
Albar tampak menikmati udara pagi dan menatap langit pagi Jakarta di lantai dua cafe Flo yang terbuka.
Cerah.
Meski matahari belum sepenuhnya bertengger, tapi sinarnya telah menerangi pagi ini dengan kilau keemasannya.
Berkilau macam gigi Emas kakek.
Ting.
(Asal jangan pake selipan cabe ya kan bo)
"Bar, sarapan nih."
Flo meletakkan dua piring untuk sarapan mereka, di belakang Flo terlihat Lisa mengikuti sambil membawakan dua gelas orange jus.
"Ajak main Luni, Lis."
Kata Flo pada pelayan andalannya yang ia paksa malam tadi menginap agar bisa membuatkan sarapan untuk dirinya dan Albar karena pelayan yang lain Flo beri tugas lain.
Albar berjalan ke arah Flo yang duduk di mana sarapan mereka siap.
Gadis yang biasanya berambut protol tapi sekarang mulai lumayan panjang itu terlihat sudah sibuk menggigit roti panggang dengan olesan selai coklat.
Albar menghela nafas seraya duduk di kursi tak jauh dari Flo duduk, menyambar gelas berisi orange jus miliknya, lalu meneguknya.
"Sudah telfon Balqis?"
Tanya Flo.
Albar mengangguk.
"Sudah kasih tahu kamu di sini?"
Tanya Flo.
Albar meletakkan gelas orange jus nya, lalu ganti mengambil garpu untuk mengambil potongan alpukat.
"Tidak diangkat, sepertinya sedang sibuk masak."
Kata Albar.
Albar tentu saja hafal sekali Balqis jika pagi tak bisa dihubungi pasti tak lain adalah sedang masak untuk sarapan.
Karena tentu saja jam di mana Albar menelfon sudah bukan lagi jam untuk sholat subuh.
"Kirim pesanlah."
Kata Flo lagi.
Albar menggelengkan kepalanya.
"Tidak usahlah, nanti sore saja aku ke rumah, aku pinjam mobilmu."
Ujar Albar.
Flo nyengir, tapi kemudian mengangguk.
"Ya pakai saja."
Kata Flo.
"Jam berapa panggung musik mulai?"
Tanya Albar.
__ADS_1
Flo kembali nyengir.
"Apa sih kamu cengar-cengir mulu."
Kata Albar jadi curiga.
"Tidak apa-apa, memangnya nyengir dosa?"
Flo menggigit roti panggangnya lagi lalu mengunyahnya dengan semangat.
"Iyalah, cewek kalo lagi kasmaran ya memang kayak kamu itu, cengar-cengir terus kayak kuda lupa sikat gigi."
"Huuu sialan."
Flo melempar bulatan tisu ke arah Albar yang santai menatap langit sambil bersandar pada kursi.
Angin pagi bertiup begitu tenang, yang entah kenapa membuat Albar merasa rindu suasana desa Aki yang ia sempat tinggal lama.
"Nanti jam sepuluh kamu mulai perform Bar."
Ujar Flo.
Albar menoleh ke arah Flo.
"Band pengiring pake nggak?"
Tanya Albar.
"Nggak ada lah, orang aku bilang Sabtu ini aku lupa hubungi mereka."
Kata Flo beralasan.
"Hadeeeh, sibuk pacaran sih kamu, sampe mulai lupa bisnis."
Sahut Flo pura-pura kesal.
"Besok Mami pulang, ajaklah Indra ketemu Mami juga, gimanapun Mami punya hak suara itu nantinya kalau Mami kamu harus menentukan kasih lampu ijo apa merah dengan hubunganmu sama Indra."
Kata Albar.
Flo menghela nafas, diletakkan nya sisa potongan roti panggang miliknya di atas piring, lalu mengambil gelas orange jus nya.
Flo meneguk orange jus miliknya hingga nyaris setengahnya.
"Nanti sajalah."
Kata Flo akhirnya.
"Nanti saja bagaimana? Orang kamu mau dijodohkan kalau belum punya pacar."
"Tapi kan kamu udah bilang kan ke Mami kalau aku udah ada calon sendiri."
"Ya tetap saja Mami ingin melihat calonmu secara langsung."
Haiiish... Flo mendesis.
"Ah nanti saja sih Bar, urusin persiapan pernikahan kamu dulu."
Kata Flo berusaha sekuat tenaga mengalihkan pembahasan.
"Pernikahanku mah semua dihandle Mami, besok dia ke Jakarta juga pasti semua langsung beres."
"Kamu ketergantungan Mami lagi, dulu saja pas jadi artis katanya pengin mandiri biar tidak bergantung terus pada Mami, sekarang beda lagi."
Albar tertawa mendengar protes Flo.
__ADS_1
"Ya dulu mungkin aku kurang realistis, sekarang aku mencoba berdamai dengan kenyataan sajalah Flo, aku anak pengusaha yang mau tidak mau memang harusnya ya terjun ke bisnis dan meneruskan perusahaan Mami dan Papi. Bagaimanapun perusahaan itu bukan hanya aset kita, tapi ada ratusan orang bekerja di sana dan itu jelas tanggungjawab pemilik perusahaan kan bagaimana agar lahan ini terus berkembang untuk dinikmati bersama."
Kata Albar panjang lebar yang sampai membuat Flo nyaris tak percaya jika yang sedang bicara dengannya itu sungguh Albar Harrys sepupunya.
"Kamu banyak berubah sekarang, syukurlah."
Puji Flo tulus.
Albar tersenyum lalu kembali menatap jauh langit nan biru cerah..
"Semua karena Balqis. Aku merasa hidupku berubah banyak sejak kenal dan dekat dengannya Flo."
Kata Albar.
Flo mantuk-mantuk.
"Ya benar, kau berubah banyak, pasti Mami mu juga menyadari hal itu kenapa ia tak keberatan jika kalian nikah muda."
Ujar Flo.
Albar mantuk-mantuk.
"Yang penting kita program hamil, aku tahu Balqis juga ingin menyelesaikan studynya."
Kata Albar.
Flo mengangguk.
"Ya harus itu, Balqis punya mimpi yang mulia, kau jangan datang sebagai penghalang, tapi harusnya malah menjadi pendukung yang paling terdepan."
Ujar Flo.
"Ah pastinya lah."
Albar mantuk-mantuk.
"Nyanyi lagu Viegoun Bar."
Flo request lagu.
Albar menoleh ke arah Flo yang tampak kembali mengambil potongan roti panggangnya.
"Bukti?"
Tanya Albar.
Flo mengangguk mengiyakan.
"Ya, baiklah, nanti aku akan coba nyanyikan itu."
Ujar Albar.
Flo tersenyum.
"Biasanya sabtu minggu banyak pengunjung cafe adalah pasangan muda, lagu itu pasti akan membuat pengunjung menikmati waktu mereka."
Kata Flo.
Albar mengangguk.
"Ya, andai Balqis di sini juga aku akan nyanyi itu untuk dia."
Flo tersenyum penuh arti, lalu sibuk menghabiskan sarapannya.
**--------------**
__ADS_1