Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
157. Keduluan


__ADS_3

"Qiiiiiis... Ayuuuk atuuuuh, ditungguiiiiin."


Terdengar suara cempreng Eti dari arah tangga, seiring dengan itu, suara ketukan di pintu kamar Balqis juga terdengar, dan suara Dinda ikut meminta Balqis agar cepat keluar kamar karena semua sudah siap.


Balqis yang sebetulnya sudah selesai mengenakan jilbab dan sudah terlihat ayu seperti biasa akhirnya menyahut,


"Iyaaa, ini udah siaaaap."


Balqis akhirnya meraih tas kecilnya, dan memasukkan hp nya ke dalam tas.


Bukan, Balqis bukan masih sibuk dandan karena Balqis toh memang bukan type gadis yang terlalu ribet saat akan bepergian.


Jika toh ia berdandan, Balqis hanya akan memakai riasan natural saja seperti gadis-gadis Korea yang tak terlalu mencolok dalam memakai make up.


Balqis keluar dari kamar dan mendapati Dinda berdiri menunggunya dengan setia di depan pintu.


"Sudah?"


Tanya Dinda.


Balqis menganggukkan kepalanya.


"Sori, lama, soalnya tadi masih nyoba hubungi Albar lagi."


Kata Balqis beralasan.


"Trus gimana? Udah nyambung?"


Tanya Dinda saat keduanya berjalan beriringan menuju anak tangga.


Eti sudah tak ada di sana, pasti ia sudah menuju mobil lebih dulu dengan Po.


"Belum dijawab Nda, bolak balik aku chat juga tidak dibaca, waktu terakhir online pun saat dia hubungi aku pagi tadi."


Ujar Balqis dengan ekspresi wajah cemas.


Dinda menghela nafas, dirangkulnya bahu Balqis agar sahabatnya itu bisa lebih tenang.


"Tidak apa-apa, yakin dan terus berpikir positif kalau Albar baik-baik saja."


Kata Dinda.


Balqis menatap Dinda seraya menarik paksa bibirnya untuk tersenyum.


Ya, satu keberuntungan memang jika Balqis memiliki sahabat yang sudah macam saudara seperti Dinda.


Dinda bukan hanya baik, tapi dia sangat dewasa, lembut dan selalu bisa mengerti apa yang Balqis rasakan.


"Hari ini kita penuhi undangan Kak Flo dulu, semoga nanti Kak Flo bisa kasih kabar soal Albar."


Kata Dinda pula.

__ADS_1


Balqis mengangguk.


"Ya Nda, makasih ya."


Balqis terharu.


Mereka lalu keluar dari rumah Albar yang telah mereka tempati beberapa pekan terakhir.


Dua mobil tampak telah siap.


"Lho, kita bawa dua mobil Nda?"


Tanya Balqis heran.


"Kita sama Bang Fajar, Eti dan Po akan ikut mobil Bang Zul, termasuk si pangeran sandi rumput."


Kata Dinda cekikikan.


Balqis jadi ikut tertawa mendengar Dinda yang sekarang sudah mulai berani mengatai orang.


Balqis dan Dinda berjalan ke arah mobil kedua di mana Bang Fajar siap di belakang kemudi.


Bang Fajar yang belum terlalu hafal jalan di Ibu kota tentu saja memilih aman dengan berada belakang mobil Bang Zul saja.


Dinda naik ke mobil di bagian depan, duduk di samping Bang Fajar.


Sementara itu, Balqis duduk di kursi mobil belakang Dinda dan Fajar.


Kata Dinda pada Bang fajar.


"Iya atuh, masa ngikutin tukang cilok, nanti malah mangkal di depan SD."


Ujar Bang Fajar.


Balqis jadi tertawa.


**-------------**


Flora cafe,


Suasana cafe Flo di setiap weekend memang bisa dibilang selalu ramai pengunjung, yang tentu saja pengunjung di weekend seperti sekarang adalah mayoritas anak muda


Panggung musik sudah disiapkan, hari ini Indra bahkan sengaja mengajak beberapa tekannya untuk ikut sekedar ngopi-ngopi dan makan cemilan cemilun.


Balqis dan teman-temannya tampak baru sampai saat jam menunjukkan jam sepuluh.


Flo yang baru turun dari lantai atas kini tampak bicara serius dengan Lisa.


Lisa yang kemudian paham apa yang diminta Flo pun bergegas bersiap melaksanakannya.


Flo memantau sekeliling ruangan cafe nya di lantai satu yang mulai penuh, hingga kemudian, saat Flo tengah melihat ke sana kemari, tiba-tiba Eti muncul di pintu masuk cafenya.

__ADS_1


Seperti yang Flo minta, Eti benar mengajak Balqis dan yang lain, Flo tentu saja tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka semua.


Balqis terlihat balas senyum pada Flo yang menghampiri mereka untuk langsung melakukan penyambutan lebih ramah dari biasanya.


Balqis cipika-cipiki dengan Flo sebentar.


Bersamaan dengan itu, di panggung Lisa menyampaikan bahwa hari ini acara panggung musik cafe Flora akan diisi penampilan yang tak seperti biasanya dari anak-anak band, hari ini yang mengisi adalah penyanyi solo.


Flo menggandeng Balqis sekaligus mengajak yang lain untuk duduk di set kursi cafe yang tak jauh dari posisi panggung.


"Yuk duduk... duduk, mau pesan apa, pilih saja, hari ini semua menu baru cafe Flo ada."


Ujar Flo.


Sementara yang lain langsung semangat memilih menu, Bang Fajar terlihat asik menyapukan pandangannya ke seluruh cafe milik saudara Albar.


Entah berapa kali bahkan Bang Fajar berdecak dan geleng kepala saking kagumnya dengan cafe yang berbeda sekali secara penataan dan juga ukuran tempatnya.


"Itu bukannya yang namanya Bang Indra kan Kak?"


Tanya Balqis pada Flo begitu tanpa sadar menoleh ke arah sisi kiri di mana tak jauh dari ia dan semua temannya duduk tampak wajah pemuda yang tak asing di sana.


Pemuda yang terlihat terus mencuri pandang ke arah Flo yang duduk di samping Balqis.


Flo tersenyum malu-malu sambil mengangguk.


"Iya Qis, itu datang bareng teman-temannya."


Ujar Flo.


Balqis tersenyum.


"Dia terus lihatin Kak Flo."


Lirih Balqis pada Flo setengah berbisik, membuat Flo tambah malu.


Balqis masih asik bicara dengan Flo, sedangkan Dinda, Eti, Po dan lainnya sibuk memilih menu, suara denting gitar tiba-tiba terdengar.


Seiring dengan munculnya seorang pemuda super ganteng, yang sebelas dua belas dengan gantengnya Al Ghazali nya Ahmad Dhani. Hihihi...


"Siang semua, senang bisa kembali berada di panggung setelah sekian lama, untuk mengobati rasa rindu saya bermusik, khusus untuk hari ini saya akan tampil untuk menyanyikan beberapa lagu untuk kalian semua dan..."


Albar tiba-tiba tercekat manakala sedang asik memberi sambutan matanya tanpa sengaja melihat ke arah meja tak jauh dari panggung tempatnya berdiri.


Seorang gadis duduk di sana, menatapnya nanar...


Balqis?


Albar terkejut luar biasa.


Niat hati ingin nanti memberi kejutan, justeru sekarang ia yang nyaris pingsan.

__ADS_1


**---------------**


__ADS_2