Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
153. Calon


__ADS_3

Flo dan Indra yang diberondong pertanyaan skakmat Albar kini terlihat sama-sama bingung harus menjawab apa.


Albar sendiri senang saja bisa mengerjai keduanya.


Melihat dua orang yang duduk di depannya itu tampak begitu gugup membuat Albar ingin tertawa.


Lalu...


"Kami pasti akan menikah sih Bang, tapi tidak perlu secepat itu, kami harus saling mengenal dulu."


Tiba-tiba, jawaban manis gula jawa terdengar dari mulut sang Arjuna.


Tentu saja, jawaban yang membuat hati Flo langsung berbunga-bunga seperti deposito.


"Ya kan Flo?"


Indra menoleh ke arah Flo yang gugup dan jadi tak tahu caranya merangkai kata.


"Ngg... Ngg..."


Flo seperti orang sembelit.


Albar mengulum senyum.


Apapun, meski Albar seolah hanya mengisengi keduanya, namun sejatinya Albar sebetulnya sedang ingin melihat kesungguhan Indra mendekati Flo.


Albar sebagai saudara laki-laki Flo, tentu tak mau Indra seperti mantan kekasih Flo dulu, yang hanya berniat mengereti Flo saja lalu tiba-tiba tak bertanggung jawab.


Untuk Albar, cukuplah Flo bertemu laki-laki macam itu sekali saja, kali ini, Albar ingin saudaranya itu bertemu laki-laki baik yang sungguh menyayangi Flo dan memiliki niat baik juga padanya.


Hingga...


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan pelataran cafe Flo.


Mereka turun, dan Flo berjalan mendahului Albar dan Indra.


Alasannya, tentu saja karena Flo harus meminta Lisa menyiapkan sajian makan malam untuk Albar dan Indra.


Dan selain itu, Flo ingin cepat ke kamar mandi di dalam kamarnya untuk membasuh wajahnya yang pasti kini sudah merah seperti di poles crayon.


Albar dan Indra berjalan beriringan menuju cafe Flora.


"Aku titip Flo, Ndra. Jaga dia baik-baik, jangan mengecewakan dia."


Kata Albar yang kali ini tampak begitu serius dan terdengar suaranya penuh tekanan.


Indra mengangguk tanpa ragu.


"Flo gadis yang baik, tentu saja tak ada yang berhak mengecewakannya, saya akan ingat itu selalu."

__ADS_1


Ujar Indra tanpa ragu.


Albar tampak tersenyum lega.


Albar bisa melihat sosok Indra yang sepertinya memang benar-benar orang baik.


"Tapi..."


Tiba-tiba Indra terdengar menggantung kalimatnya, membuat Albar menoleh ke arahnya.


"Tapi apa?"


Tanya Albar.


Indra menghentikan langkahnya sejenak, memaksa Albar juga jadi ikut menghentikan langkahnya pula.


Indra memandang Albar dengan wajah seperti wajah orang rendah diri.


"Santai saja, katakanlah."


Ujar Albar.


Setelah mengatur nafasnya, dan untungnya nafas Indra mudah diatur tak seperti kebanyakan anak jaman sekarang yang susah diatur, akhirnya Indra meneruskan kalimatnya.


"Tapi saya pernah menikah Bang, dan saya hanya karyawan biasa dengan gaji UMR, dan juga anak orang miskin."


Kata Indra.


"Pernah menikah tapi sudah tidak jadi tak masalah. Karyawan swasta gaji UMR yang penting halal. Dan anak orang miskin, memangnya kenapa? Aku rasa Flo tak perlu mertua kaya raya, dia sudah punya semuanya."


Kata Albar santai.


Tangannya menepuk bahu Indra.


"Tenang saja, kami keluarga yang demokratis, kami juga sudah lebih dari cukup, tak butuh menambah kekayaan lagi."


Kata Albar santai.


**--------------**


Eti masih berada di depan TV saat jam sudah mendekati angka sembilan malam dan Bang Zul tampak pulang.


Balqis sendiri yang uring-uringan tak jelas karena belum juga dapat kabar dari Albar memutuskan naik ke lantai atas lagi dan masuk kamar untuk belajar meski prakteknya ia justeru ketiduran.


"Sepi banget, belum pada pulang ya?"


Tanya Bang Zul pada Eti.


Bang Zul mengulurkan satu kresek dengan tulisan minimarket yang siapa saja pasti tahu minimarket itu, hohoho...

__ADS_1


"Aku tadi isi E'toll, eh inget kamu suka es krim, jadi aku belikan."


Kata Bang Zul.


"Dua?"


Tanya Eti.


"Ya tadinya satu buat Balqis kirain masih melek."


Kata Bang Zul sambil duduk di samping Eti.


"Kalau gitu ini hak milik aku semua saja, Balqis sudah naik kamar dari tadi, paling dia tidur."


Ujar Eti.


Bang Zul mantuk-mantuk sambil bersandar di sofa.


"Besok ke cafe Flo jam berapa?"


Tanya Bang Zul.


"Jam delapan kayaknya, apa jam berapa sih enaknya."


Kata Eti pula.


"Lah kata Kak Flo suruh ke sana jam berapa memangnya?"


Tanya Bang Zul jadi keder.


Eti membuka bungkus es krimnya, dan mulai menikmatinya.


"Belum kasih tahu besok harus ke sana jam berapa."


"Tanya dong, biar enak, masa hari pertama jadi karyawan sudah salah jadwal berangkat."


Bang Zul tertawa.


Eti tampak nyengir, lalu...


Eti akhirnya meraih hp dari saku baju tidurnya, dan mengirim pesan pada Flo.


[ Kak Flo, maaf Kak ganggu waktu istirahat Kakak.


Kalau boleh tahu, besok Eti harus berangkat ke cafe jam berapa ya Kak? ]


Pesan itupun terkirim.


Terbang dibawa angin dengan cepat agar bisa segera masuk ke dalam hp Flo.

__ADS_1


Ah untunglah malam ini hujan tak turun, kalau saja turun, pasti pesan itu minggir berteduh duluan, dan itu pastinya akan memakan waktu yang sangat lama.


**---------------**


__ADS_2