
"Albar Harrys?"
Fajar menatap Albar, begitu juga dengan Eti dan Po.
Albar membeku menggenggam kertas dari rumah sakit yang baru saja ia tarik lagi dari tangan Fajar.
Eti menghampiri Albar dan kemudian mencengkram lengannya.
"Kamu... Albar? Kamu sungguh Albar?"
Eti melebarkan matanya.
Dinda yang sebetulnya sudah tahu dari Balqis tampak mengurut keningnya.
Sementara Albar yang sudah tak mungkin berbohong lagi akhirnya mengangguk.
Eti mendorong tubuh Albar dengan perasaan campur aduk.
Saat harusnya ia sangat senang bisa bertemu dengan idolanya, entah kenapa kini yang ada adalah kesal, marah, kecewa dan semua rasa tak enak yang membuat dadanya ingin meledak.
Ya...
Ia dibohongi selama ini, dan dengan bodohnya ia percaya, padahal ia sangat tahu jika cowok yang dikenalkan padanya bernama Bara itu sangat persis dengan Albar.
Sama seperti Eti, tampak Po juga terlihat syok. Meskipun ia bukan salah satu fans berat Albar, namun mengetahui selama ini ternyata Balqis membohongi mereka membuat Po sangat kecewa.
Eti dan Po kemudian menatap Dinda yang seolah bereaksi biasa saja.
"Kamu sudah tahu kan Nda?"
Cecar Eti dan Po tiba-tiba.
Dinda tampak serba salah.
Dinda berusaha akan menjawab namun Eti lebih dulu berkata lagi dengan suara sinis.
"Sudah jelas kamu tahu dan kamu bersekongkol dengan Balqis karena menganggap kami bodoh, ya kan?"
Eti malah jadi emosi.
Fajar yang melihat kesemrawutan itupun akhirnya berusaha melerai.
Fajar menghampiri Eti, Po dan Dinda, menjauhkan Eti dari Dinda agar nantinya tak sampai bersikap lebih buruk.
"Sudahlah, bisakah kita bahas ini nanti, Aki meninggal dan Balqis masih tak sadarkan diri!"
Kata Albar yang jadi tak nyaman dengan situasi ini.
Eti menatap tajam Albar Harrys.
Idolanya selama hampir satu tahun itu kini membuatnya langsung ilfil.
"Diem kamu Bar! Kamu ngga layak jadi idola lagi! Pembohong!"
Bentak Eti, lalu meraih tangan Po.
"Ayo kita pergi dari sini Po!"
Kata Eti pada Po.
Po mengangguk.
Keduanya kemudian bergegas pergi meninggalkan Albar, Dinda dan Fajar.
Po menelfon Kak Zul, kakaknya yang tadi baru pulang dari Jakarta langsung dimintanya mengantar Po dan teman-teman begitu mendengar Aki kena serangan jantung.
Dinda berusaha mengejar Eti dan Po.
"Tunggu, kalian mau pergi begitu saja? Haruskah? Balqis sedang kehilangan Aki dan kalian marah hanya soal Albar Harrys?"
Dinda benar-benar tak habis pikir.
__ADS_1
Dinda meraih lengan Eti dan mencoba menahan langkah Eti.
Eti mengibaskan tangan Dinda.
"Lepas!"
Bentak Eti.
"Eti! Sadarlah! Apa pentingnya mempermasalahkan Albar Harrys sekarang?"
Kesal Dinda.
Eti mendengus marah.
"Ini bukan masalah Albar Harrys nya Nda, ini masalah kalian selama ini berarti tak menganggap kami sahabat! Kami dibohongi sedemikian rupa, itu masalahnya!"
Nada suara Eti meninggi.
Semua jadi menatap pada mereka.
Dinda yang tak enak menarik Eti keluar dari Rumah Sakit, mereka bicara di pelataran.
Po mengikuti Eti dan Dinda dengan pasrah, layaknya figuran yang tak terlalu menuntut banyak peran. Hihihi...
"Aku juga baru tahu dua hari lalu, kamu pikir aku ngga kaget saat Balqis memberitahu soal Bara adalah benar Albar Harrys?"
Kesal Dinda.
Eti dan Po terdiam.
"Balqis juga selama ini melakukannya karena tak ada pilihan, ia mengikuti keinginan Aki yang tak mau identitas Albar diketahui orang lain, kita harus mengerti."
Kata Dinda.
"Aku ngga bisa jelasin semuanya, nanti Balqis pasti yang akan jelaskan, sekarang kita sebagai sahabat harusnya ada untuk Balqis yang sedang berduka kehilangan Aki."
Dinda mencoba membuat Eti dan Po mengerti dan tak mengikuti amarah mereka.
Tampak Eti dan Po berpandangan, lalu akhirnya menatap Dinda lagi.
"Aku yakin kalian sayang sama Balqis, dan kalian bisa memahami Balqis selama ini."
Kata Dinda.
Eti akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Kata Eti mengalah.
Po juga tampak mengangguk.
Dinda terlihat tersenyum lega.
Ia kemudian meraih tangan Eti dan Po untuk kembali mengajak mereka masuk ke Rumah Sakit dan kembali ke ruangan di mana Balqis kini mendapat perawatan.
Fajar tampak duduk di depan ruangan sendirian.
"Ke mana Albar?"
Tanya Dinda.
"Balqis sudah siuman."
Ujar Fajar.
Dinda, Eti dan Po akhirnya masuk ke dalam ruang perawatan Balqis.
**-----------**
Rumah Aki sudah dipenuhi para warga yang melayat saat ambulance yang membawa jenazah Aki datang.
__ADS_1
Dua mobil milik Albar dan Kak Zul kakaknya Po mengiring di belakang ambulance.
Saat jenazah diturunkan dari ambulance, beberapa tetangga tampak sigap membantu menurunkan jenazah Aki.
Haji Hasan dan teman-teman Aki di kelompok ternak desa juga sudah tampak ada di sana.
Balqis turun dengan lemas dari mobil dalam pelukan Dinda dari mobil Albar yang dikemudikan Fajar.
Albar yang ikut di ambulance menemani jenazah Aki tampak turun dan ikut menggotong bersama para tetangga jenazah Aki ke dalam rumah.
Wa Icih dan beberapa keluarga Aki sudah menyiapkan rumah Aki untuk menyambut kedatangan jenazah.
Karpet dan tikar di gelar di ruang utama. Pintu rumah dibuka lebar dan semua kursi sudah dikeluarkan.
Balqis disambut Wa Icih yang memeluknya.
Balqis menangis tak henti-henti.
Terlalu banyak pukulan dalam hidupnya di hari ini.
Sungguh pukulan ini terlalu berat dan Balqis rasanya nyaris tak mampu menanggungnya.
Jenazah aki kini dibaringkan di tengah ruangan, beberapa tetangga yang melayat mulai mensholati.
Albar yang ikut menangis kini terlihat memilih duduk di sudut, tubuhnya terasa sangat lemas sekarang.
Baru kemarin malam mereka makan malam bersama.
Menikmati makan malam masakan Balqis dan mereka bercengkrama begitu dekat.
Albar sungguh tak menyangka jika malam itu adalah malam perpisahan untuk mereka.
Albar menyeka air matanya.
Semua kenangan sosok Aki kini terbayang jelas di pelupuk mata.
Saat pertama Albar sampai di rumah ini, saat Albar ikut pertama kali ke mushola, saat Albar diajak dan dikenalkan pada teman-teman kelompok ternak Aki lainnya
Rasanya baru kemarin, dan kini semua sudah tak bisa terulang lagi.
Albar kemudian menatap Balqis yang pucat dan kuyu, air mata tak juga berhenti menetes dari matanya.
Albar rasanya begitu iba.
Ingin ia meraih Balqis dalam pelukannya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja jika bisa.
Albar menghela nafas.
Fajar menghampiri dan memberikan satu gelas air mineral pada Albar.
"Minumlah."
Kata Fajar sambil kemudian duduk di dekat Albar.
Albar menusukkan sedotan ke air mineral gelasan itu, lalu menyesapnya.
Para pelayat semaki banyak berdatangan.
Aki memang orang yang sepertinya namanya cukup baik di kampung ini, hingga meninggalnya semua orang begitu peduli.
Orang bergantian mensholati, beberapa yang lain juga mengaji.
Aroma bunga untuk orang meninggal dan juga daun pandan tercium memenuhi ruangan begitu anak Wa Icih masuk ke dalam rumah membawa bunga-bunga yang telah dirangkai itu untuk nanti di letakkan di atas keranda.
"Semua sudah siap, tinggal nunggu yang gali kubur ngabarin udah selesai, kalau sudah ngasih kabar kita langsung antar Aki untuk dimakamkan sebelum Maghrib."
Kata Fajar.
Albar mengangguk.
Pelayat kembali berdatangan, tampaknya dari desa sebelah, dan ada bersama mereka juga rombongan keluarga Ustadzah Nur dan yang pasti juga Adit.
__ADS_1
**-----------**