
Balqis sedang menulis sesuatu di dekat jendela ketika ia mendengar suara berisik teman-temannya di luar.
Jam sudah mendekati angka setengah sembilan malam, saat akhirnya mereka semua pulang ke rumah.
Balqis sejenak meletakkan kertas dan pulpennya, dan beranjak dari tempatnya duduk sambil menulis barusan.
Balqis berjalan menuju pintu kamar, dibukanya pelahan dan terlihat benar Dinda, Po dan Eti yang baru sampai rumah sedang bercanda.
Tas pakaian dan kardus berisi barang-barang milik mereka terlihat tergeletak di lantai. Balqis akhirnya keluar dari kamarnya, menghampiri mereka yang cengar-cengir ke arah Balqis begitu Balqis muncul.
"Darimana sih kalian? Kenapa jam segini baru pulang?"
Tanya Balqis sedikit kesal.
"Woles dong Qis, woles."
Eti mendekati Balqis lalu merangkul bahu sahabatnya itu.
"Kami diminta Kak Flo ke cafenya."
Ujar Eti.
Balqis menatap Dinda, lalu juga menatap Po, tampak semuanya mengangguk.
"Kalian bikin khawatir tahu nggak? Ditelfon nggak ada yang angkat, di chat ngga dibaca."
Kesal Balqis pada ketiganya.
Dinda tersenyum tenang.
"Kak Flo yang minta kita semua lakuin itu buat kamu sama Albar, Qis. Besok Albar harus kembali ke Perth, kami ingin memberikan waktu untuk kalian berdua bicara dari hati ke hati, menyelesaikan yang mungkin belum selesai, membicarakan apa yang mungkin belum sempat dibicarakan. Kami tidak ingin kehadiran kami akan membuat kalian jadi melewatkan momen ini, karena mungkin kalian akan berpisah lagi untuk waktu yang tak sebentar."
Ujar Dinda menjelaskan maksud mereka sampai harus pulang larut malam.
Balqis menghela nafas.
"Setidaknya harusnya kalian kasih tahu aku, supaya aku tidak cemas seharian."
Lirih Balqis.
Eti menepuk-nepuk bahu Balqis agar sahabatnya itu lebih tenang.
Po tampak celingak-celinguk.
"Kenapa sepi Qis?"
Tanya Po.
Balqis melihat pintu kamar Albar sebentar, lalu...
"Sepertinya Albar sudah tidur, tadi setelah sholat Isya dia bilang lelah sekali jadi ingin istirahat duluan."
Kata Balqis.
"Lelah? Memangnya kalian habis ngapain?"
Tanya Eti dengan tatapan dan cengar-cengir mencurigakan, membuat semuanya langsung menghela nafas.
"Plis deh Etiiii, dosa tauuu nuduh tanpa bukti, dan doyan mikir jorok."
Kata Po.
Dinda dan Balqis tentu saja mengangguk setuju.
Eti yang diingatkan malah terpingkal.
"Apa sih kalian tuh, aku nggak ngomong apa-apa."
Ujar Eti di sela gelak tawanya.
"Kamunya nggak ngomong, tapi tatapan mata dan cengar-cengir kamu tuh lain."
Kata Po, yang semakin membuat Eti terbahak.
__ADS_1
"Kamunya saja yang emang dasar pikirannya ke sana."
"Ikh, jelaslah semua juga pasti bakal mikir yang sama."
Kata Po.
"Enggak ah, emang kamu mikirnya nggak sama kayak aku?"
"Hahahaha...tau akh."
Po melet pada Eti.
"Udah ah, nih barang-barang bawa masuk kamar, besok lanjut bebenah."
Kata Dinda akhirnya.
Semua mengangguk setuju.
Mereka pun lantas mengambil barang-barang mereka untuk dimasukkan ke dalam kamar masing-masing.
**------------**
Dan malam pun beranjak naik, Balqis dan Albar di kamar masing-masing terjaga sambil menatap langit-langit Kamar.
Keduanya memikirkan hari besok, saat di mana perpisahan akan kembali terjadi.
Albar tampak terbangun dari posisinya berbaring, ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
Ah entahlah, tiba-tiba saja Albar memikirkannya.
Albar turun dari tempat tidurnya, lalu bergegas keluar dari kamar.
Kamar Balqis sudah tertutup rapat, begitu juga dengan yang lain.
Albar cepat menuju studio musik miliknya. ada sesuatu yang ingin ia lakukan di sana.
Yah...
Sungguh bodoh ide itu datang ketika ia sudah akan kembali ke Perth.
Tampak Albar duduk dengan gitarnya menghadap kamera yang ia telah siapkan.
Lalu...
"Bal..."
Albar tampak mengawali rekamannya dengan panggilan pada Balqis seolah gadis itu kini ada di hadapannya.
"Mungkin saat kamu melihat rekaman ini, aku sudah berada di Perth lagi, dan itu berarti kita mulai kembali berjauhan. Semoga jarak yang memisahkan kita untuk sementara akan tetap membuat hubungan kita baik-baik saja. Terimakasih Bal sudah menjadi gadisku yang baik, i love you."
Dan...
Albar mulai memetik gitarnya.
"Akad, dari payung teduh, untuk mu Balqis."
...🎶Betapa bahagianya hatiku...
...Saat kududuk berdua denganmu...
...Berjalan bersamamu...
...Menarilah denganku...
...Namun bila hari ini...
...Adalah yang terakhir...
...Namun ku tetap bahagia...
...Selalu kusyukuri...
__ADS_1
...begitulah adanya...
...Namun bila kau ingin sendiri...
...Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku...
...Agar ku tak berharap...
...Dan buat kau bersedih...
...BILA NANTI SAATNYA T'LAH TIBA...
...KUINGIN KAU MENJADI ISTERIKU...
...BERJALAN BERSAMAMU DALAM TERIK DAN HUJAN...
...BERLARIAN KE SANA KEMARI DAN TERTAWA...
...Namun bila saat berpisah t'lah tiba...
...IZINKAN KU MENJAGA DIRIMU...
...BERDUA MENIKMATI PELUKAN DI UJUNG WAKTU...
...SUDILAH KAU TEMANI DIRIKU🎶...
**---------------**
Sementara Albar sibuk di studio musiknya membuat sebuah rekaman untuk nanti ia berikan pada Balqis, di kamar Balqis, di atas meja belajarnya, terlihat satu kotak kecil yang dibungkus kertas berwarna biru muda dengan pita kecil.
Balqis menyiapkannya tadi setelah ia selesai memasukkan barang-barang miliknya yang baru diambilkan Dinda dan lainnya dari rumah Beni.
Balqis sendiri di atas tempat tidur kini sudah mulai berusaha memejamkan matanya, ia ingin terlelap setelah seharian tadi ia telah melewati banyak momen luar biasa.
Balqis yang akhirnya bisa melihat dan mengunjungi makam kedua orangtua kandungnya, Balqis yang akhirnya bisa berjumpa dan akhirnya kenal dengan saudara orangtuanya.
Balqis juga melihat bagaimana Albar berusaha keras untuk melakukan lamarannya dengan baik dan benar di hadapan salah satu keluarga Balqis.
Balqis memeluk bantal guling di sampingnya. Bantal guling itu sangat empuk, sama halnya seperti kasurnya juga.
Ah sungguh sangat berbeda dengan yang ada di rumah Aki selama ini.
Tampak Balqis membuka matanya lagi pelahan, menatap kursi panjang dekat jendela kamar yang bisa untuk langsung melihat taman rumah dari sana.
Sepi.
Balqis menghela nafas.
Besok saat Albar tak ada pasti rasanya akan sesepi ini lagi.
Balqis jadi membayangkan akan seberapa lama mereka nantinya berpisah untuk sementara waktu.
Dan ajakan Albar untuk mengunjungi Perth.
Ah...
Balqis kembali menatap langit-langit kamar lagi.
Perth...
Haruskah aku ke sana?
Jika Mami Albar di sana pastinya Balqis memang harus ke sana.
Balqis tiba-tiba tersenyum sendirian membayangkan bertemu calon mertuanya.
Sebaik apa dia?
Secantik apa dia?
Seramah dan sehangat apa dia?
Rasanya begitu banyak yang muncul dalam benak Balqis. Memikirkan dirinya yang cepat atau lambat pasti akan bertemu Maminya Albar jadi deg-degan lebih dulu.
__ADS_1
Ah ya, semua pasti akan baik-baik saja. Batin Balqis.
...**---------------**...