Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
96. Penyusup


__ADS_3

Albar sambil menunggu Flo datang terlihat duduk di teras samping rumahnya.


Ia menikmati air terjun buatan di sudut taman kecil yang ada di teras samping rumahnya itu, seraya duduk di atas kursi rotan, Albar memetik gitarnya.


Tampak di sampingnya, di atas meja, segelas jus Alpukat yang di beri coklat kental manis dan sepiring roti panggang menemaninya.


Dentingan halus senar gitar Albar terdengar merdu mengiringi suaranya yang selalu enak didengar.


🎶Bila


waktuku tersisa


untuk slalu di sisi


menjaga hatimu


aku


kan slalu mencoba


berikan yang terbaik


untuk kau miliki


tapi maafkan aku


waktuku hanya sesaaat


aku tak bisa memiliki


menjaga cintamu


walau sesungguhnya hatiku


mencintaimu, memilikimu


aku tak ingin kau terluka


mencintai aku


hapuslah air matamu


dan lupakan aku


sungguh.di batas asaku


hanya ingin kau bahagia


jalani hidupmu


tapi maafkan aku


waktuku hanya sesaat🎶


Albar menyanyikan lagu milik Diqta dengan begitu merdu dan penuh penghayatan, membuat Bi Tuti dan Pardi sampai geleng-geleng kepala ikut menikmati seraya mengintip dari balik dinding yang menuju ke arah ruang makan karyawan rumah.


Albar masih menyanyi ketika Beni turun dari lantai dua dan mendapati dua karyawan Albar tengah mengintip dari balik dinding yang menuju ruang makan karyawan di mana letaknya tak jauh dari tangga dan langsung bisa melihat ke teras samping.


"Suara Tuan muda masih tetap merdu meskipun sudah lebih dari satu tahun tidak bernyanyi, sungguh sayang ia berhenti dan memutuskan tidak menyanyi lagi."


Kata Bi Tuti.


"Ya betul, padahal tiap kali dia menyanyi, rasanya kita jadi ikut terbawa suasana dan bisa ikut menghayati lagunya."


Kata Pardi.


Bi Tuti mengangguk.


"Kenapa dia jadi tak mau bernyanyi lagi?"


Tanya Beni yang rasanya masih penasaran.


Mendengar suara Beni, tampak Bi Tuti dan Pardi pun langsung diam, lalu memilih permisi untuk kembali ke ruang makan saja.


Mereka jelas tak mau nanti sampai salah bicara, bagaimanapun itu adalah privasi Albar.

__ADS_1


Beni yang merasa hanya dikacangi oleh dua karyawan Albar akhirnya memilih berjalan menuju teras samping di mana Albar duduk bermain gitar.


"Bro."


Panggil Beni.


Albar menoleh ke arah Beni yang baru muncul di pintu yang menuju teras.


Albar menghentikan petikan gitarnya.


"Ngapain udah rapi?"


Tanya Albar pada Beni yang terlihat sudah rapi.


"Aku diminta ke rumah Paman dulu, baru nanti ke rumah ambil beberapa buku dan berkas penting untuk dibawa ke Perth."


Kata Beni.


"Ooh, kirain siang nanti perginya."


Kata Albar.


"Iya pagi tadi ditelfon Paman."


Kata Beni.


Albar mengangguk mengerti.


"Ah sarapan dululah, nanti aku minta disiapkan Bi Tuti."


Kata Albar.


Beni cepat menggeleng.


"Ngga usah Bar, aku sarapan di tempat Paman saja, ni aku udah pesan taksi online."


Ujar Beni.


Albar menghela nafas.


Kata Albar.


"Ngga usahlah, nanti aku dikira bukannya sekolah tapi main sama tante-tante.'


Beni tertawa membuat Albar jadi ikut tertawa.


"Dasar sesat."


Sahut Albar.


Beni kemudian pamit pada Albar untuk pergi karena driver taksi online yang ia pesan telah mengabari akan segera sampai.


"Eh Bar, pagi-pagi lagunya jangan melo, bikin ngga semangat jalanin hari."


Beni menepuk bahu Albar.


"Linkin Park gitu, hahahaha..."


Beni tertawa sambil berlalu dan Albar hanya menggelengkan kepalanya seraya kembali memetik gitar nya lagi.


**-----------**


"Qis, beneran ngga mau ikut? Ke mall lho."


Eti melongok di pintu kamar Balqis di mana Balqis tengah sibuk menata beberapa buku miliknya di rak.


"Enggak apa aku ditinggal aja."


Kata Balqis.


Dinda yang baru selesai memakai jilbabnya ikut melihat ke arah Balqis.


"Barangkali ada yang mau dibeli Qis, nanti kita belikan sekalian."


Kata Dinda.

__ADS_1


Balqis mengangguk.


"Titip beli flashdisk saja yang 4GB."


Kata Balqis, lalu mencari dompetnya.


"Udah pake punyaku dulu."


Ujar Dinda yang kemudian keluar dari kamar.


Po juga sudah rapi dan keluar dari kamarnya.


Balqis mengikuti mereka bertiga untuk mengantar sampai pintu.


"Dikunci aja Qis, kalo ada orang asing bertamu ngga usah dibukain pintunya."


Kata Po pada Balqis.


Balqis mengangguk.


"Kita ngga akan lama kok, hati-hati di rumah yah Qis."


Ujar Eti saat ketiganya keluar dari halaman rumah melewati pagar dan menuju jalanan komplek.


Ya antara percaya tidak percaya sih sebetulnya kalau perempuan ke mall tidak lama, kecuali othor yang males muterin mall karena kakinya gampang pegel dan puyeng lihat banyak orang. Hihihi...


Dan sesuai pesan Po, maka Balqis menggembok pintu pagar begitu Po, Dinda dan Eti sudah berjalan menjauh.


Setelah menggembok pagar, Balqis pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya, ia kembali ke kamar untuk meneruskan acara bebenahnya.


Balqis berencana setelah ini akan mencuci baju lalu mandi dan mengistirahatkan tubuhnya agar cukup energi karena besok sudah akan ke kampus.


Balqis selesai menata buku dan beralih membereskan baju kotor yang akan dicuci.


Balqis membawa tumpukan baju kotornya dari ia berangkat ke Jakarta hingga yang ia pakai semalam pulang dari cafe Kak Flo.


Ah Kak Flo, dari pertama Balqis mengenal perempuan itu, Balqis memang mengagumi sosoknya.


Kak Flo bukan hanya ramah dan hangat, ia juga sosok perempuan yang jelas sekali mandiri, kuat, dan juga pekerja keras.


Balqis menghela nafas seraya mendekati mesin cuci dan memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin, diberi sabun lalu mulai mengisinya dengan air dari keran.


Balqis kembali mengingat perbincangannya dengan Flo semalam, saat Flo minta maaf dan tampak merasa begitu bersalah.


Tapi...


Flo sama sekali tak menyinggung soal Albar, sepertinya Flo juga takut akan membuat Balqis tak nyaman, dan Balqis juga sadar betul jika tak seharusnya ia mengharapkan Flo membicarakan tentang Albar setelah semua yang Balqis lakukan.


Balqis menutup keran karena air di mesin cuci sudah terlihat cukup. Balqis membiarkan dulu saja pakaian kotornya terendam lebih dulu, sambil menunggu, Balqis akan menyapu rumah sebentar.


Balqis keluar dari ruang cuci dekat kamar mandi saat ia mendengar sesuatu di tempat menjemur baju di atas rumah.


Balqis segera meraih sapu di dekat dapur, ia dengan hati-hati dan waspada tampak siaga sambil mengendap-endap mendekati tangga yang menuju ke tempat jemuran, manakala terdengar pelan pintu itu terbuka.


Dada Balqis berdegup kencang, membayangkan Jakarta yang katanya banyak orang jahat membuat Balqis sedikit takut.


Ah apa yang harus Balqis lakukan jika ada orang jahat masuk rumah sementara ia tengah sendirian?


Balqis tangannya mulai gemetar ketika benar ada kaki yang terlihat menuruni tangga rumah, Balqis memejamkan matanya sambil menempel di dinding, bibirnya komat-kamit membaca doa, entah doa apa, pokoknya doa saja...


Dan saat langkah itu terdengar semakin dekat menuruni tangga, Balqis dengan cepat langsung mengayunkan gagang sapunya ke arah orang asing yang masuk ke dalam rumah lewat tempat jemuran itu.


"Rasakan... Rasakan... Rasakaaaaaaan..."


Balqis memukuli orang itu dengan bersemangat.


"Aduuuuh... Aduuuuh... ampuun."


Orang yang dipukuli Balqis meminta ampun sambil melindungi kepalanya dari serangan Balqis yang membabi buta.


"Ampun, ampun, sudah masuk rumah orang seenaknya sekarang minta ampun!!"


Galak Balqis dan siap menghajar lagi, ketika orang itu segera bicara,


"Ampuun... Aku bukan orang jahat, aku pemilik rumah ini, aku Beni... Aku Beni."

__ADS_1


**------------**


__ADS_2