
Balqis baru turun dari sepeda dan akan memasukkan sepedanya ke dalam ruangan yang bersebelahan dengan dapur saat kemudian berpapasan dengan Aki dan Albar yang sepertinya akan pergi ke mushola.
Albar tampak memakai kemeja dan sarung baru, yang sudah jelas itu dipinjami Aki.
Balqis menatap Albar dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Rasanya aneh sekali melihat artis itu tiba-tiba mirip santri, atau bahkan mirip ustadz, hihihi...
"Kenapa? Pasti jadi ingat Ustadz Jefri yang keren."
Kata Albar menyombongkan diri.
Balqis jadi melet ke arahnya.
"Maunyaaaa."
Kata Balqis.
Aki terkekeh melihat keduanya.
"Sudah, ayo Tuan, sebentar lagi adzan."
Kata Aki.
"Ki, nanti pada ngenalin Albar gimana?"
Tanya Balqis pada Aki.
Aki tampak tersenyum.
"Tidak akan ada yang menyangka Tuan Albar artis yang di TV kalau mengenakan pakaian seperti ini."
Ujar Aki.
Balqis memandangi Albar lagi.
Iya sih, kalau penampilannya begini yang ada dikiranya malah habib bukan artis. Batin Balqis.
"Lagipula nanti aku akan memperkenalkan diri sebagai calon suami Balqis yang manis."
Kata Albar meledek Balqis yang membuat Balqis mendesis ke arahnya.
"Tau ah."
Kata Balqis sambil berjalan masuk meninggalkan Albar dan Aki.
Albar tertawa.
"Ayo Tuan."
Ajak Aki lagi.
Albar mengangguk, lalu mengikuti Aki keluar rumah.
"Di kunci kan Ki?"
Tanya Albar.
Aki mengangguk.
"Iya Balqis sendirian, jadi dikunci saja."
Kata Aki.
Albar membuka pintu lagi, meraih kunci yang menggantung dan kemudian mengunci pintu dari luar.
Albar menyerahkan kuncinya ke Aki, lalu mereka berjalan beriringan menuju mushola.
"Selepas isya kita mampir ke rumah Pak Haji Hasan sebentar."
Kata Aki.
Albar mengangguk saja.
__ADS_1
Albar menatap langit sore ini, yang meskipun warna lembayung senja tak berbeda dengan warna senja di hari-hari sebelumnya, namun entah kenapa di dalam hati Albar rasanya jauh lebih indah.
Suara adzan maghrib mulai berkumandang dari mushola.
"Itu nak Fajar yang adzan, dia juga masih muda, dia usaha jual daging ayam di pasar, setiap hari dia ambil beberapa ayamnya dari tempat Aki."
Kata Aki.
Albar mengangguk saja.
Di jalan Albar bertemu dengan beberapa orang yang juga akan pergi ke mushola, kebanyakan dari mereka menyapa Aki dengan ramah.
Seseorang yang seusia Aki tampak mendekat dan bahkan mengajak salaman Albar.
"Jadi ini anak saudara dari Jakarta yang kemarin datang?
Tanya teman Aki.
Aki mengangguk.
"Iya ini untuk sementara tinggal di rumah."
Kata Aki.
"Iya biar sekali-kali kan merasakan hidup di kampung, udaranya masih segar."
Ujar teman Aki.
Albar mantuk-mantuk sambil tersenyum.
Saat kemudian sudah dekat dengan mushola, beberapa Ibu dan remaja putri memandangi kedatangan Albar bersama Aki.
"Siapa itu?"
"Wah kayak artis yah?"
"Ganteng inilah, lihat kayak ustadz."
Semua heboh membicarakan Albar.
Yah, seperti yang ia bilang pada Flo, jika ia akan menganggap pengasingannya ini sebagai liburan sederhana, jadi Albar memang memutuskan untuk menikmatinya saja.
Menikmati kehidupan sederhana di kampung Aki. Kehidupan yang bertolak belakang dengan kehidupannya selama ini.
**---------**
Balqis masuk ke kamarnya, meletakkan tas selempangnya di atas rak, melepas jilbabnya, lalu meraih setelan baju tidurnya.
Ia keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka dan ganti baju lalu ambil wudhu.
Setelah itu baru ia kembali ke kamar untuk sholat maghrib.
Lima belas menit Balqis sholat dan baca dzikir sebentar, lalu setelah itu baru ia keluar kamar lagi untuk pergi ke dapur untuk melihat sisa lauk apa yang ada di lemari makan.
Masih ada dua potong ayam goreng saja dan sisa tumis kangkung siang tadi.
Balqis menuju kulkas, mengambil dua telur, satu wortel, tomat dan sawi.
Balqis ingat ia masih punya mie telor di dapur, ia akan membuat mie goreng saja dan telor mata sapi untuk Aki dan Albar.
Balqis masak di dapur sambil sesekali menonton acara Running Man kesukaannya di salah satu aplikasi lewat hp nya.
Balqis masih mengolah mie goreng nya ketika ada pesan masuk ke hp.
Buru-buru Balqis mengecilkan api kompornya, dan kemudian meraih hp nya.
Po mengirim foto di grup chat.
[Kayak kenal nih]
Tulis Po di bawah foto yang ia kirim.
Foto siapa lagi jika bukan Albar.
__ADS_1
Albar bersama Aki yang berjalan beriringan dari mushola menuju rumah Haji Hasan yang memang tak begitu jauh dari rumah Po.
[Weh, pangling]
Eti langsung berkomentar.
Sementara Dinda mengirim stiker dengan mata berbentuk love.
[Calon Nyonya Bara, halo]
Tulis Po lagi.
Balqis mengambil gambar penggorengannya yang kini berisi mie goreng.
[Sibuk ges]
Tulis Balqis, yang justeru semakin jadi bahan godaan teman-temannya.
[Calon Nyonya, suami ke mushola, isteri masak makan malam]
Po komen dengan tak lupa mengirim stiker tertawa guling-guling.
[Ati-ati keasinan, masih lama nunggu lulus]
Tambah Eti.
Dinda mengirim stiker tertawa.
Haiish... Balqis mendesis sambil menggelengkan kepalanya.
Benar-benar mereka menyangka perjodohan Balqis itu serius.
**-------**
"Jadi maksudnya, Nak Bara ini yang akan meminjamkan dana untuk modal kelompok ternak kita Bah?"
Tanya Haji Hasan pada Aki.
Aki mengangguk.
"Saya tidak menyangka jika yang tadi sore Abah bilang ada yang akan menolong kelompok kita untuk meminjami modal adalah anak muda, luar biasa, anak semuda ini sudah sukses, saya jadi malu Bah."
Haji Hasan terkekeh.
Albar tersenyum saja.
Putri Haji Hasan keluar dari dalam rumah membawa senampan sajian untuk tamu Abi nya.
Gadis itu meletakkan tiga cangkir teh dan sepiring lapis legit keju di atas meja.
Ia sempat melirik pada Albar yang duduk bersisian dengan Aki nya Balqis.
Amel, yah dia putri bungsu Haji Hasan. Usianya sama dengan Balqis, bahkan mereka juga satu kelas.
Hanya saja, sejak kecil ia dan Balqis tak pernah bermain bersama, entah apa yang membuat Amel tak pernah suka berteman dengan Balqis, bahkan hingga hari ini.
Tapi...
Benarkah cowok tampan bernama Bara itu saudara Aki?
Jika dia saudara Aki berarti dia juga saudara Balqis.
Setelah meletakkan sajian untuk para tamu, Amel permisi untuk masuk ke dalam.
Sebelum masuk ia menyempatkan diri menoleh ke arah Albar lagi yang duduk tenang tanpa terpengaruh dengan kehadiran Amel di sana.
Ah yah tentu saja, Albar sudah terlalu terbiasa dikelilingi perempuan, jadi meskipun Amel main holahopan di sana pun Albar tetap akan santai saja.
"Mangga Bah, Nak Albar, maaf cuma ini yang bisa disuguhkan."
Haji Hasan mempersilahkan.
"Ah ini juga sudah cukup Pak Haji."
__ADS_1
Kata Aki seraya mengambil cangkir teh nya untuk dinikmati.
**-------**