
Flo entah kekuatan darimana, hari ini menghubungi Indra untuk tanya apakah ia akan mampir ke cafenya?
Meskipun alasannya Luni, tapi sebetulnya tetap saja alasan klasik itu mudah diendus memuat berjuta-juta maksud ingin diapeli, dijeruki, dikedondongi, disawoi, dirambutani dan lainnya.
Dan...
Eng ing eeeeng...
Nyatanya, gayung yang dilempar Flo bersambut manis.
Indra dengan senang hati mengiyakan akan mampir, dan akan mengusahakan mampir pastinya.
Oh sungguh tentu saja hati Flo bukan hanya berbunga-bunga, tapi bunga itu langsung menjadi buah yang siap dipetik.
Flo pun bersiap untuk menyambut kedatangan Indra yang akan mampir di jam makan siang.
Karena kebetulan letak tempat kerja Indra yang baru tak begitu jauh dari cafe Flo, maka Indra sama sekali tak keberatan untuk nanti menyempatkan diri ke cafe Flo, sekalipun itu untuk alasan Flo bingung mau ngasih susu merk apa untuk Luni.
Ya ya ya...
Kalau Othor pastinya saat bingung milih merk susu atau makanan kucing, cukup chat tanya merk nya apa pada teman dan langsung capcus pesan pada ojol.
Tapi Flo...
Oh tidak, dia benar-benar membuat itu sebagai ajang menyelam sambil minum air.
Flo maunya Indra langsung datang membawakan susu untuk Luni dan mengajarinya menyeduh susu untuk Luni.
Dan Indra, sang Duda koceng manut saja demi nyai...
Jam sudah mulai semakin mendekati waktu makan siang para karyawan.
Flo kebat kebit tak karuan, sejak pagi ia sengaja tak merokok sama sekali, karena takut bau mulutnya nanti penuh asap macam kawah merapi tempat membersihkan Jayapada milik Zizi.
Meskipun mulut rasanya sudah asam-asam tak jelas, tapi akhirnya Flo tetap merasa harus terbiasa.
Ia jadi ingat saat dulu Albar tanya soal kebiasaan Flo merokok dan juga kadang sesekali menenggak alkohol.
Flo bilang pada Albar, jika nanti ia menemukan laki-laki yang benar-benar baik, Flo pasti akan berusaha berubah.
Dan...
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Flo sekarang ingin berhenti merokok, apakah ini pertanda...
"Nona Flooo... Nona Flooo..."
Lisa muncul melongok dari tangga, Flo yang sedang duduk sambil pura-pura sibuk corat coret entah nulis apa di lantai dua di belakang meja menoleh ke arah Lisa.
"Ada apa Lis?"
Tanya Flo.
"Ada Bang Indra datang sama temen-temennya."
__ADS_1
Kata Lisa mengabarkan.
Flo yang mendengat Indra ternyata sudah datang rasanya langsung ingin salto di udara.
"Oke, baiklah, nanti aku turun."
Kata Flo.
Lisa mantuk lalu turun lagi.
Flo langsung mencari Luni yang tadi sedang berlarian sendirian mengejar entah apa.
Kadang kucing memang begitu, sibuk mengejar yang tak pasti.
Setelah akhirnya Luni tertangkap di dekat pojokan ruangan, Flo pun menggendongnya menuju lantai satu, tepat saat Indra justeru akan naik ke lantai dua.
Mereka pun sejenak bertatapan.
Dan mereka akan terus saling bertatapan sampai subuh menjelang jika saja Luni tidak melompat ke arah Indra secara tiba-tiba.
Indra sebagai Bapak koceng, tentu saja gerakan tangan refleknya sangat teruji.
Ia langsung bisa menangkap tubuh kecil berbulu itu, dan langsung mendekapnya.
Luni kedip-kedip matanya menatap Bapaknya yang tampak rupawan dan wajahnya mirip dirinya.
"Aku bawakan susunya."
Ujar Indra.
Kata Flo basa basi meskipun padahal sengaja pakai banget.
Indra tersenyum.
Senyumnya semanis lapis legit.
Flo dan Indra akhirnya sama-sama naik ke lantai dua, untuk kursus menyeduh susu untuk Luni.
**--------------**
Di tempat lain, Eti dan Bang Zul yang kini hanya berdua satu mobil sibuk membicarakan soal Po dan Tio jaman dulu saat di perkemahan.
Bang Zul dibuat terus tertawa mendengar kisah cinta adiknya yang ngenes karena surat sandi rumput yang tak bisa ia baca.
"Tapi aku yakin sih kalau Tio aslinya suka sama Po, soalnya selama berkemah, dia baik dan perhatian banget sama Po."
Ujar Eti.
Bang Zul mantuk-mantuk.
"Iya, aku lihat sampai sekarang cara dia lihatin Po juga kelihatan kalau dia suka."
Kata Bang Zul.
__ADS_1
"Jadi kalo mereka jadian, Bang Zul setuju?"
Tanya Eti.
Bang Zul mantuk-mantuk.
"Ya setuju saja aku sih, kayaknya Tio anaknya baik."
Eti mengangguk mengiyakan.
Keduanya terus mengobrol sampai akhirnya Eti turun di depan kampus.
"Aku mau mampir ke bengkel tempat kerja aku dulu ya Et, nanti kalau mau pulang chat atau telfon saja ngga apa."
Ujar Bang Zul.
"Bang Zul ngga pergi sama pacar? Nanti Eti ganggu."
Kata Eti.
Bang Zul menggeleng.
"Aku udah putus Et, nggak usah bahas pacarlah."
Kata Bang Zul.
Eti cekikikan lalu membuat tanda oke dengan jari tangannya.
Eti melambai pada Bang Zul yang kemudian melajukan mobilnya menjauhi kampus Eti.
Berbeda dengan Eti yang ditinggal Bang Zul, Dinda dan Balqis justeru ditunggui Bang Fajar.
Bang Fajar yang terus terkagum-kagum dengan kemegahan kampus UI terlihat betah dan tak ingin pulang.
"Jadi ini salah satu kampus terbaik di Negeri ini, yang sudah mencetak banyak sekali orang hebat."
Gumam Bang Fajar yang tiba-tiba merasa semakin bangga telah memiliki sosok Dinda sebagai calon Ibu untuk anak-anak mereka kelak.
Wah...
Apakah aku semakin mirip punguk merindukan bulan mak? Batin Bang Fajar, manakala melihat banyak mahasiswa yang lewat di depannya ganteng-ganteng dan sangat berkarisma.
Ya, inilah kelebihan orang cerdas, kharisma mereka secara otomatis membuat mereka terlihat ganteng natural.
Dan demi melihat serombongan mahasiswa bermasa depan cerah itu, Bang Fajar pun rasanya jadi seperti balon kempes.
Mak...
Bagaimana ini Mak...
Bagaimana jika Dinda akhirnya kecantol salah satu dari mereka Mak?
Aaah pasti aku lebih baik langsung mundur daripada di K.O Mak.
__ADS_1
**-------------**