Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
125. Untuk Sang Nyonya


__ADS_3

"Ada apa? Telfon kok diam saja?"


Tanya Albar lembut.


Balqis menatap Dinda yang malam ini masih bertahan di kamar Balqis untuk bicara banyak hal.


Sedangkan Eti dan Po sudah pamit tidur lebih dulu.


"Ngomong saja Bal, nggak apa."


Kata Albar lagi.


Ia merasa kalo Balqis ragu seperti ingin meminta sesuatu tapi tidak enak.


"Ngg... Aqis bingung harus mulai dari mana soalnya."


Ujar Balqis akhirnya.


Albar menghela nafas.


"Kalau begitu mulai dengan bilang i miss u boleh."


Kata Albar malah meledek Balqis.


Balqis jadi tertawa, agak malu pada Dinda yang ikut mendengarkan.


"Ada Dinda, malu ikh."


Kata Balqis takut Albar akan bicara aneh-aneh.


Albar jauh di sana tertawa.


"Nggak apa, Dinda tahu inih."


"Hmm... tahu apa."


"Tahu sahabatnya kangen Albar Harrys tapi nggak berani bilang."


"Iiikh ngarang, enggak."


Balqis gelagapan menyanggah.


"Nelfon diam saja, pasti karena ingin denger suara aku saja kan? Kenapa ngga vidio call saja biar bisa lihat aku lagi ngapain?"


Albar terus meledek Balqis.


"Uh Ge Er deh."


Kata Balqis jadinya, meski ia wajahnya langsung terlihat bersemu merah dan tersipu karenanya.


Albar di sana tertawa puas.


Dinda yang melihat Balqis seperti salah tingkah dan tidak nyaman Dinda di sana akhirnya pura-pura ke kamar mandi lebih dulu.


Begitu Dinda pergi barulah Balqis akhirnya sedikit relax.


"Ngg sayang."


Panggil Balqis membuat Albar tentu saja langsung berbunga-bunga.


Bunga tulip, bunga mawar, bunga melati, bunga nangka, bunga pete, bunga asem, bunga kantil, pokoknya bunga-bunga.

__ADS_1


"Kenapa? Mau nikah sekarang? Ayuk."


Albar membuat Balqis wajahnya langsung memerah.


"Albar iikh, serius juga."


Balqis jadi kalang kabut tak karuan.


Jantungnya yang sudah hampir lepas rasanya jadi semakin ingin melompat dari tempatnya.


"Ngg gini Albar, ini soal Bang Zul."


Balqis akhirnya mencoba serius.


Tentu saja setelah ia mencoba mengatur nafasnya berulang kali.


"Ada apa dengan Bang Zul? Itu Bang Zul kakaknya Po temen kamu kan?"


Tanya Albar.


"Iya."


Sahut Balqis.


"Oke, kenapa?"


Tanya Albar yang kali ini akhirnya jadi serius.


"Dia baru dipecat sama pamannya Bang Beni, alasannya nggak jelas, tapi yang pasti sekarang dia nganggur, padahal Bang Zul itu salah satu tumpuan keluarga, dan Po kuliah juga kan karena Bang Zul yang menyanggupi membiayai."


Kata Balqis.


Albar menghela nafas.


Umpat Albar.


"Kita belum tahu alasan pastinya Albar, jangan membuat kesimpulan apa-apa dulu."


Lirih Balqis.


"Sudah jelas dia ngelakuin itu karena kamu Bal, aku tahu dia pasti sudah terlanjur suka sama kamu, kemarin sikapnya langsung sinis sama aku, tapi aku nggak nyangka aja dia main kotor dan nyerang orang yang padahal nggak salah apapun."


ujar Albar jadi emosi.


"Sudahlah Albar, aku nggak mau kita ributin soal penyebab Bang Zul dipecat, yang Aqis ingin bicarakan dengan Alba adalah solusi, bagaimana agar Bang Zul punya penghasilan lagi."


Ujar Balqis.


Albar terdiam sejenak.


Terus terang posisinya yang sudah ada di Perth tentu sulit untuk tahu apa yang harus ia lakulan untuk Bang Zul.


Lalu...


"Apakah boleh misal Bang Zul kerja di rumah ini? Jadi apalah atau bagaimana."


Kata Balqis.


"Kamu maunya gimana? Kan kamu calon Nyonya rumah di sana, putuskan saja, nanti aku tinggal ACC."


kata Albar akhirnya.

__ADS_1


Balqis terdiam, ia bingung jika disuruh memutuskan, jika apa rumah itu butuh orang lagi untuk kerja jelas saja butuh, tapi Balqis bingung memutuskan soal gajiannya dan sebagainya.


'Ngg... Kalau misal jadi supir kedua setelah Bang Pardi, bagaimana?"


Tanya Balqis.


"Ya nggak apa Bal, atur aja."


Ujar Albar.


"Atau sambil bantu jaga rumah Pak Wagiman, kan kayaknya keponakan dia balik kampung nggak berangkat lagi."


Kata Albar.


"Ah iya deh itu aja."


Balqis setuju.


"Biar sekalian jagain kalian."


ujar Albar.


"Iya."


Balqis senang mendengar keputusan Albar.


"Tapi karena baru masuk mungkin gajiannya ngga sebesar pak Wagiman."


"Iya Bar, enggak apa, kan yang penting enggak nganggur."


kata Balqis.


"Nanti kamu yang akan urus gajian pekerja di rumah mulai bulan ini."


"Kok aku?"


"Iya dong, kan Nyonya rumah."


"Ikh, kan belum nikah."


"Ah ngga apa, aku udah anggap kamu isteri, pokoknya aku titip rumah dan semua urusan di rumah itu, mengerti kan sayang?"


Tanya Albar.


"Hehehe... iya... Iyaaa..."


Balqis tertawa kecil.


"Ya sudah, besok mulai ngampus kan? Rehat sayang, have a nice dream."


Kata Albar.


"Ya, Albar juga, istirahat. Mimpi indah."


Balas Balqis.


"Aku sekarang udah kayak mimpi indah terus karena ada kamu."


Kata Albar.


Balqis tergugu.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2