
Pulang sekolah, hujan turun rintik-rintik, Balqis dan ketiga temannya mengayuh sepedanya dengan cepat takut hujan akan segera bertambah deras.
Dinda dan Po yang semula berencana akan mampir ke toko jilbab yang baru buka di dekat gedung sekolah juga akhirnya terpaksa menunda.
Mereka masih mengayuh sepeda bersama hingga kemudian di pertigaan Balqis mengambil ke arah yang berbeda dari ketiga temannya.
"Jangan lupa nanti sore ngaji Qis."
Kata Dinda mengingatkan saat Balqis berbelok.
"Iyaaaa..."
Sahut Balqis.
Balqis mempercepat kayuhan kakinya pada sepedanya sampai kemudian berhenti di rumah Aki.
Balqis turun dari sepeda, membawa sepeda barunya masuk lewat pintu samping untuk diletakkan di ruangan kosong dekat dapur karena takut terkena hujan.
"Assalamualaikuuum..."
Balqis mengucap salam.
"Waalaikumsalam."
Suara Albar yang terdengar menjawab salam Balqis.
Suaranya seperti dari teras antara dapur dan sumur.
Bersamaan dengan itu terdengar juga suara kucing kecil.
Setelah melepas sepatu dan meletakkannya di atas rak dekat pintu, Balqis berjalan lurus melewati dapur dan kemudian keluar dari pintu dapur di mana ada teras pembatas ke sumur.
Albar ada di sana, sedang memberi makan kucing yang biasa diberi makan oleh Balqis.
Kucing itu tampak sudah langsung akrab dengan sang artis.
Sundal sundul sambil mengangkat ekornya tinggi.
"Aku kasih nama Cimot."
Kata Albar.
"Makan apa dia?"
Tanya Balqis yang kemudian membulatkan matanya tak percaya melihat satu potong paha ayam besar sudah habis, dan satunya masih utuh.
"Kamu kasih kucing dua paha ayam goreng?"
Balqis melongo.
"Lho kenapa memangnya? Dia doyan kok."
"Tapi kan itu ayam goreng."
Kata Balqis masih tak percaya dua potong paha ayam utuh dikasihkan semua ke anak kucing.
"Tadi aku beli delapan potong di warung sodara Aki, tuh di dalam masih ada enam."
Kata Albar.
Balqis geleng-geleng kepala.
Albar kemudian berdiri, si Cimot sudah mulai tampak menikmati paha ayam kedua dengan bahagia.
"Kamu ini, apa ngga berlebihan ngasih dua paha ayam goreng buat anak kucing."
Gumam Balqis sambil melepas tas selempangnya.
"Berlebihan bagaimana? Kalau aku ajak dia candle light dinner baru berlebihan."
Kata Albar, membuat Balqis menabok lengannya.
"Kamu mah ada orang serius juga."
Balqis kemudian menuju kamarnya.
"Aki lagi ke kota, nemenin Pak Haji Hasan ambil tabungan kelompok ternak."
__ADS_1
Kata Albar.
"Ah baru diambil?"
Tanya Balqis yang kemudian setelah meletakkan tas nya di kamar lalu keluar lagi.
"Ya biar sekalian ketemu sama yang mau kerjasama katanya, kemungkinan sampai malam kata Aki."
Ujar Albar.
Balqis mantuk-mantuk.
"Cimot lagi aku beliin kandang, dia di dalam aja, kasihan dia masih kecil luntang lantung nanti di bawa wewe gombel."
Kata Albar lagi.
"Ikh... Wewe gombel mah bawanya anak kecil, bukan anak kucing."
Kesal Balqis.
"Oh kirain yang penting anak-anak."
Sahut Albar tak peduli.
"Ish dasar artis ngga jelas."
Gerutu Balqis sambil kemudian menuju kamar mandi untuk cuci muka dan salin.
Albar menghubungi Fajar untuk menanyakan pesanan kandang kucingnya.
"Ini mau otw bosqu, sabar sebentar lah, bulan saja sabar menunggu malam, hasiiiik."
Kata Fajar saat Albar menyuruhnya cepat datang membawa kandang.
**-----------**
Di rumah ustadzah Nur, tampak Adit juga baru sampai rumahnya.
Setelah salaman dengan Umi nya, Adit segera menuju kamar untuk meletakkan tas kerjanya.
Tanya Umi pada Adit yang sibuk melepas kancing lengan kemejanya dan juga kerahnya.
"Ya sama saja Umi, sama seperti mengajar di Bimbel, bedanya kita punya lebih banyak murid saja dan materi lebih banyak."
Kata Adit seraya duduk di sofa besar ruang keluarga rumahnya.
Ustadzah Nur tersenyum.
"Syukurlah. Apapun yang penting sih intinya ilmu kamu manfaat."
Kata Ustadzah Nur pada putranya.
"Iya Umi, Adit akan selalu berusaha mengingat itu."
Adit tersenyum.
Ustadzah Nur mengangguk.
"Oh iya Dit."
Ustadzah Nur duduk di sofa tak jauh dari sang putra.
"Barusan Ustadz Zaki menelfon."
"Ustadz Zaki?"
Adit mengerutkan kening.
"Iya, beliau tanya kapan kamu ada waktu untuk soan ke Abah Yai."
"Ah iya, Adit lupa sekali."
Adit menepuk dahinya.
Belakangan ia terlalu sibuk dengan kegiatan barunya mengajar di dua Bimbel dan ditambah juga persiapan masuk jadi Guru baru di Aliyah di mana Balqis sekolah.
Ah Balqis, rasanya Adit jadi terbayang-bayang wajah cantik dan manis Balqis lagi.
__ADS_1
Adit sebetulnya sudah ingin sekali mengutarakan perasaannya pada Balqis, tapi dia tetap memegang prinsip untuk tidak akan mengajak Balqis pacaran, melainkan akan langsung meminangnya, jadi Adit merasa harus menunggu waktu yang tepat, yaitu nanti setelah Balqis lulus sekolah.
Yah, tak apa jika Balqis nantinya ingin kuliah, Adit juga akan tetap mendukung Balqis kuliah sekalipun misalnya mereka nantinya menikah.
Karena buat Adit, bagaimanapun perempuan juga harus memiliki pendidikan yang mumpuni, karena perempuanlah yang akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anak.
Seorang Ibu adalah madrasah bagi anak-anak, jadi ilmu agama dan ilmu umum sebaiknya seimbang. Begitulah prinsip Adit.
"Ya kamu hubungi Ustadz Zaki secepatnya, lalu sempatkan soan, tidak baik juga menunda niat baik, apalagi silaturahmi pada Abah Yai yang jelas salah satu Guru kamu saat di Pondok."
Kata Ustadzah Nur.
Adit mengangguk.
"Salah satu kunci ilmu agar bisa bermanfaat juga menjalin silaturahmi dengan Guru."
Ujar Ustadzah Nur memberi nasehat anaknya.
"Iya Umi, baiklah, Adit akan menelfon Ustadz Zaki."
Kata Adit akhirnya.
Adit yang sebetulnya semula ingin istirahat sekalian bicara soal Balqis pada Umi akhirnya terpaksa menunda niatnya.
Ia bangkit dari posisinya dan kemudian masuk ke kamar untuk mengambil hp.
Adit duduk di tepi tempat tidur, menelfon nomor ustadz Zaki, seorang kakak kelasnya di sekolah dan juga di pondok dulu.
"Assalamualaikum..."
Adit mengucap salam begitu telfonnya diangkat.
"Waalaikumsalam."
Terdengar suara lembut perempuan dari seberang sana.
"Ah Fatimah yah?"
Tanya Adit begitu mendengar suara lembut yang menjawab salamnya.
"Iya."
Sahutnya.
"Abang Zaki ada dik?"
Tanya Adit.
"Oh Abang Zaki baru saja keluar dengan Bang Razak."
Sahut Fatimah.
"Hp nya ketinggalan di meja, sepertinya tadi buru-buru sih."
Kata Fatimah pula.
"Ah begitu, ya nanti Bang Adit telfon lagi saja jika beliau sudah pulang."
Kata Adit.
Setelah itu Adit mengucap salam lagi dan menutup telfonnya.
Adit menghela nafas.
Ada rasa tak enak dalam hati Adit tiba-tiba setelah sekian lama tak bicara dengan Fatimah akhirnya kini kembali bicara.
Adit ingat saat di pondok Abah Yai yang masih saudara dengan Zaki dan Fatimah mencoba menjodohkan Adit dengan Fatimah namun Adit menolak.
Bukan karena apa-apa, tapi karena memang hati Adit sudah jauh lebih dulu tertambat pada Balqis.
Yah, Adit sampai hari ini belum berani bicara pada Umi dan menceritakan kejadian itu pada Umi.
Kejadian yang sempat membuat hubungannya dengan Zaki dan Abah Yai sedikit merenggang.
Meskipun akhirnya baru-baru ini hubungan mereka kembali membaik setelah Adit soan lebih dulu idul fitri beberapa waktu lalu.
**----------**
__ADS_1