Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
32. Mie Rebus Yang Kucintai


__ADS_3

"Ini buat aku aja Bal. Kamu bikin lagi."


Kata Albar seenak sendiri.


Yah seperti biasa, mental penjajah dari nenek moyangnya. Hahaha...


Haiiish... Balqis mendesis menatap mie rebusnya dibegal.


Tapi, apalah daya Balqis yang baru saja dibelikan laptop, hp dan sepeda baru. Pastinya akan sangat tidak seimbang jika Balqis mempertahankan mie rebusnya dengan jiwa dan raga.


"Ya udah, makan deh, semoga bego nya maksimal."


Kata Balqis.


Ini kalimat pengganti selamat menikmati jarahan.


Tapi Albar terlalu tidak peka karena dia pada dasarnya memang terlahir agak pekok. Atau mungkin kebanyakan sultan memang begitu kalau jadi sultan sejak orok.


Balqis meraih panci kecilnya lagi, di bawa ke sumur untuk dicuci dan kembali ke dapur untuk mengisi air ke dalam panci dari air galon.


Albar Harrys si bintang iklan mie instan kini sedang menikmati mie rebus buatan Balqis dengan duduk sila di lantai dapur.


Dia menghayati peran sebagai pengungsi dan penjarah.


Balqis menggelengkan kepalanya melihat penampakan artis yang sangat tidak keren itu.


Ah' andai yang mengungsi ke rumahnya adalah Aliando, atau Al Ghazali, atau Stevan William, sayangnya ini malah artis tak jelas si Albar Harrys.


Albar sudah menghabiskan mie nya, lalu meneguk sisa kuahnya dari mangkuk langsung.


"Hmm... Nikmat mana lagi yang kamu dustakan Bal?"


Albar berkata.


Jiaaaah... Dia yang nikmat malah Balqis yang ditanya.


Balqis tak menyahut, ia tahu itu Albar pasti sudah kena kutukan begok instan.


Albar lalu menatap Balqis yang kini sedang menggunting bungkus mie instan nya lalu mengeluarkan isi mie nya untuk dimasukkan ke dalam rebusan air di panci.


"Eh Bal."


Balqis menoleh sekilas.


"Apa? Mau nambah?"


Tanya Balqis.


"Kalau mau aku bikinin satu dus sekalian, nanti makannya bisa sampai subuh baru habis."


Kata Balqis.


"Lha cacing di perutku langsung ketimbun mie."


Sahut Albar.


Balqis kembali fokus pada rebusan mie nya, mengaduknya dengan sumpit kayu.


"Kamu kalau misal nanti diterima kuliah di UI, gantian tinggal di rumahku, ngga usah nge kos."


Kata Albar.


Balqis menoleh ke arah Albar lagi.


Alisnya naik ke atas.


Serius apa tidak dia? Batin Balqis.


"Kalau itu para dayang-dayang kamu juga kuliah di Jabodetabek, tinggal aja di rumahku sekalian."


Ujar Albar.


"Penuhlah rumahmu nanti."


Kata Balqis yang kali ini sambil mematikan kompor lalu memasukkan bumbu mie instan ke dalam panci.


Kali ini ia ingin ikutan cara makan mie rebus Lee Min Ho di drama Boys Before Flower.


Aroma mie rebus pun merebak kembali, memenuhi seluruh udara di dalam dapur.


"Kok aromanya lebih enak."

__ADS_1


Tiba-tiba Albar menatap Balqis curiga.


Dia berdiri dan mendekati Balqis.


"Hmm... Perlu aku cicipin ngga?"


Tanya Albar.


Balqis menatap Albar dengan angker.


Kali ini jelas ia tidak akan menyerahkan mie rebusnya lagi. Balqis sudah kelaparan.


"Takutnya itu mengandung borax."


Kata Albar.


Rayuan ala Albar adalah menakuti lawan bicara.


"Ngga apa, jadi aku nanti berangkat sekolah ngga usah naik sepeda, tinggal mantul aja, kan kalau kebanyakan borax jadi kenyal."


Balqis ngeloyor membawa panci isi mie rebusnya keluar dari dapur untuk menuju ruang makan.


Albar cepat mengikuti.


Balqis meletakkan panci kecilnya di atas meja makan, lalu mengambil satu potong ayam goreng yang masih tersisa, juga kerupuk dari wadah.


"Lengkap banget kamu makannya, ini namanya kamu melanggar sila ke lima, tidak menjalankan sila itu dengan baik."


Ujar Albar duduk di samping Balqis.


Aki yang sedang duduk di ruang TV sambil nonton sinetron laga favoritnya tampak geleng-geleng kepala melihat Albar dan Balqis yang selalu saja ribut seperti kucing dan tikus.


Balqis melet pada Albar.


"Ikh."


Albar menyentil dahi Balqis.


Balqis mengusap dahinya yang kena sentil sambil cekikikan.


"Ya udah, malam ini aku ngalah, besok kamu harus bikinin lagi buat aku yang sama persis kayak gini."


Kata Albar.


"Kenapa? Ngga ada larangannya di bungkusnya."


Sahut Albar.


"Ayolah Bal, mumpung aku belum balik Jakarta. Kan sebentar lagi aku bakal balik."


Ujar Albar lagi.


Balqis yang mendengar Albar mengatakan akan segera balik Jakarta jadi hampir tersedak.


Ia memandangi Albar.


"Serius."


Balqis tak yakin.


Albar mengangguk.


Wajahnya kini jadi serius.


"Flo ngabarin kalau ada EO yang masih sodara kita pemiliknya dapat proyek untuk acara pengusaha besar, dan aku diminta jadi salah satu yang ngisi acara."


Tutur Albar.


Balqis terdiam.


Entah kenapa hatinya tiba-tiba jadi terasa aneh.


"Kapan?"


Tanya Balqis lirih.


"Ngg... mungkin hitungan hari lah Bal."


Sahut Albar.


"Ah sebentar lagi."

__ADS_1


Gumam Balqis.


"Ya ini kesempatanku mulai eksis lagi, biarin Mami marah juga, daripada aku balik ke Perth lalu kuliah manajemen."


Balqis menghela nafas.


"Tapi kalau kamu ngga nerusin Mami kamu ngurus perusahaan trus mau siapa lagi? Masa iya Bang Komeng."


Ujar Balqis menasehati.


"Iya sih, tapi aku tuh males Bal ngitung-ngitung. Aku mah uang kembalian aja ngga pernah dihitung."


"Ya kan karena kamu uangnya udah kebanyakan, malah harusnya kalau dikasih kembalian ngga usah diterima."


Kata Balqis sambil meneruskan makan mie lagi.


"Eh kalau beli cilok yang suka lewat itu aku bayar seratus ribu ngga aku minta kembalian kok."


"Cilok apa?"


Tanya Balqis.


"Itu, yang suka lewat depan rumah kalau siang, kan kamu sama Aki ngga ada, jadi aku jajan cilok."


Kata Albar.


"Ah cilok Bang Somat?"


"Nah iya itu, namanya Bang Somat, aku manggilnya Bang Tomato."


Jiaaaah...


Balqis tepuk jidat.


"Aku tiap hari beli tuh, banyak anak kecil pada ikut beli. Rasanya lucu kayak makan apa ya Bal, kenyel-kenyel gitu."


"Perut Kadal kali."


Kata Balqis asal lalu menggigit ayam gorengnya.


"Lhah kamu mah, sadis amat perumpamaannya."


Albar menabok Balqis membuat ayam goreng yang sedang digigit Balqis melompat.


"Hahaha... Dia mau hidup lagi Bal."


Albar malah tertawa.


Balqis jadi menabok Albar berkali-kali.


Acara makannya terganggu sama tingkah polah Albar yang super absurd.


"Albaaaaar maaaaah, Akiiiii iniiii gangguin muluuuu."


Balqis kesal sekali rasanya.


Albar terus tertawa.


"Lha emang itu kenapa coba ayam goreng bisa melompat gitu, dia mau hidup lagi Bal, kamu mah ngga peka."


Balqis menaboki Albar tanpa ampun. Albar jadi memutuskan kabur ke loteng dan masuk kamar sambil terus tertawa.


"Hih, artis absurd."


Kata Balqis lalu mengambil potongan ayam gorengnya lagi, lalu menghabiskan sisa mie rebusnya.


Setelah selesai makan, Balqis segera membawa panci kotornya, dan juga mengambil mangkuk kotor yang tadi dipakai Albar untuk kemudian dicuci dengan peralatan makan yang kotor di sumur.


"Bal, besok mie rebus jangan lupa."


Tiba-tiba Albar melongok lagi dari pintu kamar lotengnya.


"Ogaaaaaaah!!!!!!!!"


Teriak Balqis.


Hahahaha...


Albar tertawa lagi.


**----------**

__ADS_1


__ADS_2