
Adzan subuh berkumandang, Aki sudah bersiap ke mushola ketika Balqis bangun dan menuju sumur untuk mandi.
"Dikunci dari dalam saja Qis."
Kata Aki sambil berjalan menuju ke pintu samping rumah melewati dapur. Balqis mengikuti untuk nanti mengunci pintu.
Setelah Aki pergi dan kemudian mengunci pintu seperti yang disuruh Aki, Balqis kembali menuju sumur lalu ke kamar mandi.
Balqis memang selalu mandi sebelum sholat subuh, karena dengan begitu ia merasa lebih segar dan selepas sholat Balqis bisa mengaji tanpa merasa mengantuk.
Albar sendiri di kamar tampak terbangun dari tidurnya. Albar yang semula jarang mendengar suara Adzan, begitu tinggal di kampung dan rumah Aki yang cukup dekat dengan mushola jadi kaget.
Albar duduk di atas kasur lantai. Matanya sepet, ingin tidur lagi tapi rasanya jadi tak enak. Ingin bangun tapi hari pasti masih cukup gelap dan dia takut ada kuntilanak.
Albar menyambar hp nya, dilihatnya jam masih menunjukkan angka empat pagi lebih sedikit.
Albar merebahkan diri lagi, menatap langit-langit kayu kamarnya.
Kamar kecil sederhana di atas loteng rumah Aki.
Sampai kapan ia akan terpenjara di sana? Apa sebetulnya yang Mami nya rencanakan hingga harus mengasingkan dirinya di kampung kecil ini bersama Abah Mang Kus. Batin Albar heran.
Albar kemudian duduk lagi.
Ia akan menghubungi Flo saja. Ia ingin tahu kabar terkini di Jakarta.
Tentu saja, berita gosip soal Albar yang masih wara wiri di aku gosip dan juga di acara infotainment bisa dengan mudah diakses, tapi Albar tahu jika berita itu pasti hanya menyudutkannya saja.
Mereka lebih mendengarkan siapa yang mau tampil di depan kamera untuk mengambil keuntungan dan mendapat popularitas.
Tuuuuut... tuuuuuut...
Nada tersambung terdengar saat Albar menghubungi nomor Flo.
"Apa!"
Bentak Flo begitu ia mengangkat telfon Albar.
Haish... Albar mendesis.
"Suara apa letusan gunung Kelud sih!"
Albar misuh-misuh.
"Eh kupret! Lihat jam dong kalau mau nelfon, aku bahkan baru masuk kamar jam dua pagi."
Omel Flo.
"Aku ngga bisa tidur, ngga enak nih yang lain sholat aku ngorok."
Kata Albar.
"Jiaaah, kamu langsung dapat hidayah ternyata."
Flo bersyukur.
"Sialan, kamu pikir aku tersesat."
Maki Albar.
"Ngapain nelfon?"
Tanya Flo.
"Gimana kondisi di Jakarta? Sudah aman dan terkendali belum?"
Flo di seberang sana mendengus.
"Kamu lihat saja sendiri di berita, udah susahlah, namamu udah jelek banget."
Kata Flo.
"Trus kamu ngga ada niatan bersihin namaku?"
Albar kesal.
Jelas saja, karir yang ia mulai dengan susah payah dalam sekejap langsung hancur hanya karena dua kasus besar yang menjeratnya, naasnya dua kasus itu sama sekali tidak pernah dia lakukan.
Narkoba dia hanya kebawa-bawa karena teman sesama pemain di film yang ia bintangi pakai narkoba, lalu entah bagaimana ceritanya nama Albar jadi terseret.
Sekarang, tidak ada angin tidak ada hujan ada model pendatang baru yang mengaku dicampakkan Albar setelah dihamili.
__ADS_1
"Aku mau tuntut dia karena pencemaran nama baik."
Kata Flo.
"Dia siapa?"
Tanya Albar dodol.
"Model itulah, siapa lagi!"
"Ya udah, tuntut deh, biar aku bisa balik lagi."
Kata Albar semangat.
Flo kembali mendengus.
"Ngga bisa Bar, Mami kamu sudah wanti-wanti kamu ngga boleh jadi artis lagi. Kamu harus kembali kuliah dan nerusin bisnis keluarga."
"Hadeeeh, maleeeees."
Albar langsung rebahan lagi.
"Udahlah, aku juga udah capek di bisnis hiburan, kita udah mau dua puluh empat tahun bray, sebentar lagi ubanan, mending mulai serius hidup deh."
Kata Flo.
Albar menghela nafas.
"Kamu kira selama ini aku hidup main-main?"
"Hidup ngga nurutin orangtua kalau bukan main-main namanya apa coba?"
Flo balik tanya.
Albar diam saja.
**--------**
Balqis selepas sholat subuh kemudian menyiapkan sarapan dan menyeduh kopi hitam untuk Aki.
Sarapan pagi ini hanya singkong goreng dan pisang uli yang digoreng.
Albar keluar dari kamar dan turun dari loteng, handuk tampak menggantung di lehernya dan tangannya memegang wadah perlengkapan mandi.
"Bal, lagi ngapain?"
Tanya Albar saat melewati pintu dapur menuju kamar mandi.
"Lagi salto."
Sahut Balqis tanpa menoleh.
Albar mengepalkan tangannya sambil bersikap seolah akan menjitak Balqis.
"Ditanya bener orangtua juga."
Albar misuh-misuh sambil berlalu ke kamar mandi.
Tak lama berselang, Aki pulang ke rumah. Ia masuk lewat pintu samping yang tadi sempat Balqis kunci dan kini pintunya sudah Balqis buka lebar agar ada pergantian udara dan dapur tidak terasa pengap.
"Kopi nya Aki sudah siap Qis?"
Tanya Aki.
"Sudah Ki, di meja makan."
Jawab Balqis.
"Nak Albar sudah bangun?"
Tanya Aki lagi.
"Baru saja masuk kamar mandi."
Jawab Balqis pula.
Aki manggut-manggut.
"Selama di sini pakai saja nama Paijo yah."
Kata Aki sambil berlalu.
__ADS_1
Balqis mengerutkan kening.
Jauh amat Albar jadi Paijo.
Balqis nyengir sendiri membayangkan Albar berganti nama jadi Paijo.
Aki masuk ke dalam ruangan, menyalakan TV untuk menonton berita terkini seraya menyeruput kopi hitam kesukaannya.
Meskipun tinggal di kampung kecil di Tasikmalaya, Aki jelas tak mau ketinggalan berita, meskipun itu hanya berita reshuffle menteri, atau berita soal banjir di Jakarta, atau berita pembunuhan mutilasi maupun juga berita soal blusukan beberapa tokoh.
Pokoknya apapun yang disuguhkan berita, Aki akan menikmatinya agar tidak sampai kudet.
Balqis mematikan kompornya, lalu mengangkat panci presto yang untuk mengukus singkong, mengeluarkan singkong yang telah empuk dari dalam panci dan meletakkannya dalam wadah untuk direndam dengan air bumbu.
Sementara menunggu bumbu pada singkong meresap dan singkong tak terlalu panas, Balqis menggoreng pisang uli terlebih dahulu.
Dari kamar mandi Albar sudah tampak segar, ia bersiul sembari mengeringkan rambut dengan handuk.
Ia tampak santai hanya menggunakan celana pendek dan tanpa memakai kaos.
Aroma wangi pisang uli goreng tercium karena minyak yang dicampur mentega.
Albar tergoda melongok Balqis di dapur lagi saat melewatinya.
"Wiiih aromanya mengundang para cacing disko."
Seloroh Albar.
Balqis menoleh ke arah Albar yang ada di pintu dapur dalam keadaan telanjang dada.
"Albaaaaaar!"
Balqis melempar kulit pisang pada sang artis.
Eits... Eits...
Albar menghindar.
Aki yang mendengar teriakan Balqis tergopoh-gopoh menuju dapur.
"Ada apa lagi iniiii?"
Aki memandangi Albar dan juga Balqis yang siap melempar Albar dengan kulit pisang uli lagi.
"Tuh Ki, Albar ngga pakai bajuuuu..."
Kata Balqis kesal.
Aki menghela nafas.
Albar menutupi tubuh atletisnya dengan handuk.
"Tuan Albar, mohon jangan suka telanjang dada, kalau habis mandi langsung pakai kaos saja."
Albar garuk-garuk kepalanya.
Memangnya kenapa kalau telanjang dada sih, Balqis mah lebay. Batin Albar.
"Bisa kan Tuan?"
Tanya Aki pada Albar.
"Yaah Ki... Baiklah."
Sahut Albar akhirnya.
"Ah iya, saya mau nyuci baju, tapi tidak tahu caranya."
Albar nyengir.
"Nanti saya ajari, setelah sarapan, sekarang ganti baju dulu."
Kata Aki.
Albar mengangguk.
"Baik Ki."
Sahutnya.
**---------**
__ADS_1