Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
113. Jodoh Itu Telah Disiapkan


__ADS_3

Sepulang dari makam, Albar mengajak Balqis ke sebuah toko perhiasan yang cukup ternama dan beberapa kali Mami Albar juga pesan perhiasan di sana.


"Habis ini kamu mau belanja bahan masakan ngga apa, yang penting beli perhiasan dulu."


Kata Albar sambil menarik tangan Balqis memasuki toko perhiasan.



"Nanti jangan dibuang lagi ya."


Kata Albar saat menggandeng Balqis mendekati etalase di mana banyak macam model dan perhiasan di pajang.


Balqis jadi nyengir tak enak. Ia ingat kalung yang diberikan Albar dengan inisial namanya, itu Balqis kembalikan berserta uang Albar dalam satu koper.


"Uang dan perhiasannya masih disimpan di kamarku, nanti masukin tabungan lagi, kalungnya dipakai lagi atau kamu simpan saja."


Ujar Albar.


"Kenapa uangnya dibiarkan saja dalam koper?"


Tanya Balqis.


"Perlu dijawab nggak kira-kira?"


Albar balik tanya, membuat Balqis tersenyum kecut.


Ya pasti karena pamali jika uang dan benda yang sudah diberikan pada orang lain diminta kembali.


Apalagi si pemberi tak merasa kekurangan sama sekali.


Ah ya tentu saja, apalah arti uang dua ratus juta untuk Albar. Uang sejumlah itu pastinya hanya uang jajan Albar saja bukan?


Albar mengajak Balqis mendekati etalase yang sedikit ke tengah ruangan, untungnya suasana cukup sepi hingga mereka bisa lebih leluasa untuk memilih nantinya.



"Kamu mau cincin sama apa?"


Tanya Albar.


Balqis tampak menatap etalase di depannya.


Etalase penuh perhiasan dengan beragam model yang cantik dan indah dipandang mata.


Seorang pelayan menghampiri mereka, mengucap selamat siang dengan ramah dan menanyakan perhiasan apa saja yang mereka butuhkan.


"Cincin berlian ada tidak Ka?"


Tanya Albar.


Pelayan yang cantik itu mengangguk.


"Untuk pernikahan?"


Tanya Pelayan.


Albar mengangguk.


"Satu pasang?"


Tanya pelayan lagi.


Albar mengangguk lagi.


Tapi Balqis segera menyela.


"Jangan, satu saja."


Kata Balqis.


Albar menoleh pada Balqis dengan kening berkerut.


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Albar bingung.


Balqis menatap Albar lalu berkata dengan pelan.


"Laki-laki tak boleh pakai perhiasan emas."


Mendengarnya Albar terkesiap.


"Jadi aku ngga perlu pakai cincin pernikahan nantinya?"


Tanya Albar.


Balqis menggeleng.


"Kalau pada tahunya aku belum menikah bagaimana?"


Tanya Albar pula.


Balqis tersenyum.


"Kalau Albar takut pada Allah pasti akan tetap jujur seandainya ada orang atau perempuan lain mengira Albar belum menikah."


Jawab Balqis membuat dada Albar laksana di pukul batu besar.


Pelayan cantik yang melayani mereka tampak mengulum senyuman mendengar jawaban Balqis.


Jawaban yang sangat sederhana namun istimewa.


Albar akhirnya kembali kepada sang pelayan, yang kembali menanyakan apa saja yang akan mereka pilih.


"Cincin berlian yang paling bagus Ka, yang untuk pernikahan."


Ujar Albar.


Pelayan itupun bergeser sebentar untuk mengambilkan apa yang menjadi kemauan pasangan tersebut.


Albar menghela nafas.


**------------**


Dan ternyata belanja perhiasan untuk menikah apalagi belanjanya dengan pasangan membutuhkan waktu yang cukup lama.


Selain karena pilihan sangat banyak dan semuanya terlihat bagus, juga terkadang model yang diinginkan begitu dicoba lingkar jarinya tak sesuai.


Sekitar hampir dua jam lebih berada di toko perhiasan akhirnya membuat Albar jadi lapar. Apalagi setelah lelah memilih bersama Balqis, Albar juga tak menyangka jika pelayan toko dan pemiliknya akhirnya lama-lama mengenali Albar sang idol yang sudah satu tahun belakangan tak pernah muncul lagi di layar kaca.


Meladeni mereka yang ingin minta foto dan tandatangan akhirnya membuat Albar juga harus rela mengulur waktu lagi.


Dan, karena lapar luar biasa, akhirnya Albar memaksa Balqis makan di restoran terdekat.


"Kan harusnya nanti masak saja di rumah."


Kata Balqis.


"Sayang, ini jam berapa? Sudah jam satu siang, belum juga kamu belanjanya, trus nanti perjalanan pulangnya, nyampe rumah kamu harus masak dulu, lha aku keburu kempes."


Kata Albar, membuat Balqis tertawa kecil.


"Nggak apalah, cuma makan steak ini, nanti gampang makan nasinya di rumah."


Ujar Albar pula.


Balqis mantuk-mantuk.


"Hu um, kamu kan dari pagi belum makan nasi Albar."


Kata Balqis perhatian.


Albar tersenyum senang karena diperhatikan.


"Iya nanti makan nasi kalau kamu yang masak, sekarang buat ganjel perut dulu."


Balqis mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Tak lama berselang, pelayan pun datang membawakan pesanan keduanya.



"Mau nambah lagi nggak?"


Tanya Albar.


Balqis tertawa lagi.


"Emangnya Aqis makannya satu bakul?"


Albar jadi mesem tipis.


Albar kemudian memotong daging steak di piring yang ada di depannya, lalu memberikan pada Balqis agar Balqis tinggal makan saja.


Balqis tentu saja senang bukan main diperlakukan demikian.


Ah Balqis pikir laki-laki yang memanjakan pasangannya hanya ada di drama Korea, ternyata Balqis juga mendapatkan pasangan yang bisa memperlakukan perempuan semanis itu.


"Terimakasih."


Kata Balqis malu-malu.


Albar mengangguk.


"Aku yang harusnya terimakasih Bal."


Ujar Albar menatap Balqis dalam-dalam.


Balqis jadi canggung karena ditatap begitu oleh Albar.


"Jangan menatapku begitu."


Kata Balqis sambil tertunduk karena jadi gugup.


"Kamu pasti nggak tahu betapa aku bahagia sekarang Bal. Kamu maafin aku, kamu juga mau pindah tinggal di rumahku, kamu mau bersamaku menemui keluargamu, menerima lamaranku."


Albar tanpa terasa menitikkan air mata karena saking senangnya.


Balqis yang jadi tak tega melihat Albar sampai menitikkan air mata akhirnya meraih tangan Albar.


"Aku juga akan menunggu sampai Albar selesai studi di Perth. Mulai sekarang belajarlah sungguh-sungguh dan ikuti keinginan Mami Albar. Kita sebagai anak hanya punya kesempatan sebentar bersama mereka Albar, apalagi lihatlah Aqis, bahkan mengenal mereka saja Aqis tidak sempat."


Kata Balqis membuat Albar makin menangis.


"Aku janji akan menyelesaikan studiku dan gabung dengan perusahaan, aku tak akan mengecewakan kamu Bal."


Kata Albar.


Balqis tersenyum.


Balqis kemudian membuka tas kecilnya, mengeluarkan tissu lalu memberikannya pada Albar.


"Katanya lapar, sudah makan dulu."


Ujar Balqis.


Albar mengangguk, ia lalu menarik piring bagiannya.


Sungguh rasanya ia tak tahu bagaimana caranya bersyukur sekarang. Ia terlalu bahagia, ia terlalu merasa jika semua hal dimudahkan untuknya.


Balqis menyuapkan satu potong daging steak yang tersaji di hadapannya.


Daging yang telah diiris oleh Albar sebelumnya itu terasa sangat lembut dan lezat.


Di luar sana pastinya matahari Jakarta masih terik membakar, namun di sini, di tengah keduanya rasanya hati mereka tak merasa demikian.


Mereka merasa sama-sama nyaman dengan keberadaan satu sama lain, merasa lengkap dengan kehadiran masing-masing.


Mungkin inilah yang dinamakan jodoh dari Tuhan, di mana hubungan bisa membuat keduanya merasakan kedamaian dan juga berkah atas hubungan tersebut.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2