
Sekitar pukul sebelas siang, saat akhirnya Albar mendapat telfon dari sang Mami jika ia telah sampai di Jakarta dan akan ada acara pertemuan sebentar dengan beberapa pemilik saham Alpha Centauri di Alpha Resto khusus masakan Jepang.
Mami meminta Albar dan Balqis untuk lebih dulu ke rumah Mami agar nanti begitu Mami pulang mereka sudah ada di sana.
Albar pun tentu saja mengiyakan dan meminta Balqis segera bersiap.
"Sekarang?"
Tanya Balqis.
Albar yang sedang duduk dengan Bang Fajar di ruang TV mengangguk.
"Ya sekarang, masa nunggu lebaran."
Seloroh Albar.
Balqis jadi mengulum senyum.
Dinda yang juga duduk di sana akhirnya berdiri dan mengajak Balqis agar bergegas ke kamar untuk bersiap.
"Ayuk aku bantu poles make up sedikit."
Kata Dinda yang lantas menggandeng Balqis menuju anak tangga untuk kemudian naik ke lantai atas di mana kamar Balqis ada di sana.
Albar juga berdiri dari duduknya untuk ganti baju.
"Aku tinggal dulu ya Jur."
Kata Albar.
Bang Fajar mengacungkan jempolnya.
"Atau kalau mau jalan-jalan sama Dinda tinggal pake aja mobilnya yang mana yang kamu mau, tiap mobil kuncinya udah tahu kan tempat nyimpannya?"
Tanya Albar.
"Santai Boss."
Sahut Bang Fajar sok cool macam NuGet di dalam freezer.
Albar mantuk-mantuk.
Albar lantas dengan langkah cepat menyusul Balqis naik ke lantai atas dan menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1
Ia masuk kamar, memilih baju yang akan ia kenakan, jam tangan, sepatu lalu baru menyambar semi jas ala opa Korea.
Karena pasti Mami tak akan buang banyak waktu di Indonesia, jadi mereka ada kemungkinan hari ini juga akan ke tempat keluarga Balqis dari keluarga orangtua kandungnya di Kampung Rambutan.
Albar lantas keluar kamar setelah siap. Albar menyempatkan diri menoleh ke arah pintu kamar Balqis yang masih tertutup.
Ia menghampiri pintu kamar itu sebentar untuk mengetuknya dan meminta Balqis agar jangan terlalu lama bersiap.
"Iyaaa... sebentar lagi."
Kata Balqis dari dalam kamar.
"Oke, kalau sampai dua hari dua malam, aku terpaksa minta tolong Ibu perinya Cinderella saja."
Sahut Albar lantas meninggalkan pintu kamar Balqis.
Di dalam kamar, Balqis tampak mendesis mendengar sahutan Albar.
"Mana ada orang dandan dua hari dua malam, dia mah kalau ngomong asal lompat aja kalimatnya."
Kata Balqis.
"Orang kaya memang begitu."
Timpal Dinda yang sibuk memasang bross kecil kupu-kupu cantik di sisi kiri dada Balqis untuk menjepit jilbab warna pinknya yang manis.
Kata Dinda.
Balqis lantas berdiri di depan cermin.
"Sederhana tapi manis, sopan, rapi. Jangan terlalu panik, santai, biar tidak gugup dan malah jadi berantakan ketemu calon Mami."
Kata Dinda.
Balqis tampak mengatur nafasnya.
Ia terlihat tak bisa menyembunyikan kegugupannya, meski ia sungguh-sungguh berusaha menenangkan diri.
Ah sungguh, tentu saja bisa dimaklumi, yang akan ditemui Balqis adalah calon mertuanya, yang di mana Mami Albar bukanlah orang sembarangan, dia bukan perempuan biasa, dia seorang pengusaha wanita yang sukses, bahkan sangat sukses.
Belum lagi jika mengingat ke belakang, bagaimana hubungan masa lalu Balqis dan Albar.
Balqis juga selama ini tak pernah hidup bersama seorang Ibu, ini juga berpengaruh pada kepercayaan dirinya juga untuk berhadapan dengan seorang Ibu.
__ADS_1
Pokoknya terlalu banyak alasan bagi Balqis untuk merasa gugup dan tak percaya diri.
Tapi...
"Bismillah, niatkan dan lakukan yang terbaik, semangat!"
Kata Dinda menyemangati.
Balqis tersenyum lalu mengangguk mantap.
**-----------------**
Pukul dua belas lebih seperempat saat akhirnya mobil yang dikemudikan Bang Zul untuk mengantar Albar dan Balqis ke rumah Mami Albar yang bagaikan istana di salah satu komplek perumahan elit di Jakarta kini memasuki halamannya dan kemudian berhenti di pelataran depan.
Albar turun lebih dulu dan kemudian menunggy Balqis turun menyusulnya.
"Perlu digandeng?"
Tanya Albar dengan senyum sedikit meledek. Balqis terpaksa jadi menabok lengan Albar. Calon suaminya ini pasti tidak tahu kalau ia benar-benar gugup saat ini.
Albar lantas berjalan beriringan dengan Balqis yang seperti tak percaya jika rumah Mami Albar tiga kali lebih besar dari rumah Albar yang ia tempati.
Selama ini Balqis pikir rumah Albar sudah sangat mewah, ternyata dibandingkan rumah Maminya, rumah Albar termasuk minimalis.
Ya benar jika kata Hotman Paris, di atas langit masih ada Hotman Paris, hihihi...
Beberapa pelayan rumah yang mengurus di rumah Mami Albar menyambut. Para pelayan itu dipimpin satu orang pelayan senior.
"Nyonya besar belum datang Tuan muda, silahkan menunggu sebentar, atau mau istirahat di kamar Tuan Muda juga sudah kami rapihkan."
Kata si pelayan senior.
Albar cepat menggeleng.
"Nunggu di sini saja Nan."
Kata Albar sambil menunjuk ruang keluarga yang luasnya dua kali lipat luas rumah Ali keseluruhan.
Albar tampak memilih duduk di salah satu sofa, Balqis mengikuti.
"Kita tunggu Mami datang."
Kata Albar.
__ADS_1
Nanny si pelayan senior memberikan perintah pada para juniornya untuk segera membawakan sajian untuk Albar dan calon menantu keluarga sang Nyonya.
**------------**