
Balqis berusaha melepaskan tubuhnya dari Eti dan Po yang berusaha menggiringnya masuk ke dalam rumah.
Tapi Eti dan Po mana mau menyerah, mereka bertahan hingga titik darah penghabisan.
Begitu sampai di pintu, barulah Eti melepaskan tangannya dari mulut Balqis.
"Kamu tuh, apaan sih Et?"
Balqis menatap Eti kesal.
Tapi Eti hanya nyengir kuda tanpa dosa, ia malah mendorong Balqis masuk melewati pintu ke arah Dinda yang menunggu di sana, begitupun dengan Po.
"Ada yang nungguin Qis."
Kata Dinda halus seraya meraih lengan Balqis.
Balqis menatap Dinda sejenak, baru kemudian menoleh ke arah ruang tamu di mana mata Dinda mengarah ke sana seraya bibirnya tersenyum.
Dan...
(Kenapa othor nulis ini tiba-tiba bayangin lagu The Man, ost Secret Garden?)
Balqis seketika matanya meremang, tatkala dilihatnya seseorang berdiri di sana.
Seseorang yang kini menatapnya begitu dalam dengan mata yang juga berkaca-kaca.
Balqis sedikit terhuyung, membuat Dinda segera merangkulnya.
"Bicaralah dengan Albar, Qis. Sudah waktunya kalian saling menuntaskan semua masalah secara dewasa."
Lirih Dinda pada Balqis.
Flo di sana juga terlihat ikut berdiri dan kemudian menepuk bahu Albar seolah mencoba menguatkan saudara sepupunya itu.
Albar menunduk sebentar karena air matanya menetes, ia tak bisa menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya sekarang.
Dinda membawa Balqis ke ruang tamu di mana Albar terlihat mematung karena kakinya seolah lemas luar biasa.
Sungguh, sekian lama, di mana setiap detik yang berlalu rasanya begitu menyiksanya. Rasa rindu dan ketakutan atas kesalahan di masa lalu, merasa menjadi penyebab ketidak beruntungan orang yang dicintai, merasa takut jika nantinya akan menjadi penyebab ketidak bahagiaannya lagi.
Namun...
Balqis yang kini berjalan dengan kaki yang sama lemasnya juga terlihat menangis, entah apa yang kini ia rasakan begitu melihat Albar.
Benci dan marah yang terkadang masih datang menyusup hatinya, kini entah hilang ke mana.
Melihat Albar yang kurus dengan wajah tak seceria dulu pertama mereka bertemu membuat dada Balqis rasanya begitu sakit dan sesak.
Setersiksa itukah dia?
Begitu tak bahagianya kah dia?
Kenapa?
Balqis menutup wajahnya begitu sudah dekat dengan Albar, tangis Balqis tak terbendung, pecah seolah tak mampu lagi ia menahan semua perasaannya kali ini.
Albar melangkahkan kakinya mendekati Balqis, tak tahan ia meraih Balqis ke dalam pelukannya.
"Maaf, maaf, maafkan aku."
Kata Albar dengan suara tertahan.
Balqis yang menangis di dada Albar hanya mampu memukul lembut dada Albar seolah ingin meluapkan semua rasa kesalnya.
Flo tampak berjalan ke arah Dinda untuk mengajak Dinda yang ikut menangis untuk meninggalkan Albar dan Balqis sementara waktu.
Eti dan Po di pintu juga ikut berkaca-kaca, mereka sangat terharu akhirnya setelah setahun lebih Balqis dan Albar bisa bertemu lagi.
"Ada apa? Lho Alb..."
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara di belakang Po dan Eti, yang otomatis membuat Po dan Eti menengok ke arah asal suara.
Terlihat Bang Beni berdiri di sana menatap nanar Albar dan Balqis di ruang tamu rumahnya.
"Sebentar Bang."
Po tiba-tiba mendorong Bang Beni keluar.
"Ta... Tapi itu Alb..."
"Iya itu Albar, cowoknya Balqis."
Kata Po.
Demi mendengarnya Bang Beni menatap Po.
"Apa? Cowok Balqis? Albar? Maksudnya mereka?"
Po mengangguk.
"Mereka harusnya sudah menikah, jadi diamlah."
Kata Po, lupa dia kalau sekarang sedang menumpang di rumah Beni.
"Haiiish, Albar Harrys?"
Bang Beni menepuk jidatnya.
Sudah jelas ia tak akan bisa melawan jika saingannya adalah Albar.
Ya, tentu saja...
Albar dengan sederet keberuntungan hidupnya, tak banyak orang bisa mendapatkan nasib sebaik dia.
Bang Beni belum apa-apa sudah tertunduk lemas.
Kata Po yang tumben bijaksini.
Bang Beni menghela nafas, sebelum kemudian mengangguk.
"Ya, baiklah."
Kata Bang Beni akhirnya, ia pun memutuskan melangkah ke motornya lagi saja, lalu pergi meninggalkan rumahnya sebentar untuk mencari cafe atau tempat lain untuk ngadem.
Albar? Kenapa harus Albar? Batin Bang Beni.
**-----------**
Balqis dan Albar duduk di ruang tamu di satu kursi panjang. Mereka duduk berdekatan tapi tetap ada jarak.
Balqis terlihat terus menunduk, tangisnya telah sedikit reda, meski sesekali air matanya masih berlinang.
Albar menatap gadisnya dengan tatapan yang begitu dalam dan lembut, seolah tak ingin sedetikpun ia berkedip hingga melewatkan satupun momen kebersamaannya dengan Balqis.
Ketakutan jika ia tak akan bisa menatap Balqis lagi menderanya perlahan.
"Bal."
Panggil Albar setelah sekitar sepuluh menit lebih berlalu tanpa kata di antara keduanya. Memecah keheningan, mencairkan kebekuan.
"Aku sungguh meminta maaf untuk semua yang aku lakukan, aku terlalu takut menjelaskannya, aku takut kamu membenciku hingga aku akan semakin membenci diriku sendiri juga."
Lirih Albar.
Tampak Balqis kembali sesenggukan, kedua tangannya yang memegangi tissu terlihat gemetaran.
"Setahun lebih aku terus memikirkanmu, ingin sekali kembali ke rumah Aki untuk melihat keadaanmu, memastikan kamu tak telat makan, kamu sehat, kamu baik-baik saja di sekolah, kamu tidak menangis."
Balqis kali ini menatap Albar dengan kedua matanya yang penuh air mata.
__ADS_1
"Kenapa kamu ninggalin Aqis tiba-tiba? Salah Aqis apa?"
Tanya Balqis dengan suara yang begitu lirih dan penuh tekanan.
Melihat air mata yang membasahi kedua pipi Balqis, rasanya ingin sekali Albar mengulurkan tangannya untuk mengusapnya.
"Aku takut Bal."
Kata Albar.
"Aku takut karena masa lalu orangtua kita, aku takut karena aku..."
Albar rasanya tak sanggup mengatakannya, terlalu menyakitkan, terlalu berat, ia semakin takut kehilangan Balqis lagi.
"Karena orangtua Albar yang menyebabkan kematian orangtua Aqis?"
Tanya Balqis lirih.
Albar mengangguk pelan.
"Aku baru tahu hari itu saat pergi ke makam orangtuamu Qis, sungguh aku tak tahu harus bagaimana selain ingin lari."
Kata Albar.
Balqis menatap Albar yang juga menatapnya dengan lembut.
Ya, Balqis bisa merasakannya, merasakan jika Albar bicara apa adanya, merasakan luka yang ada di hati Albar juga sama seperti dirinya.
Saat Balqis membenci Albar, pun juga Albar sesungguhnya membenci diri Albar sendiri.
Dan apa yang lebih menyakitkan di dunia ini selain dibenci orang yang kita cintai dan kita sendiripun membenci diri sendiri?
"Kamu mau memaafkan aku Bal?"
Tanya Albar akhirnya.
Ia takut sebetulnya bertanya hal itu, takut jika nanti Balqis memberikan jawaban yang ternyata tak seperti yang ia bayangkan.
Balqis menatap Albar dalam-dalam, nyatanya cinta kadang memang aneh rasanya, saat tak ada orangnya, benci itu seolah begitu mengakar, namun kini...
Balqis sedih melihat Albar jadi begitu kurus, wajahnya juga begitu tirus.
"Kalau kamu ngga bisa memaafkan aku, tidak apa Bal, aku akan berusaha mengerti, aku tahu jika kesalahanku terlalu besar, tidak apa-apa Bal."
Lirih Albar.
Balqis mengusap air matanya, tapi tetap saja air mata baru menetes lagi.
"Albar sudah makan?"
Tanya Balqis pada Albar.
"Hmm..."
Albar jadi bingung kenapa Balqis malah tanya apa dia sudah makan.
"Mau Aqis masakkan sesuatu?"
Tanya Balqis lagi dengan mata yang masih berurai air mata.
"Aqis akan masak yang enak agar Albar makan lahap lagi, biar jangan kurus."
Kata Balqis sambil menangis.
Albar tak kuasa menahan harunya, ia meraih tangan Balqis dan menciumnya.
"Maaf... Maaf... "
**----------**
__ADS_1