
Balqis menatap Albar yang berjalan naik ke loteng dan masuk kamar tanpa menoleh lagi pada Balqis.
Tampak Balqis kemudian menghela nafas.
Balqis baru akan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri, saat Aki masuk dan bertanya mereka darimana.
"Albar beli mobil Ki, lalu ngajak belanja di mall, semua dibeliin hp, Bang Fajar, Dinda, Po dan Eti."
Tutur Balqis.
"Oo mobil tadi yang dikemudikan Fajar?"
Tanya Aki.
Balqis mengangguk cepat.
Aki menatap pintu kamar loteng Albar yang tertutup.
"Albar buang uang sebegitunya apa nanti ngga kena marah Maminya Ki?"
Tanya Balqis khawatir sekaligus tidak enak pada Mami Albar karena sebagian besar pengeluaran Albar pada akhirnya lebih banyak dinikmati Balqis.
"Nanti Aki akan bicara pada Mami Albar jika beliau menelfon, jangan khawatir."
Kata Aki akhirnya.
Aki sangat memahami apa yang dikhawatirkan Balqis.
"Sudah kamu mandi dulu saja Qis, nanti tolong kamu angetin saja itu opor ayam dari Emaknya Fajar, tadi habis Asar dia ke sini kasih opor ayam satu rantang dan ayam goreng satu rantang juga."
Kata Aki lagi.
Balqis melongo.
"Acara apa Ki?"
Tanya Balqis.
Seingatnya tadi Bang Fajar tidak membicarakan sedang mengadakan acara apapun di rumahnya.
"Bukan ada acara, tapi Fajar tidak bisa jualan, jadi ayamnya dimasak Emaknya semua lalu dibagi-bagi."
Ujar Aki.
Balqis menghela nafas.
"Ulah Albar lagi kan Ki?"
Tanya Balqis.
Aki mengangguk.
"Fajar dia bawa dari pagi, ayam jualannya dikasihkan ke Emak Fajar semua suruh dimasak."
Balqis geleng-geleng kepala.
Albar ini, kalau jadi angin, pasti dia angin tornado, karena gemar memporak porandakan tatanan kehidupan di sekitarnya.
**----------**
Albar sendiri yang sedang dibicarakan Balqis dan Aki tampak santai saja.
Sang artis kini tampak duduk sila di depan kipas angin yang berputar geleng kanan geleng kiri.
Albar baru akan mengirim pesan pada Flo lagi untuk menanyakan kenapa Flo menelfonnya.
Tapi, belum lagi Albar selesai mengetik satu kata, Flo lebih dulu memanggil.
Eh umur panjang dia. Batin Albar.
"Hai hallo saudariku."
Sapa Albar.
"Saudari saudari, emangnya tulisan di Undangan."
Sahut Flo.
Haiiish... Albar mendesis.
"Ada apa gerangan sih?"
Tanya Albar akhirnya, langsung tanpa basa basi seperti pembawa acara di hajatan.
"Eh kupret."
Kata Flo.
"Apaan nih, manggilnya udah ngga sedep didenger."
Albar curiga.
"Enggak, ini bakal enak banget didenger malah."
Ujar Flo.
"Kenapa?"
__ADS_1
Albar penasaran.
Ia pasang telinga baik-baik.
Terdengar Flo menarik nafas dalam-dalam, lalu...
"Bar, kayaknya dalam waktu dekat kamu harus balik ke Jakarta."
Kata Flo.
"Haaaah?"
Albar ternganga.
"Sumpeh lo, kenapa?"
Tanya Albar sumringah.
"Tante Melly, EO nya ngurus acara pembukaan hotel baru di Jakarta sekaligus ulangtahun anak si empunya hotel."
"Oh yah?"
Albar semangat.
"Tante Melly hubungin aku tadi sore, dia nanya kamu siap apa enggak muncul ngisi acara."
"Lah ya jelas asiaaaaaap..."
Sahut Albar tanpa ragu dan bimbang.
"Aku mau nelfon Mami kamu dulu tapi, aku takut salah."
"Ya telfon aja."
Kata Albar santai.
"Tapi kayaknya Mami kamu ngga bisa ngelarang sih."
Gumam Flo.
"Iyalah, pada akhirnya Mami juga pasti akan sadar betapa berbakatnya putra satu-satunya ini, dan betapa bersinarnya bintang yang menaungi Albar Harrys."
"Jiaaaaaah, bukan itu."
Kata Flo.
"Eh, trus apa coba?"
"Ini karena yang punya hotel cucu Tuan Ardi Subrata, kamu tahu kan Alpha Centauri Group."
"Ooh... Ya tahulah, salah satu orang terkaya di Indonesia."
"Nah iya, itu yang bakal punya acara."
Albar mantuk-mantuk.
"Ya udah gas ken."
Kata Albar.
"Serius nih kamu mantap bisa tampil?"
Tanya Flo memastikan lagi.
Ia tidak mau kalau dia ambil kesempatan ini tapi akhirnya Albar mengecewakan penampilannya.
"Ya Tuhan Flo, kamu masih meragukan aku? Aku ini kan udah kelasnya Siwon Suju, jangan ragu lah."
Kata Albar percaya diri seperti biasa.
Flo mendengus.
Dasar Albar, kalau tidak narsis mungkin rambutnya langsung rontok.
"Ya udah, aku mau hubungi Tante Melly, baru setelah itu aku hubungi Mami kamu."
Bertepatan dengan Flo mengakhiri panggilannya, terdengar Adzan maghrib berkumandang dari Mushola.
Tapi kali ini bukan suara Fajar yang melantunkan adzan, melainkan suara orang lain.
"Ke mana tuh juragan kokok betok?"
Gumam Albar yang kemudian berdiri dari duduknya.
**---------**
Fajar di depan rumahnya tampak masih bingung memaju mundurkan mobilnya.
Parkir persis di depan rumah, pintu rumah Fajar ketutupan. Parkir agak ke depan ada warung tetangga yang terbuat dari anyaman bambu itu takutnya kesenggol dikit roboh.
Parkir agak ke belakang, ada gang menuju deretan rumah tetangga lain.
Fajar mengurut kening, padahal dia juga sudah menyingkirkan tossa nya untuk parkir di lahan kosong salah satu tetangganya, tapi kini tetap saja ia masih bingung memarkirkan mobil Albar.
"Duuh Jar, Jar... kamu itu kok malah bawa mobil bagus begini, harga mobil sama rumah kita saja mahalan mobil ini kayaknya."
Emak nya Fajar menaboki badan mobil milik Albar.
__ADS_1
"Eh Mak, jangan ditabok, ntar luntur catnya."
Kata Fajar yang melongok keluar dari kaca mobil yang dibukanya.
"Kalau luntur kan kita punya itu lebihan cat lebaran kemarin."
Ujar Emak.
"Lah itu mah cat tembok Mak, masa mobil dicat pake cat tembok."
Fajar tepok jidat.
"Ya udah pokoknya ini kamu gimana mau markir mobilnya, jangan ngalangin pintu, kan nanti pelanggan jahitan Emak bingung kalau mau ambil jahitan, masa mau lompatin mobil."
Kata Emak.
"Duh, ternyata kelihatan kaya juga bikin menderita."
Fajar pusing tujuh keliling.
Dan sama seperti Fajar, Dinda, Po dan Eti di rumah mereka masing-masing juga sedang memandangi hp lama mereka.
Mereka pada bingung, hp lama mereka akan diapakan.
[Gaes]
Eti kirim pesan ke grup Chat.
"Yah, hadir]
Po langsung absen.
[Apa Et?]
Dinda menyusul.
[Sholaaat... Sholaaaat]
Balqis mengingatkan.
[Bentar Qis, ini penting]
Tulis Eti.
[Apaan]
Tanya Balqis.
[Hp lama kalian mau pada diapakan? Di lempar ke mana]
Tanya Eti.
[Ah kok sama sih, aku juga lagi keder]
Sahut Po.
[Hu um aku juga bingung]
Tulis Dinda.
[Jual ajalah, uangnya ditabung]
Ujar Balqis.
[Alamaaak, cerdas, pantas buat rebutan dua sultan]
Eti langsung setuju dengan ide Balqis.
[Eh, tapi jangan ditabungin semua kali ya]
Tulis Dinda.
[Iya dong, buat ngebaso juga]
Komen Po.
[Yeee malah baso]
Tulis Dinda lagi.
[Trus apaan]
Eti nimbrung.
[Kita potong sepuluh persen buat disumbangin ke yayasan keluarga Ustadzah Nur, kan yayasan juga biayain anak-anak kurang mampu biar bisa sekolah]
Tulis Dinda.
[Waaah Dinda dewasa banget, efek duduk sebelahan sama Bang Fajar]
Goda Po.
[Iya nih, korban ditatap pake kacamata hitam]
Tambah Eti.
Membuat Balqis langsung kirim stiker orang tertawa mangap.
__ADS_1
**----------**