu."


Sahut Eti.


"Hahaha... Kamu tuh yang hobi ngemil garam."


Seloroh Po.


"Enak aja, kamu pikir aku gajah apa."


Eti menyambar bantal di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Po yang baru selesai pasang jilbab akhirnya jadi mencong lagi.


"Aaaah, Etiii nih rese."


Po balas melempar bantal ke arah Eti.


Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dasar kelakuan mereka selalu saja begitu. Batin Dinda.


"Eh Et, aku sekalian nitip itu juga dong."

__ADS_1


Ujar Balqis ingat sebentar lagi sepertinya ia akan datang bulan dan sepertinya pembalut miliknya hanya tinggal sedikit.


"Yang pake sayap?"


Tanya Eti.


"Pake sayap, kayak ayam."


Po yang menyahut.


"Burung kali yang punya sayap mah."


Kata Eti tak mau kalah.


"Ayam goreng kan punya sayap."


Ujar Po nyengir.


"Jiaaaah..."


Eti kemudian mengganti posisinya menjadi duduk, membetulkan letak jilbabnya sebentar baru kemudian meraih tas selempang kecilnya.


"Ini Et uangnya."


Balqis mengulurkan uang dua ratus ribu.


"Banyak amat sih Qis."


Kata Eti.


"Sekalian buat bayar cemilan kalian juga."


Ujar Eti tak enak tapi tetap saja uangnya diambil.


Po menarik ujung jilbab Eti.


"Ngga usah mulutnya, tangannya tetap nerima, dasar dodol."


"Hahaha... Ya kan kasihan Aqis nanti capek maksa-maksa."


"Hahaha... Modus dasar mafia amatir."


Kata Po membuat Balqis dan Dinda jadi tertawa.


Eti dan Po akhirnya pamit untuk pergi ke minimarket guna belanja cemilan dan beberapa kebutuhan lain untuk mengisi acara malam minggu melihat perform Albar untuk kali pertama setelah cukup lama vakum.


Setelah Eti dan Po pergi, kamar loteng pun langsung terasa sunyi. Tak ada biang kericuhan antar alam.


Balqis akhirnya memilih tiduran saja di kasur lantai yang ada di kamar itu.


Kasur yang sempat untuk tidur Albar selama ikut tinggal di sana.


Ah Albar, apa yang dia rasakan pertama kali saat tidur di kamar ini?


Kamar yang pastinya sangat jauh berbeda dengan kamar Albar di rumahnya sendiri.



Balqis kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.

__ADS_1


Tampak Dinda masih serius membaca buku tentang Bung Hatta.


"Nda."


Panggil Balqis.


Dinda terlihat menoleh sejenak ke arah Balqis yang berbaring di atas kasur.


"Kenapa Qis?"


Tanya Dinda.


Balqis sejenak terdiam, lalu...


"Ngga apa Nda, ngga jadi, terusin saja bacanya."


Kata Balqis akhirnya.


Dinda yang menangkap gelagat tak biasa dari Balqis akhirnya memutuskan menutup sejenak buku Bung Hatta'nya agar kemudian bisa menemani Balqis mengobrol.


"Ada masalah lagi Qis? Soal Albar?"


Tanya Dinda yang selalu peka dan perhatian.


Balqis menatap Dinda, ia ingin sekali membagikan apa yang tengah mengganjal di dalam hatinya, namun apakah benar akan tepat ia bicara pada Dinda?


Tapi, jika bukan Dinda, maka harus pada siapa lagi Balqis membaginya?


Jika harus bicara dengan Wa Icih sudah jelas kemarin seperti apa reaksinya dan kemudian bagaimana ia menceritakan soal Balqis yang masih bayi ketika baru sampai di kampung ini.


Jelas, melihat reaksi Wa Icih yang demikian, bisa dipastikan jika proses Balqis diadopsi oleh Mang Kus adalah sungguh-sungguh murni tak ada yang tahu.


Semua menganggap Balqis sungguh-sungguh anak Mang Kus, semua menyangka jika Balqis adalah jawaban dari kesabaran Mang Kus dan isterinya yang begitu lama mengharapkan kehadiran seorang putra.


"Ngga apa Nda, nanti saja."


Kata Balqis akhirnya.


Dinda menatap Balqis sejenak.


"Baiklah, tapi jika memang kamu sedang ada masalah, katakan padaku Qis, jangan simpan dan tanggung sendiri"


Kata Dinda.


Balqis mengangguk.


"Iya Nda, bukankah sejak dulu aku jika menghadapi masalah juga pasti akan ngadunya ke kamu."


Kata Balqis.


Dinda mengangguk


"Iya Nda, makasih yah."


Balqis tersenyum ke arah Dinda yang juga tersenyum ke arahnya.


"Ya udah, barangkali kamu mau nerusin baca Nda."


Kata Balqis akhirnya.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2