Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
101. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Albar terlihat menatap Flo dengan mata bulat seperti bola pingpong, hei hei...


"Kamu... Serius kan Flo?"


Tanya Albar dengan suara bergetar.


Flo mengangguk.


"Aku semalam sama dia."


"Hah!!"


Albar hampir memantul saking kagetnya.


"Kamu sama Balqis? Di... Dimana?"


Albar sungguh seperti masih sulit percaya.


Ah inikah alasannya hatinya seolah terus menuntutnya pulang ke Indonesia, dikiranya ia hanya karena kangen makan Indomie rebus dan gorengan di warkop sambil nyeruput kopi instan, ternyata sekarang...


Flo terlihat kembali menganggukkan kepalanya.


"Dia ada di Jakarta Bar, dia ke cafe aku kemarin sore, aku juga hampir tidak percaya melihat Balqis datang ke cafe ku. Ini semacam takdir yang memang sudah direncanakan dengan sangat baik. Jelas bukan hanya sekedar kebetulan biasa Bar."


Ujar Flo.


Albar terdiam.


Ia sibuk merasakan dadanya yang kini seolah berdegup sangat cepat, jauh lebih cepat dari biasanya.


Mata Albar seketika meremang, ada air tergenang di sana membuat kedua mata beningnya berkaca-kaca.


"Apa kabar dia Flo? Apa dia sehat? Dia baik-baik saja? Dia kurus atau bagaimana?"


Albar seolah ingin tahu semua kabar tentang Balqis.


"Dia sehat, masih sama seperti dulu, tak terlalu kurus, tapi juga tidak gemuk. Dia masih cantik, bahkan jauh lebih cantik, kamu tak akan sanggup berangkat ke Perth lagi jika bertemu dengannya."


Albar tanpa terasa meneteskan air mata.


Sadar ia betapa aslinya rindu itu begitu dalam, dan saat ia kini mendengar harapan untuk bertemu yang ia rindukan seolah muncul, maka semua rasa rindunya berlomba keluar.


"Kau tahu di mana ia tinggal Flo?"


Tanya Albar.


"Tak jauh dari cafe ku, kita bisa ke sana sekarang jika kamu mau."


Ujar Flo.


Flo kemudian meraih hp nya, lalu masuk ke galeri dan memberikan pada Albar.


Albar menerima hp Flo dan menatap layarnya yang kini menampakkan foto Balqis.



"Eti, dia di Jakarta dengan Eti?"


Tanya Albar.


Flo tersenyum seraya mencomot satu lumpia lagi.


"Bukan hanya Eti, tapi juga Po dan Dinda, mereka seperti gerbong kereta api yang ke mana-mana selalu bareng."


Albar terlihat begitu lega.


"Aku minta fotonya."


Kata Albar yang kemudian bergegas berdiri dan setengah berlari menuju anak tangga rumah untuk ke lantai dua ke kamarnya.


Tapi di tengah tangga Albar tiba-tiba berhenti dan melongok ke arah Flo.


"Kita pergi ke rumah kontrakan mereka sekarang Flo, aku ganti baju dulu."


Flo yang sedang makan lumpia hanya mengacungkan ibu jarinya.

__ADS_1


Albar meneruskan langkahnya dengan terburu ke arah kamar.


"Tunggu aku Bal, aku janji akan jelaskan semuanya kali ini, aku akan berusaha tak lari lagi, aku janji."


Gumam Albar seperti pada udara.


**-----------**


"Qiiiiiiis... Aqiiiiiiis..."


Po dan Eti berteriak di luar pagar memanggil nama Balqis.


"Sepi banget, tidur kali."


Kata Eti.


Po membuka tas selempang yang ia pakai, dan segera mengambil hp nya.


Dinda yang berdiri di belakang dan sudah sibuk dengan hp nya kemudian melarang Po yang sudah jelas akan menghubungi Balqis.


"Aqis pergi. Ini aku baru baca chat dia di grup."


Kata Dinda.


Po kemudian melihat layar hp nya yang ternyata juga ada chat dari Balqis.


[Aku pergi sebentar ke rumah Paman Bang Beni. Di dalam ada Pizza dan Burger dimakan saja ngga apa. Kunci gembok dan pintu ada dibawah keset dekat pot bunga]


Dinda berjongkok dekat pot bunga yang di sana ada keset karet warna hitam ukuran besar.


Dinda menyingkap keset itu dan di bawahnya terlihat ada kunci.


"Aqis pergi ke Paman Bang Beni? Memangnya dia tahu rumahnya?"


Tanya Po heran sambil menerima kunci yang diberikan Dinda.


"Udah bahasnya nanti, panas gila ini, cepetan panas banget."


Kata Eti tak sabar.


"Iya... Iya..."


Po segera membuka gembok pagar lalu berjalan ke arah pintu untuk membuka kuncinya juga.


"Aku duluaaaaan, yuhuuuuu..."


Eti langsung trabas masuk lebih dulu, Dinda mengikuti sambil menggelengkan kepala.


"Gaes, ada pizza..."


Eti yang masuk ke dalam lebih dulu terdengar heboh.


Po menutup pintu, lalu masuk menyusul Dinda yang lebih dulu sampai di ruang tengah di mana ada ruang TV dan meja makan.


"Kan Aqis udah kasih tahu di grup ada pizza sama burger."


Eti duduk di kursi makan dan mencomot satu potong pizza dan dalam kotak.


Sambil makan Eti melihat dua gelas kosong di atas meja juga, yang sepertinya memang Balqis belum sempat membereskan.


"Ada siapa sih? Balqis ada tamu? Dia pergi sama orang yang datang ini?"


Tanya Eti menunjuk dua gelas kosong di meja makan pada Dinda.


Semua tahu jika dari ketiganya, Balqis paling dekat memang dengan Dinda karena mereka sudah berteman dan bersahabat sejak sebelum masuk TK.


"Aku juga ngga tahu, Aqis cuma bilang pergi ke tempat Paman Bang Beni, berarti orang yang ngijinin kita tinggal di rumah ini, yang majikan Bang Zul kan Po?"


Tanya Dinda yang juga ikut duduk di ruang makan.


Sementara Po yang memilih lebih dulu ke kamar hanya menyahut...


"Haaaaah? Apaaa?"


Dinda menghela nafas.

__ADS_1


"Bolot dia mah."


Kata Eti.


Dinda membuka kotak pizza di atas meja.


Pizza ukuran jumbo itu masih tersisa lima potong lagi, Dinda mengambil satu potong.


"Apa mungkin Kak Flo yang datang? Soalnya nih, nih, tuh kan beli makanan segini banyak udah pasti lah Kak Flo."


Kata Eti.


Dinda mengangguk.


"Sepertinya iya."


Sahut Dinda.


Po di dalam kamar sudah melepas jilbab dan berganti pakaian rumah, baru ia keluar kamar dan menuju meja makan.


"Yeee pesta."


Kata Po semangat.


Po mengambil satu potong pizza, lalu berjalan ke dapur untuk ambil air minum.


"Po sekalian aku dong, botol nya bawa sini."


Kata Eti.


Po menurut, dibawanya botol air dingin yang baru ia ambil dari kulkas ke meja makan dan dua gelas kosong.


"Ah aku mau mandi ajalah, panas banget gila Jakarta, matahari kayak nongkrong di monas."


Kata Eti setelah meneguk satu gelas air dingin.


Gadis itu berdiri dan pergi menuju kamarnya untuk melepas jilbab dan juga mengambil handuk serta pakaian ganti.


Dinda sendiri ke dapur untuk menata beberapa bahan makanan yang baru mereka beli juga.


Sebagai anak rantau, untuk menghemat pengeluaran memang mereka berencana akan masak sendiri, tugas masak akan di bagi tugas.


"Nda, tadi beli ayam, bikin opor aja."


Kata Po.


"Ah, aku mau bikin sambel aja sama goreng tempe dan telur dadar."


Kata Dinda.


"Yaaaaah."


Po kecewa di atas kursi makan.


"Hemat Po, ayamnya nanti aja."


Kata Dinda.


"Iya laaa, kamu mah udah kayak emak-emak banget emang."


Kata Po sambil tertawa.


Eti masuk kamar mandi, sedangkan Dinda baru ganti pakaian dari kamar sementara Po sudah pindah ke ruang TV untuk nonton acara gosip tentang artis, saat terdengar di depan rumah seperti ada tamu.


"Po, tolong dong kamu saja yang buka, aku ngga pake jilbab."


Kata Dinda.


Po menoleh ke arah Dinda yang sudah berganti daster rumah, lalu akan menuju dapur untuk masak.


Po pun segera beranjak dari ruang TV, lalu menuju depan rumah.


Tok tok tok...


Suara ketukan di pintu terdengar lagi.

__ADS_1


Po bergegas membukanya, dan...


**-----------**


__ADS_2