
"Bar, pikirkan lagi semuanya baik-baik."
Flo menarik lengan Albar yang kini masuk ke dalam walk on closet untuk berkemas.
"Bar, kamu pikir ini lucu? Kamu mau main-main?"
Flo mulai kesal karena Albar sejak tadi diam saja dan seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Albar!!"
Flo kesal bukan main sampai terpaksa membentak Albar yang kini terlihat menyambar semua kemejanya dari gantungan.
Albar menatap Flo.
"Kamu mau ninggalin semuanya? Oke, fine. Aku tahu kamu terguncang, jangankan kamu, bahkan aku juga sama, tapi apa ini adil buat Balqis? Kamu ngga mikirin dia? Bagaimana dia kalau tahu kamu tiba-tiba pergi..."
Flo menatap tajam ke arah Albar.
Tampak mata Albar berkaca-kaca, lalu lekas dialihkannya tatapan mata itu untuk menghindari tatapan mata Flo yang seolah menghujam ulu hatinya.
"Ia akan baik-baik saja tanpa aku, bahkan ia akan jauh lebih baik jika tanpa aku, dan harusnya dia tak perlu bertemu denganku!!"
Kata Albar.
"Kau bodoh? Kau pikir setelah mengambil hati seorang gadis lalu bisa dengan mudah kamu hempaskan begitu?"
Kesal Flo.
"Nyatanya aku hanya pembawa kesialan untuk hidup Balqis, aku menyebabkan kedua orangtuanya meninggal, dan gara-gara aku juga Aki terlambat mendapat pertolongan hari itu."
Kata Albar seraya terhuyung menyandar ke dinding lalu ambruk terduduk di lantai.
"Aku membawa sial dalam hidup Balqis, dan akan terus begitu, dia tak akan bisa bahagia denganku, lebih baik dia jauh dari aku, lebih baik dia tak usah kenal aku lagi."
Ujar Albar.
"Itu menurutmu."
Sahut Flo.
Albar tampak mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya. Kepalanya sakit. Ada seperti palu besar yang kini memukuli kepalanya dan juga dadanya.
Sungguh Albar rasanya tak lagi berdaya saat ini. Ia ingin lari yang jauh, hanya itu yang ia tahu.
Ia takut, ia sangat takut akan menyakiti Balqis, takut akan menjadi penyebab kesialan selanjutnya, akan menjadi ketidak bahagiaan Balqis berikutnya.
Flo terduduk lemas di atas bangku dekat rak-rak sepatu Albar dan juga tempat menyimpan beberapa koleksi jam mewahnya.
Flo menatap Albar yang tampak begitu hancur, Flo sungguh tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk membuat Albar tak seterpuruk sekarang.
Setengah jam berlalu saat keduanya hanya saling diam.
Albar menikmati tangisnya, dan Flo tenggelam dalam kebingungan yang teramat.
__ADS_1
Bagaimanapun Flo memikirkan Balqis, bagaimana caranya nanti Flo menjelaskan semuanya tanpa harus menyakitinya.
Rasanya membayangkannya saja Flo tak mampu. Membayangkan jika Balqis tahu Albar pergi maka ia akan semakin merasa sendirian setelah meninggalnya Aki.
Bagaimana jika nanti akan mengguncang hatinya? Bagaimana jika nanti mempengaruhi kehidupan sehari-harinya?
Tampak Albar pelahan bangkit dari posisinya, merambat berpegang pada dinding untuk kemudian kembali berdiri.
"Uruskan semua keperluanku untuk besok aku pulang ke Perth, ku mohon."
Kata Albar tanpa menatap Flo.
"Kau akan kehilangan Balqis dan akan menyesalinya seumur hidupmu Bar, jika kamu merasa bersalah harusnya tetaplah tinggal dan bahagiakan dia!!!!!!"
Flo melempar salah satu sepatu mahal milik Albar ke arah salah satu cermin hingga cermin itu pecah berantakan.
Albar keluar dari walk on closet, meninggalkan Flo tanpa berbalik lagi.
"Haiiish, sial!!"
Flo menyambar satu sepatu Albar lagi dan membantingnya ke lantai.
**--------------**
Di rumah Balqis, tampak Balqis tampak menatap layar ponselnya, ia mengirim pesan pada Albar sejak istirahat sekolah hingga sekarang tapi tak juga dibaca, bahkan pesan lewat aplikasi chat pun terlihat centang satu.
Sementara Bang Fajar yang katanya juga butuh bicara dengan Albar tampak berada di rumah Balqis juga dan mondar-mandir masih berusaha menelfon nomor Albar yang panggilannya dialihkan.
Balqis terlihat mulai cemas, perasaannya tak enak, bingung rasanya ia dengan situasi dan kondisi yang tiba-tiba saja seolah berubah.
Kesal sang juragan ayam.
Balqis yang duduk di tangga loteng kamar Albar menatap Bang Fajar yang ada di teras dekat pintu dapur dan sumur.
"Hubungi Nona Flo saja lah, mungkin Albar kan lagi syuting."
Kata Teh Inggit yang sedang mencuci piring, ia baru pulang kuliah tapi langsung bebenah.
"Aqis tadi telfon Kak Flo juga tidak ada jawaban Teh."
Ujar Balqis.
Teh Inggit mematikan kran, dan naik ke teras untuk kemudian mengeringkan kedua tangannya dengan kain lap yang digantung dekat pintu dapur.
"Coba lagi nanti, kita kan tidak tahu kesibukan artis itu bagaimana, manajernya juga bagaimana, selama ini kita awam dengan dunia mereka."
Kata teh Inggit mengajak berbaik sangka.
"Tapi aku nyoba hubungi dari pagi lho teh, masa iya orang syuting tidak ada jedanya."
Ujar Bang Fajar.
Teh Inggit melirik Balqis yang tertunduk dan matanya mulai berkaca-kaca.
Albar kenapa? Albar di mana? Kenapa dia tiba-tiba sulit dihubungi? Batin Balqis sedih.
__ADS_1
Teh Inggit menghela nafas.
"Hari ini ngaji kan Qis?"
Teh Inggit mencoba mengalihkan pembicaraan agar Balqis tak terlalu tenggelam berandai-andai tentang Albar.
Balqis terlihat mengangguk.
"Ini sudah jam tiga, kamu mending mandi Qis, terus siap-siap berangkat ngaji ke Ustadzah Nur."
Ujar teh Inggit.
Balqis mengangguk.
"Iya Teh."
Balqis pelahan berdiri dari duduknya.
Cimot sedang berlarian di pekarangan di mana kini tanaman tomat dan lain-lain yang ditanami oleh Aki dekat kamar mandi sudah mulai berbuah.
Balqis berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handuk, sedangkan Bang Fajar berganti duduk di tempat yang tadi untuk duduk Balqis.
"Aku mau tanya itu mobil mau disewa saudaraku teh, mau disewa buat ngelamar ke Brebes, boleh apa tidak, tapi ditelfon malah tidak diangkat-angkat, di kirimi pesan juga jangankan dibalas, dibaca saja tidak."
Keluh Bang Fajar.
Teh Inggit menghela nafas.
"Aku lihat tadi tidak sengaja berita Albar ke pemakaman, lagi heboh lagi kayaknya, mungkin dia ada masalah baru lagi."
Cerita Teh Inggit.
"Pemakaman siapa teh?"
Tanya Bang Fajar pada Teh Inggit yang tampak sambil membersihkan kandang Cimot, anak perempuan Wak Icih itu memang sangat rajin.
Tepat saat mereka membicarakan berita baru soal Albar, Balqis keluar dari kamarnya dan sempat mendengar keduanya berbincang.
Balqis berdiri di belakang pintu yang akan menuju keluar di mana Bang Fajar dan Teh Inggit berada.
"Entah sih, aku tadi cuma sepintas saja lihat ngga sengaja pas ada temen yang suka lihat acara gosip."
"Apa keluarga Albar meninggal?"
Bang Fajar seperti bergumam.
Teh Inggit menghela nafas seraya berdiri karena telah selesai membersihkan kandang Cimot.
"Kalau tidak salah sih tadi ada pembahasan itu korban kecelakaan, trus apa sih lupa, ada kok di media sosial paling juga lagi heboh, cari aja."
Kata Teh Inggit.
Mendengarnya Bang Fajar yang penasaran berat tentu saja langsung mengklik hp nya, sedangkan Balqis kembali ke kamarnya untuk mengakses berita lewat laptop saja.
Albar... kamu kenapa? Apa yang terjadi? Batin Balqis khawatir.
__ADS_1
**------------**