Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
79. Jatuh Cinta Beribu Rasa


__ADS_3

Mami tampak berlari menghambur menyambut Albar yang turun dari mobil dengan langkah terhuyung.


Mami yang bermaksud memeluk putranya itu kemudian didorong Albar menjauh hingga nyaris terjatuh.


"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?"


Mami mulai berurai air mata lagi melihat Albar berjalan masuk ke rumah tanpa menghiraukannya.


Flo yang turun dari mobil setelah Albar merangkul Bu Dhe nya.


"Kita bicara di dalam Bu Dhe."


Kata Flo.


Mami Albar terus menatap Albar yang kini terlihat menaiki anak tangga rumah menuju kamarnya.


"Albar kenapa Flo? Kenapa dia?"


Tanya Mami Albar di sela isak tangisnya.


Flo mengajak Mami Albar duduk di sofa ruang utama rumah Albar.


"Kami baru saja dari rumah mendiang Pak Nurdin, Bu Dhe."


Mendengarnya Mami Albar menatap Flo dengan matanya yang melebar.


"Ka... kalian..."


Flo mengangguk.


"Albar tahu semuanya."


Lirih Flo membuat Mami Albar langsung tampak lemas.


Ia menangis seolah menyesali semua hal. Flo meraih tubuh Mami Albar untuk dipeluknya.


"Kenapa Bu Dhe tak cerita pada Flo tentang masa lalu Albar? Jika saja Bu Dhe cerita, harusnya Albar tak perlu pulang ke Indonesia lagi, harusnya Albar tak perlu ke Tasik dan dititipkan ke rumah Abah Mang Kus."


Kata Flo.


Mami Albar semakin menangis. Ia menyesali kebodohannya memutuskan Albar justru dititipkan di rumah Aki.


"Bu Dhe tidak tahu anak yang diadopsi anak perempuan, Bu Dhe tak bisa ikut mengurus karena harus menggantikan Papi Albar mengurus perusahaan sejak ia koma dan saat telah sadar pun ia enggan mengurus perusahaan lagi. Semuanya kacau sejak peristiwa itu Flo, rasanya Bu Dhe juga nyaris gila."


Kata Mami Albar sambil berulang kali berusaha menyeka air matanya.


"Albar juga kondisinya sangat memprihatinkan, Bu Dhe sangat takut ia tumbuh dengan gangguan mental, Bu Dhe meminta tolong Mami kamu membawa Albar ke Perth lebih dulu, menjaganya dan Mami kamu yang mencarikan dokter untuk mengatasi masalah trauma Albar yang cukup berat."


Flo mengambilkan tisu dan memberikannya pada Bu Dhe nya.


"Mami juga tidak pernah cerita apapun pada Flo, tapi dia memang sempat marah saat tahu Flo dan Albar pulang ke Indonesia, Mami bilang kalau Flo yang tinggal tak masalah, tapi jangan Albar."


Mami Albar mengangguk.


"Ya, tentu saja Mami kamu begitu, karena pasti Mami kamu tahu betul apa yang sudah Albar lewati."

__ADS_1


Lirih Mami Albar.


Flo mengangguk.


Ia menatap anak tangga menuju lantai dua yang kini kosong. Albar pasti sudah masuk ke dalam kamarnya, ia begitu terguncang mendapatkan kenyataan menjadi penyebab kecelakaan besar yang membuat Balqis kekasihnya kehilangan kedua orangtuanya.


"Albar mencintai Balqis, dia sangat terpukul mengetahui semuanya."


Kata Flo kemudian.


Mami Albar menghela nafas.


"Itu sebabnya Bu Dhe ketakutan setengah mati begitu menyadari semuanya Flo, ini bukan masalah status sosial yang mungkin kamu pikirkan, Bu Dhe tak seperti itu, Bu Dhe takut semuanya terulang lagi, takut Albar akan terpuruk lagi."


Mami Albar menangis tersedu-sedu, ia benar-benar tak menyangka semua rahasia yang telah begitu lama bisa tertutup rapat akhirnya terkuak semuanya.


**--------------**


Langit tampak biru cerah, sawah terhampar dengan hijau padinya yang membuat mata sedap memandang.


Albar berjalan menyusuri jalanan kampung tanpa alas kaki, jalanan yang masih belum diaspal dan masih dari tanah.


Sesekali ia akan menginjakkan kakinya yang telanjang di atas rerumputan yang berembun, merasakan dingin dan sejuknya rerumputan di sisi-sisi jalanan kampung di pagi hari.


Di depannya, Balqis berjalan mendahului, sesekali gadis itu menoleh ke arahnya dengan senyuman manisnya, membuat Albar merasakan ada dua mentari di pagi ini.



Ya...


Buat Albar, Balqis adalah mentari yang membuat seluruh harinya menjadi terasa cerah, yang mampu membuat seluruh daun di dalam hatinya melahirkan oksigen baru, membuat sendi kehidupannya berdenyut.


Tiba-tiba Albar merasakan bumi berguncang dahsyat, seperti gempa besar yang kemudian membuat tanah di mana mereka berpijak terbelah, memisahkan Balqis dan Albar yang berjalan dalam jarak.


"Albaaaar..."


Balqis menjerit memanggil nama Albar di mana tanah yang dipijak Albar kini pelahan longsor ke bawah.


Albar berlari menjauh, berusaha selamat, ia menatap Balqis.


"Albaaaaar... Albaaaaar."


Balqis memanggil nama Albar lagi.


"Balqis... Larilah... Pergilaaaah... pergi yang jaaaauh... Kamu harus selamaaat... Kamu harus selamaaat."


Kata Albar.


Balqis menangis menatap Albar yang terlihat ketakutan melihat tanah di depannya terus bergerak, membuat jarak Albar dan Balqis menjadi terpisah semakin jauh.


Balqis mengulurkan tangannya berusaha menggapai Albar, namun sungguh itu hanyalah sia-sia.


Keduanya saling menatap sendu, keputusasaan bergelayut pada wajah-wajah mereka.


Balqis menangis, begitu juga Albar.

__ADS_1


Dan...


Tanah itu berguncang lagi, Albar nyaris terseret longsoran tanah jika saja ia tak segera berpegangan pada pohon yang tumbuh di sana, tapi pohon itu juga bergerak, lalu...


Aaaaaaaa...


Albar terbangun dari tidurnya.


Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Albar bangkit dari posisinya berbaring.


Ia ingat sepulang dari pemakaman kedua orangtua Balqis, ia langsung masuk kamar, menangis lalu tertidur.


Ah Balqis...


Albar menangis lagi, ia tertunduk dengan perasaan dan pikiran yang kini benar-benar kacau.



**---------------**


Balqis menutup laptopnya, lalu memasukkannya ke tas laptop miliknya. Setelah itu menyiapkan beberapa buku untuk ia masukkan ke dalam ransel sekolahnya.


Pekan ini adalah terakhir sebelum masuk UTS, setelah itu Balqis ingin menghubungi kak Flo untuk bisa ke Jakarta, Balqis akan minta ketiga temannya juga ikut main ke Jakarta.


Ah nyatanya rumah ini begitu sepi tanpa Albar.


Balqis menghela nafas, lalu menutup ranselnya, baru kemudian berjalan ke arah tempat tidur.


Balqis berbaring di sana, menatap jam dinding yang kini bergerak mendekati angka sepuluh.


Sudah hampir tengah malam.


Balqis meraba kalung dengan liontin namanya yang kini melingkar di lehernya.


Balqis ingin mengirim pesan pada Albar, ingin menelfonnya meski hanya sebentar.


Tidak perlu vidio call, cukup telfon saja, asal dengar suaranya.


Ah tapi mungkin Albar sedang sibuk, Balqis tidak tahu apa saja kegiatan para selebritis. Setelah jumpa pers mungkin Albar ada banyak kegiatan lain.


Ya, Albar pasti langsung sibuk lagi setelah sekian lama vakum. Setelah jumpa pers, pasti ada banyak pekerjaan yang menghampirinya.


Balqis tersenyum membayangkan Albar yang kewalahan mendapat banyak job saat ini.


Terbayang kebiasaan Albar mengomel dan menggerutu lucu, membuat Balqis tertawa kecil seorang diri.


Cinta memang begitu, apalagi jika bersemayam di hati gadis-gadis yang masih polos, alih-alih membayangkan hal yang tak pantas, mereka akan lebih senang membayangkan tingkah polah pasangan yang lucu dan akan membuat mereka tertawa sendirian.


Dan itulah yang menyenangkan menjadi seorang remaja, menjalani setiap proses dengan wajar, termasuk saat jatuh cinta.


Balqis kinipun begitu, meski ia tak tahu Albar kini justeru tengah terpuruk dan hancur lebur.


**------------**

__ADS_1


Yooook gas keuuun



__ADS_2