
Balqis sedang sibuk di dapur membuatkan mie rebus untuk Albar saat akhirnya Albar turun dari lantai dua dan menuju dapur.
Albar berdiri di pintu dapur rumahnya sambil memandangi Balqis yang kini sudah mulai memasukkan mie ke dalam air yang mendidih di atas kompor.
Balqis yang merasa ada seseorang mengawasi dirinya jadi menoleh ke arah pintu dapur, dan hanya bisa menyunggingkan senyuman kecil ke arah Albar yang tampak berdiri saja di sana bersandar pada kusen pintu sambil menatap Balqis.
"Sebentar lagi matang, sabar."
Kata Balqis berusaha meredam rasa gugupnya.
Sekitar tiga sampai empat menit kemudian, Balqis pun mematikan kompor dan menarik mangkuk yang sudah ia siapkan agar bisa lebih dekat dengan kompor.
Balqis mengangkat panci kecil yang ia gunakan untuk membuat mie, setelah itu barulah ia melihat ke arah Albar lagi.
"Makan di sini? Atau makan di ruang makan?"
Tanya Balqis.
Albar tampak berjalan mendekati Balqis, dilihatnya mangkuk berisi mie instan buatan Balqis yang menggugah selera dan sudah sangat lama Albar rindukan.
"Makan di balkon saja yuk Bal."
Ajak Albar.
Balqis mengerutkan kening.
"Makan di balkon mumpung nggak hujan."
Ujar Albar lagi.
Balqis pun akhirnya mengangguk setuju saja.
Albar mengangkat mangkuk mie rebus miliknya, sementara Balqis mengambil mug yang berisi teh manis panas untuk dirinya sendiri.
"Aku kayak mau flu, jadi minum teh."
Kata Balqis sambil berjalan mengikuti Albar keluar dari dapur sambil membawa mie rebusnya.
"Kamu nggak bikin mie rebus sekalian?"
Tanya Albar.
Balqis tersenyum.
"Aku terlalu sering makan mie, sekarang lagi dikurangi."
Ujar Balqis.
Albar mantuk-mantuk.
Mereka kemudian naik ke lantai dua dan langsung menuju teras balkon yang letaknya antara kamar Dinda dan kamar Eti.
Balkon itu tak begitu besar, namun view dari sana cukup bagus jika di senja hari atau malam hari.
Barisan gedung bertingkat, dan juga suasana perumahan di mana Albar tinggal bisa terlihat dari sana.
Saat sendirian dan merasa jenuh tapi enggan ke mana-mana, Albar senang menghabiskan waktu berada di sana.
Kadang hanya sekedar duduk saja menatap langit sambil mendengarkan musik atau kadang dia sendiri yang bermain gitar.
Albar duduk di sudut lalu meletakkan mir rebusnya di meja.
Balqis duduk tak jauh dari Albar sambil memegangi mug teh panasnya, tampak sesekali Balqis meniup wedang teh nya sebelum menyeruputnya pelahan.
Albar juga sama, ia mulai mengambil mie dari mangkuk dengan sumpitnya setelah mengaduk mie rebus itu dengan bumbu instan.
__ADS_1
"Bismillah dulu Albar."
Kata Balqis mengingatkan saat Albar akan langsung melahapnya.
Albar sejenak terkekeh, karena hal kecil semacam itu sering diabaikan dan dilupakan.
Balqis menatap senja di langit Jakarta, senja yang ia nikmati bersama Albar sebelum besok Albar berangkat lagi ke Perth dan entah kapan lagi mereka bisa bertemu.
Balqis tanpa terasa tiba-tiba menghela nafas, rasanya seperti ingin menangis dan meminta Albar tetap tinggal saja, tapi jelas mana boleh.
Balqis sudah janji tadi siang di restoran, dan Balqis sudah meminta Albar agar fokus belajar dan menyelesaikan studinya dengan baik.
"Kenapa setiap kali kamu yang masak rasanya beda ya Bal?"
Suara Albar tiba-tiba mengejutkan Balqis yang sedang melamunkan dirinya.
Balqis terkesiap, ia menoleh pada Albar lalu terlihat tersenyum.
"Sama aja sebenernya, cuma karena jarang makan jadi rasanya kayak beda."
Kata Balqis.
"Bukan Bal, memang kamu masakannya enak, pas di rumah Aki kan aku juga makan masakan kamu setiap hari."
Ujar Albar.
Balqis kembali tersenyum kecil.
Ah ya, rasanya baru saja semuanya terjadi kemarin, ternyata tanpa terasa telah satu tahun lebih berlalu.
Balqis menyeruput teh panasnya lagi dari dalam mug.
Albar yang sudah menghabiskan mie rebusnya kini mengangkat mangkuknya dan menghabiskan sekalian kuahnya hingga tanpa sisa.
"Nikmat sekali."
Kata Albar puas.
"Alhamdulillah, kalau habis makan teh."
Kata Balqis membuat Albar jadi kembali terkekeh.
Angin senja berhembus pelahan, seolah mencoba menyapa kedua insan yang kini duduk berdua menikmati waktu-waktu bersama yang hanya tinggal beberapa jam saja.
"Kapan-kapan kamu ke Perth ya Bal."
Kata Albar.
Balqis menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Aku ingin ajak kamu keliling kota di sana."
Ujar Albar.
Balqis hanya tersenyum saja menanggapi ajakan Albar.
Perth...
Ah entahlah, Balqis bahkan tak pernah membayangkan ia akan bepergian ke luar Negeri, apalagi sampai ke Perth.
"Aku jadi nggak ingin berangkat kalau kayak gini Bal, rasanya ingin tetap tinggal di sini."
Kata Albar lagi sambil menerawang jauh.
"Jangan begitu, kamu sudah janji akan sekolah dengan baik kan Bar, aku akan baik-baik saja dan akan menunggumu, jadi jangan ragu dan bimbang lagi."
Ujar Balqis.
Albar menatap Balqis.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang setiap bulan saja Bal, sebulan pulang nginep dua hari lalu balik lagi."
Ujar Albar membuat Balqis tertawa.
"Kamu mah, dibilangin sekolah yang fokus malah mikir yang aneh-aneh."
"Lha gimana, bayangin kamu jauh banget udah bikin aku stres duluan."
"Kan aku di rumah kamu sekarang."
"Iya sih, tapi aku kan di Perth."
"Kan ada hp Albar, kita tetap bisa bertukar kabar setiap hari."
Balqis meletakkan mug wedang teh nya.
"Jodoh itu pasti akan bersama, seberat apapun rintangannya, sejauh apapun jaraknya, jika kita memang jodoh pasti akan ada saja jalannya."
ujar Balqis.
"Yang penting kita sekarang persiapkan diri sebaik mungkin Albar, berusaha agar apa yang kita mimpikan dan harapkan bisa terwujud. Kita harus percaya bahwa pasti akan ada jalan untuk semua cita-cita kita Albar, untuk semua mimpi kita. Jika kita tak percaya pada kemampuan diri kita untuk mewujudkannya, maka kita harus percaya Allah pasti bisa."
Albar mengangguk.
"Y Bal."
Balqis tersenyum ke arah Albar yang lebih dulu tersenyum seraya menatap Balqis.
"Bal."
Panggil Albar.
"Ya kenapa Albar?"
Tanya Balqis lembut.
"Kamu bisa janji kan nggak akan kenalan apalagi bermanja-manja dengan cowok manapun?"
Tanya Albar.
"Ikh kapan memang aku manja-manja, kamu mah ngarang aja."
Balqis pura-pura cemberut.
"Kemarin, kamu pergi sama Beni, padahal baru kenal, jangan gitu lagi pokoknya."
Albar tetap tak mau kalah.
Balqis jadi tergugu sendiri.
"Iya... iya... Kan itu juga karena dia bilang harusnya nemuin Pamannya, jadi aku nggak enak Bar."
"Makanya udah sekali itu aja, kali lain jangan lagi."
Ujar Albar.
Balqis tertawa kecil.
"Aku serius Bal, kenapa ketawa sih."
"Ya habisnya, kamu gitu banget, pagi tadi cuma manggil Bang Pardi juga ngomel."
Balqis masih sambil tertawa kecil.
Albar menghela nafas.
"Ya karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi."
Kata Albar.
__ADS_1
**-----------**