
Albar menyandarkan tubuhnya yang lelah di jok mobil, rasanya puas menyanyikan lagu hingga lebih dari lima judul lagu di penampilan perdananya yang sungguh-sungguh dilihat banyak orang.
"Gimana menurutmu Flo?"
Tanya Albar dengan mata terpejam.
Mobil melaju santai pulang ke rumah Albar sendiri.
Albar enggan pulang ke rumah Mami nya, ia ingin langsung tidur dan tak mau diajak bicara ngalor ngidul nantinya.
Merasa Flo tak juga menjawab pertanyaannya, Albar terpaksa membuka matanya dan melirik ke arah Flo.
Tampak Flo malah asik chat dengan seseorang di hpnya.
Penasaran, Albar segera menyambar hp Flo dan melihatnya.
Balqis.
"Haiish, balikin Bar."
Flo berusaha merebut kembali hp miliknya, tapi Albar mana mau langsung mengalah, tentu saja ia membaca chat Flo dan Balqis lebih dulu.
[Semuanya nonton, Eti, Po, Dinda, Teh Inggit, Navie, bahkan Bang Fajar dan Wa Icih]
Begitu tulis Balqis.
[Kapan mau main ke Jakarta Qis? Kalau mau nanti Kak Flo jemput]
Tanya Flo.
[Nanti Kak, nunggu UTS]
Balas Balqis.
[Ok. Gimana penampilan Albar menurut kamu Qis]
Tanya Flo lagi.
Sepertinya ini Flo tanyakan tepat ketika Albar bertanya padanya.
[Bagus. Bagus banget malah. Eti saja sampai ikut nyanyi yang waktu lagu Adera.]
[Lagu buat kamu]
[Ah Kak Flo]
Balqis mengirim stiker malu.
Itu chat terakhir.
Albar tersenyum. Lalu dengan semangat pembajakan hp, Albar mengetik pesan kepada Balqis.
Klik.
Send.
"Hey... Kau ini, enggak modal kuota sendiri."
Flo meninju lengan Albar yang tertawa sambil mengembalikan hp Flo pada sang pemilik.
"Mami kamu pasti bakal ngamuk-ngamuk kamu pulang ke rumah sendiri lagi."
Ujar Flo.
"Ah biarlah."
Sahut Albar malas.
"Kau tahu saat tadi di acara putri Tuan Takashi tampil, Mami bisik-bisik padaku untuk minta nomor hp nya."
Ujar Flo.
"Buat apaan?"
Albar memandangi Flo.
Flo mengedikan bahunya.
"Entahlah, mungkin mau jodohin sama kamu, hahaha..."
Flo tertawa.
"Sialan, dikira aku ngga bisa cari sendiri apa pake jodoh-jodohan."
"Mungkin Mami khawatir kamu ngga laku."
__ADS_1
Flo makin tertawa saat Albar menatapnya lalu menjitaknya dengan kesal.
"Jam segini order makanan susah ya, pulang bikinin mie rebus Flo."
Kata Albar.
"Hah, gila apa."
"Tiba-tiba aku pengin makan mie instan."
Kata Albar lagi sambil memejamkan matanya.
Besok ada acara jumpa pers, setelah itu mungkin siklus hidupnya akan kembali seperti dulu, naik turun panggung, sibuk pemotretan, masuk keluar radio dan stasiun televisi, main film dan lain sebagainya.
Albar menghela nafas.
Benarkah ini hidup yang ia inginkan? Benarkah? Ataukah hanya karena ia sebetulnya tak ingin hidup seperti Mami dan Papinya? Sibuk hanya urusan uang uang dan uang saja.
Lalu jika Albar menjadi artis juga seperti itu, maka apa bedanya?
"Aku akan berendam air hangat, aku pulang ke apartemenku saja Di."
Kata Flo pada sang supir setia.
Albar membuka matanya lagi, menoleh ke arah Flo.
"Kenapa ngga di rumahku saja?"
Tanya Albar.
"Malaslah, malam ini aku harus rehat, sudah berapa hari aku kurang tidur. Ini belum apa-apa sudah mau disuruh bikin mie instan."
Gerutu Flo.
Albar tergugu.
"Aaaah, aku kangen Balqis, kalau ada dia pasti dia mau bikinin."
Kata Albar.
"Lagian tadi gayanya makan sedikit doang, sekarang malah aneh-aneh mau makan mie instan. Sejak kapan kamu makan mie instan?"
"Sejak Balqis yang bikin, rasanya beda."
"Beli di warkop dekat depan jalan yang mau ke komplek saja Tuan, di situ enak."
Kata Pardi.
"Jam segini ada?"
Tanya Flo karena jam kini sudah setengah satu dini hari.
"Warkop kan dua puluh empat jam. Saya langganan di situ, kalau mau bisa mampir."
Ujar Pardi.
"Jalan yang mau ke komplek rumahku kan? Bukan rumah Mami?"
Tanya Albar.
"Iya Tuan, betul."
"Hmm... Iya deh, ayuklah."
Kata Albar.
"Serius kamu mau makan di warkop?"
Tanya Flo makin heran.
"Kenapa emang?"
Tanya Albar.
Flo geleng-geleng kepala.
"Enggak... enggak apa, aku makin nyadar kalo kamu banyak berubah sekarang, baguslah."
Kata Flo.
Albar menatap malam di luar sana.
Yah benar, Albar tahu dirinya banyak berubah sejak bertemu Balqis, dan ia menyukai perubahan itu.
**----------**
__ADS_1
Balqis duduk tertegun menatap hp nya.
Eti dan Po di atas kasur tampak masih asik tengkurap sambil menonton ulang di laptop acara pertunjukan Albar yang mereka tonton dan mereka save.
Dinda sendiri masih di bawah ngobrol dengan Teh Inggit dan Teh Nurul soal kuliah di jurusan ekonomi, Dinda memang ingin masuk jurusan ekonomi nantinya.
Yah, menjadi sarjana ekonomi, itulah cita-cita Dinda, kalau nanti ia tak bisa masuk ekonomi, maka ia akan ambil jurusan sejarah.
Tidak nyambung tapi dua-duanya sama-sama kesukaan Dinda.
[I love u sayang. Ini Albar Bal]
Tulisan itu kembali Balqis baca ulang.
Mungkin Balqis bisa saja menyangka itu adalah Flo yang mengirimkannya dengan pura-pura jadi Albar, tapi memanggil Balqis dengan Bal hanya Albar saja di dunia ini yang melakukannya.
Balqis tersipu.
Ah rasanya Balqis makin ingin segera menyelesaikan sekolahnya dan kemudian bisa benar-benar masuk UI agar punya alasan berada di dekat Albar.
Tentu saja, bukan hanya mengejar cinta, tapi sebagai anak muda Balqis tetap ingin memperjuangkan cita-cita juga.
"Eh Qis, lihat deh, ini kayaknya Ibunya Albar."
Kata Eti tiba-tiba.
Balqis menoleh ke arah Eti dan Po yang kemudian memutar laptopnya ke arah Balqis.
Tampak video acara Albar yang di pause tepat saat kamera ke arah meja tempat duduk Kak Flo dan seorang perempuan cantik yang penampilannya mirip Syahrini. Di mana Albar sebelumnya juga duduk di sana saat baru pembukaan acara.
"Kalau iya dia Ibunya Albar, berarti dia calon Ibu mertuamu Qis."
Kata Po.
Balqis terdiam menatap wajah dalam layar laptop di depannya.
Ah...
Sungguhkah? Apa dia baik seperti Albar juga? Batin Balqis.
"Kayaknya dia sombong ya."
Kata Eti sambil kembali memutar laptop ke arahnya lagi dan melanjutkan videonya.
"Sembarangan, jangan suka nilai orang hanya dari luar, apalagi enggak kenal."
Kata Po.
"Ya kan aku bilang kayaknya, kecuali aku bilang dia pasti sombong."
Eti membela diri.
"Huuu dasar Etut."
Seloroh Po.
"Huuu dasar bontot Teletubbies."
Balas Eti.
Dan seperti biasa keduanya yang sudah seperti Larva kuning dan Larva merah itupun ribut tidak jelas.
Balqis menyandarkan diri di dinding loteng. Mengingat wajah perempuan cantik yang tadi duduk bersama Kak Flo.
Haruskah Balqis tanyakan siapa dia pada Kak Flo? Ah pasti memalukan tanya-tanya seperti itu. Batin Balqis.
Balqis kemudian menyalakan hp nya lagi, lalu membuka chat nya dengan Flo lagi.
Ke Jakarta.
Balqis jadi ingat tadi di penampilan penutup Albar membawakan lagu itu.
Tunggu Aku Di Jakarta mu. Lagu lama dari Band Sheila On Seven.
🎶 Masih saja ku teringat
saat iringi kau pergi
jadikan sore itu satu janji🎶
Yah...
Aku juga akan ke Jakarta suatu hari Albar, saat aku sudah selesai sekolah, aku akan ke Jakarta mencari orangtua kandungku dan juga mengejar cita-citaku, termasuk menemuimu. Tunggu Aku. Tekad Balqis.
**--------------**
__ADS_1