Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
108. Kaget Satu, Kaget Dua


__ADS_3

Sekitar pukul delapan malam, setelah Pardi datang ke cafe karena Albar akhirnya malas nyetir lagi, mereka semua akhirnya pamit pulang pada Flo.


Flo sendiri memutuskan untuk tidur di cafe malam ini, karena malas pulang ke apartemen. Ah sebetulnya Flo memang belakangan ini lebih senang tidur di cafe karena di sana ramai orang.


Di cafe, Flo memang menyediakan empat kamar di lantai satu, di belakang bangunan utama cafe, gunanya memang untuk karyawan yang rumahnya jauh jadi tidak perlu bolak balik dan juga tidak perlu keluar uang untuk kos.


Flo melakukannya sejak ia mulai mengurus Albar menjadi artis dan kemudian menerima Pardi bekerja sebagai driver.


Pardi banyak bercerita tentang sebelum ia bekerja di tempat Flo, susah sekali hidup sebagai perantau di Jakarta jika gaji hanya sedikit sementara yang kebutuhan sangat banyak, termasuk tempat tinggal.


Karena itulah, Flo tidak ingin menjadi atasan yang hanya mengambil haknya, lalu membayar gaji sebagai kewajiban.


Flo ingin menjadi atasan yang juga bisa membuat nyaman pekerjanya dengan meringankan kebutuhan mereka.


"Besok ikut ke Kampung rambutan ngga?"


Tanya Albar pada Flo yang mengantar Albar dan lainnya keluar dari cafe menuju mobil yang telah menunggu tepat tak jauh di depan pintu cafe.


"Entahlah, nanti kita lihat saja, atau lebih baik kalian berdua gunakan saja waktu bersama besok sebelum lusa kamu berangkat ke Perth lagi."


Kata Flo pada Albar sembari melihat Balqis bersama ketiga temannya kini masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan Pardi.


Flo dan Albar memang berjalan di belakang semuanya.


Albar tampak mengangguk.


"Sekalian belilah cincin sebelum ke makam, atau sepulangnya."


Ujar Flo lagi.


Albar kini mengangguk-angguk lagi.


"Ok lah."


Kata Albar pula, lalu memeluk Flo sebentar sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku pulang yah, take care."


Kata Albar pada sepupunya itu sambil saling melepas.


Flo mengacungkan ibu jarinya.


"Jangan sampai bikin kesalahan lagi, lakukan dengan sebaik mungkin."


Ujar Flo.


Albar mengangguk.


Albar bergegas menuju mobilnya, menyusul Balqis dan yang lain.


Balqis dan teman-temannya membuka kaca mobil lalu melambai ke arah Flo yang melambaikan tangannya pada mereka.


Mobil melaju dibawa Pardi keluar dari pelataran parkir cafe Flo yang cukup luas.


Flo baru akan kembali masuk ke dalam cafe begitu mobil Albar sudah tak terlihat oleh mata, tatkala beberapa motor memasuki parkiran.


Mereka sepertinya para pekerja kantor yang baru saja pulang dari tempat kerja, bisa terlihat dari penampilan mereka yang lumayan rapi.


Flo masuk ke dalam dan memberikan tanda pada para karyawannya bahwa ada rombongan tamu lagi.


Ah padahal ini sudah menjelang cafe Flo tutup, tapi tentu saja tidak mungkin mereka menolak pelanggan datang.


Orang-orang yang baru berdatangan itu tampak ramai berbincang dan berhaha hihi saat memasuki ruangan cafe lalu memilih tempat duduk yang bisa untuk orang banyak.


Mereka sekitar sepuluh orang, dan semuanya laki-laki.

__ADS_1


Salah satu karyawan Flo terlihat sigap mendatangi meja mereka untuk menerima pesanan, sementara Flo yang lelah memilih akan ke lantai dua agar bisa istirahat.


Namun, belum lagi langkah Flo menuju anak tangga cafe, ia dikejutkan suara berisik dari rombongan yang baru datang itu dan disusul suara tawa mereka.


Flo menoleh ke arah para rombongan itu duduk, dan tampak satu orang lagi baru datang.


Dan...


Flo sampai hampir terlonjak saking kagetnya melihat siapa yang baru datang itu.


"Lah si Bapak kucing."


Gumam Flo.


**-----------**


Musik opening drama Secret Garden di episode pertama, saat Pardi akhirnya membawa mobil Alphard hitam yang ia kemudikan memasuki pelataran sebuah rumah mewah dua lantai.


"Kita sampai rumah, ayo turun."


Kata Albar memberitahu Balqis dan teman-temannya.


Balqis, Dinda, Po dan Eti tampak membuka pintu mobil dan satu persatu dari mereka turun dari mobil.


Keempat gadis itu melongo menatap rumah Albar yang akan mereka tempati.


"Iiii...iiiini rumahnya?"


Po tergagap.


Albar mengangguk sambil tersenyum.


"Bal, ayo masuk ke rumah kita."


Kata Albar meraih tangan Balqis dan menariknya menuju rumah.


Balqis gugup setengah mati.


Albar hanya tertawa saja.


Mereka menatap rumah Albar dengan mata nyaris tak berkedip.



"Ini ruang tamu utamanya."


Kata Albar pada Balqis dan semuanya.


Mereka makin melongo begitu masuk rumah.


Aaaaa...


(Awas lalat ijo)



Mereka berjalan melewati ruang tamu utama dan kemudian masuk ke ruang TV.



"Kalian bisa ngumpul kapan saja nonton di sini, aku punya banyak film bagus, putar saja agar kalian tak jenuh."


Ujar Albar.


Semua melongo.

__ADS_1


"Ini ruang TV apa bioskop Et?"


Tanya Po.


"Entahlah, aku merasa kayak lagi mimpi nih."


Kata Eti.


Albar kemudian mengajak mereka menaiki anak tangga menuju lantai atas.


"Hampir semua kamar ada di lantai atas. Hanya satu kamar tamu utama di lantai satu, itu jika kalian kedatangan keluarga dari kampung, bisa tidur di sana, mau keluarga Dinda, Eti ataupun Po, datang saja tidak masalah, kalian keluarga Balqis berarti keluargaku juga."


Kata Albar.


Balqis di sisi Albar jadi merasa ingin menangis haru mendengar kata-kata Albar.


"Kita lihat kamar untuk kalian."


Kata Albar.


"Di lantai dua ini ada empat kamar, satu kamar punyaku, dan tiga lainnya kosong, biasanya satu kamar kosong itu untuk tidur Flo jika dia menginap, tapi tidak apa kalian pakai saja, pilih mana yang kalian ingin tempati, salah satunya ada yang tempat tidur dobel, jadi siapa di antara kalian yang mau tidur berdua silahkan."


Ujar Albar.


"Aku sama Eti saja yang berdua."


Kata Po.


"Jiaaah, dia mah hobinya nonton horror tapi ujungnya penakut."


Kata Eti.


Albar membuka kamar pertama yang tepat bersebelahan dengan kamar Albar.


"Ini untuk kamu saja Bal."


Kata Albar begitu membuka kamar pertama.



"Kamu bisa belajar didekat jendela, kamar ini menghadap taman samping rumah, jadi kamu bisa lihat pemandangan."


Ujar Albar.


Balqis mengangguk saja.


Tentu Balqis tak bisa banyak bicara sekarang, ia terlalu bingung harus bereaksi macam apa, ini seperti ia dilempar ke atas sangat tinggi.


Albar kemudian menunjukkan kamar kedua dan ketiga untuk Dinda, Eti dan Po.


"Nah, kalian silahkan benahi barang-barang ke kamar masing-masing, nanti aku minta Bi Tuti menyiapkan air untuk di kulkas dalam kamar agar kalian kalau haus malam hari tidak perlu turun ke dapur untuk ambil minum. Ya sekalian kenalan dengan asisten rumah tangga."


Ujar Albar mengakhiri penjelasannya.


Albar kemudian melepas gandengan tangannya pada tangan Balqis dan meletakkan tangan itu di atas kepala Balqis.


"Selamat datang calon nyonya rumah ini, met istirahat ya, aku mau mandi dulu."


Kata Albar lalu tersenyum manis sebelum akhirnya berlalu ke kamarnya sendiri.


"Ciyeeee calon nyonya, kamarnya sebelahan, ati-ati nanti malam ada yang nyasar."


Seloroh Eti menggoda Balqis yang wajahnya langsung bersemu merah, sedangkan Dinda menabok lengan Eti.


"Jangan kotor-kotor pikirannya, nanti jadi begok."

__ADS_1


Kata Dinda membuat Po terpingkal dan Eti manyun saja.


**----------**


__ADS_2