Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
142. Gempa Di Tempat Lain


__ADS_3

Dan gempa itu ternyata bukan hanya milik Flo, namun juga milik Po dan Tio.


Kedua anggota praja muda karana jaman sekolah itu kini saling berpandangan dalam kebisuan alam semesta.


Degup jantung Po yang begitu melihat Tio duduk di kursi ruang makan itu jika berbunyi pasti langsung seperti dentang jam Big Ben di London.


Teng... Teng... Teng...


Sementara itu, Tio sendiri saking salah tingkahnya kini rasanya ususnya di dalam perut langsung berkepang dua.


Rasanya semua makanan jadi berkumpul menjadi satu. Ya, bersatu kita teguh, bercerai kita nikah lagi.


Meskipun berbeda-beda tapi tetap satu jua. Begitulah kira-kira.


Dan...


"Hai...hai Po, jangan bengong saja dong, ntar jadi boneka Annabelle."


Kata Eti membuyarkan acara tatap-tatapan dalam kebengongan Po dan Tio.


Po gelagapan macam ikan mau tenggelam. Sementara Tio langsung minum air dari gelas, tapi salah ambil punya pak supir travel.


"Dik Tio, itu punya saya."


Tio yang mendengar langsung nyaris tersedak.


"Tidak apa, ngalap berkah, saya sudah sembuh kok TBC nya."


Ajiiib...


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Tio langsung permisi dan minta ditunjukkan ke toilet pada Bi Tuti.


Balqis dan Dinda tampak saling berpandangan.


Mereka selama ini tak menyangka jika Po yang digoda Eti soal surat sandi rumput ternyata benar adanya.


Po yang mau berbalik naik ke lantai atas langsung di kejar Eti dan cepat ditarik ke ruang makan.


"Mau ke mana whoiii... Makan dulu."


"Aku makan keripik kentang saja."


Kata Po.


Balqis menggeleng tak setuju.


"Nggak apa Po, sini gabung aja, kan ngga pantes ada Bang Fajar kamu malah memisahkan diri."


Kata Balqis.


Po yang melihat Bang Fajar cengar-cengir seperti ayam habis lahiran, terlihat jadi tak enak.


Apalagi Bang Zul yang kini sudah ganti kaos dan celana pendek tampak muncul dari ruang dalam dan menuju ruang makan untuk bersiap bergabung menikmati makan bersama.


"Kenapa kamu bengong begitu Po?"


Tanya Bang Zul sambil kemudian ambil tempat di dekat Bang Fajar.


"Biasa Bang, encok."


Sahut Eti.


"Haiish..."


Po langsung mau menarik jilbab Eti, namun Eti segera tertawa dan menghindar.


Po yang tak mau Abangnya jadi makin tambah bertanya macam-macam akhirnya mengalah dan menuruti Balqis untuk ikut bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Po duduk di dekat Dinda, karena memang hanya di sana kursi yang tersisa.


Dua kursi lain yang ada di bagian kiri dan kanan, yang biasanya digunakan Albar dan Flo memang tak pernah ada yang pakai selama dua orang itu tak ada.


"Santai saja Po."


Kata Dinda sambil membantu Po membalik piringnya.


"Cus Po makan, nanti keburu Tio balik ke sini kamu malah keselek centong."


Seloroh Eti yang langsung disambut gerr yang lain, tapi juga ditabok Balqis.


"Udah ih, kamu mah suka banget godain Po."


Eti tertawa.


"Ngga apa, aku malah seneng lihatnya."


Bang Zul membela Eti.


"Huuu Bang Zul bilangin Emak."


Kata Po.


Bang Zul terkekeh sambil mengambil lauk.


Tak lama Tio akhirnya kembali ke ruangan itu.


Po rasanya ruangan di meja makan kini berputar seperti baling-baling bambu Doraemon.


Kenapa dia bisa ada di sini?


Jatuh dari planet mana sih dia?


Po benar-benar tak habis pikir, seperti sebuah kebetulan yang direncanakan oleh semesta agar ia berjodoh dengan Tio.


Ihiiiiir... Po GR pada semesta.


Kata Balqis.


Po yang semula sedang pura-pura mau minum akhirnya jadi tersedak.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Bang Zul menatap adiknya yang kini berlari menuju toilet.


Sementara Eti terpingkal sejadi-jadinya.


"Kenapa sih dia, lagi aneh banget?"


Bang Zul terheran-heran.


**-------------**


Acara makan bersama yang dipenuhi drama tersedak dari Tio dan Po akhirnya berakhir.


Fajar dan Tio dipersilahkan istirahat atau barangkali mau mandi dulu dan sebagainya.


Balqis sendiri akan bersiap-siap untuk pergi ke cafe Flo minta diantar Bang Zul karena Bang Pardi tadi siang sudah langsung pergi ke tempat Flo.


"Qis, aku dibawain pizza dong, pizza di tempat Kak Flo enak banget."


Kata Eti.


"Iyalah enak, gratis."


Seloroh Po.


Eti menarik ujung jilbab Po.

__ADS_1


"Tio aja tuh pikirin, kamu kan sampai sekarang belum tahu jawaban Tio apa itu surat sandi rumputnya, hahahaha..."


Eti tertawa lagi.


Balqis dan Dinda menatap Po.


"Serius Po? Kenapa nggak sharing kita?"


Tanya Balqis.


"Hu um, disimpan sendiri saja Po."


Ujar Dinda.


Po cengar-cengir malu.


"Ah aku takut jawabannya enggak enak, kalau jawabannya bagus kan harusnya dia ngga usah nulis pake sandi yang aku ngga tahu cara bacanya."


Kata Po.


"Lha kalau ternyata itu jawaban iya dan ngajak kamu jadian Gimana."


Kata Dinda.


Po diam, seolah membayangkan apa masuk akal Tio punya rasa sama dia juga sampe ngajak jadian?


"Iya Po, kalau lihat reaksi dia pas pertama lihat kamu kayaknya dia punya rasa sama kamu."


Kata Balqis.


"Iya kah?"


Po jadi GR.


"Suratnya kamu bawa nggak?"


Tanya Eti.


Po menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menutupi mulutnya.


"Kamu buang Po?"


Tanya Eti.


"Ikh enggak lah."


Po menabok lengan tangan Eti.


"Aku taruh di bawah kasur kamar aku di rumah."


Kata Po.


"Hahaha kayak Nenek aku kalau naruh uang di bawah kasur."


Ujar Eti.


"Lha kok kamu tahu Et?"


Tanya Balqis.


Eti nyengir.


"Pas kecil kadang aku nyomot buat beli es."


Kata Eti.


"Hahaha dasar tuyul."


Po menarik jilbab Eti dan semua tertawa.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2