
"Siapa tadi namanya Al?"
Tanya Mami dalam perjalanan dari Kampung Rambutan menuju tempat EO yang akan mengurus acara pernikahan Albar.
"Paman Rasyid."
Kata Albar sambil sibuk berbalas pesan dengan Flo.
"Ah iya Rasyid, berarti nanti sepulang dari Tasik, kita ke tempat Paman Rasyid."
Ujar Mami.
"Tapi ada baiknya Balqis coba hubungi beliau dulu, karena kan Balqis yang bersaudara dengan beliau, bagusnya sama kamu juga Al."
Tambah Mami lagi.
"Hari ini?"
Tanya Albar.
"Ya telfon dululah, buat janji dulu, kan beliau katanya jadi dosen, nanti kalau sedang ada acara diganggu kan tidak enak."
Albar mantuk-mantuk.
Balqis di tempatnya terlihat terdiam.
Ia baru tahu jika ternyata masih ada saudara yang lebih berhak jadi wali untuk pernikahannya.
Paman Rasyid.
Seorang dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta.
Mami kemudian hp nya mulai ramai panggilan masuk, sepertinya dari Perth, karena dia langsung bicara dengan bahasa inggris.
[Jam berapa kira-kira kalian nyampe cafe?]
Flo mengirim pesan lagi ke hp Albar.
[Ya belum tahu, ini aja baru jalan ke tempat EO.]
Jawab Albar.
[Ya udah, kabarin ya kalau udah mau cap cus ke sini]
[Ok, santai saja, aku yang nanti chat Indra]
Tulis Albar.
Dan tentu saja, tak usah menunggu lama untuk Flo bereaksi atas pesan yang baru saja Albar kirimkan.
Flo menelfon Albar hingga Mami terpaksa menabok Albar karena dering hp nya merusak pendengaran.
Albar cekikikan.
"Flo nih Mam..."
Kata Albar di sela tawanya.
__ADS_1
Mami yang terlihat serius sekali bicara dengan orang yang menelfonnya terlihat menggelengkan kepalanya.
Selang setengah jam sejak dari Kampung Rambutan, akhirnya mobil yang dikendarai Bang Zul untuk mengantar Albar, Balqis dan Maminya Albar kini akhirnya berhenti di depan sebuah kantor Event organizer yang sudah lebih dulu dihubungi orang kepercayaan Maminya Albar di Jakarta.
"Katanya EO ini sering dipakai Tuan Zion untuk beberapa acara di Alpha Centauri."
Kata Mami begitu bersiap untuk turun.
"Pestanya di ruang terbuka saja Mam, jangan pakai gedung, halaman rumah Mami kan luas, kita bikin macam pesta Vino G Bastian, keren itu."
Kata Albar yang kemudian turun bersama Mami.
Balqis ikut turun dan membenahi penampilannya.
Kantor EO yang akan mereka percayai mengurus acara pernikahan Albar dan Balqis dari depan saja sudah kelihatan bukan EO kaleng-kaleng.
Jangankan kaleng susu kental manis, kaleng kerupuk yang gede saja bukan.
"Gimana Bal menurut kamu, pesta di ruang terbuka, nuansa putih, lebih bagus kan?"
Albar minta pendapat sang calon isteri.
Balqis terlihat memandang ke arah Maminya Albar lebih dulu, melihat Mami yang hanya nyengir saja membuat Balqis jadi bingung harus menjawab apa.
"Diam berarti iya."
Kata Albar seenaknya, membuat Mami terkekeh.
"Ya terserah kalian sajalah, toh kalian yang mau menikah."
**--------------**
"Balqis mau datang dengan Mami Albar?"
Eti dan Po histeris mendengar woro-woro dari Flo.
"Tolong nanti pokoknya siapkan menu terbaik kita untuk Maminya Albar ya."
Kata Flo.
Ah yah, tentu saja ia tak mau nanti mendengar komentar julid dari Maminya Albar soal menu-menu di cafe nya.
Setidaknya, nanti kalau Maminya Albar puas dengan menu cafe Flo, lalu memberikan pujian untuk usaha Flo ini, sudah jelas Flo akan berbangga hati untuk menunjukkannya juga pada Maminya sendiri.
Flo setelah memberikan woro-woro pada pegawai-pegawai nya, tampak ia kemudian kembali ke lantai atas.
Luni terlihat berlarian ke sana ke mari, setelah sejak kemarin kurang enak badan dan tiduran terus di kandang, hari ini kucing kecil itu kembali berlarian ke sana ke mari.
Flo menghela nafas, berjongkok yang mengundang Luni berlari ke arahnya.
"Menu sudah, tempat sudah, sekarang PR nya adalah soal Ayahmu Lun."
Kata Flo.
"Meooong."
Luni menyahut seolah tahu apa yang dikatakan Flo.
__ADS_1
Flo jadi tertawa kecil.
Ah andai Indra nanti sore datang tanpa harus diminta.
Tapi...
Ah tidak!
Bagaimana kalau Albar benar-benar meminta Indra datang?
Aduh malu aku... Malu akuuuuuuu...
Teriak batin Flo.
Flo yang tiba-tiba jadi panik takut Albar sungguhan meminta Indra datang akhirnya terpaksa menelfon Indra lebih dulu.
Tentu saja Flo harus mengatakan pada Indra agar jangan mendengarkan bisikan Albar yang sesat menyesatkan.
Tat tit tut...
Tat tit tut...
Flo menekan nomor hp Indra.
Panggilan tersambung, Flo menunggu dengan tak sabar, hingga...
Mati.
Haiiish... Flo mendesis.
Lantas...
Flo melihat jam.
Ah iya, masih jam dua siang, pasti dia masih kerja. Batin Flo.
Flo akhirnya memutuskan mengirim pesan saja.
[Maaf ganggu]
[Kalau Albar chat jangan di tanggapi ya]
[Kalau Albar minta datang ke acara apapun jangan mau sebelum aku bilang tidak apa-apa ya]
Flo mengirimi Indra dengan banyak sekali pesan, yang ujungnya ternyata hanya dibalas dengan...
[Aku akan datang, aku sudah mengiyakan permintaan Albar]
Glek...
Flo melongo.
Mati aku!
Flo menepuk jidatnya sendiri.
**--------------**
__ADS_1