Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
141. Salting Dan Gempa


__ADS_3

Indra tampak muncul di dekat anak tangga yang menuju lantai atas, ia tampak tersenyum manis,


"Hai Nona Flo,"


Begitu sapanya dengan senyuman manis ala duren montongnya.



Membuat Flo langsung hilang konsentrasi, rasanya semua buyar entah ke mana.


Aduuuh ...


Senyuman Indra itu entah kenapa selalu seperti madu yang dicampur sirup marjan lalu diaduk pake gula pasir satu kilo.


"Non... Nona... Nona..."


Lisa menepuk lengan Flo, mengagetkan Flo yang terhipnotis senyuman sang duren.


"Ah apa Lis... Apa?"


Tanya Flo gelagapan.


"Itu kertas bonnya keinjek dua."


Lisa menunjuk kertas bon di bawah kaki Flo.


Kertas bon yang dijatuhkan Luni.


Flo langsung nyengir sambil mengangkat kakinya dari atas kertas bon nya dan meletakkan kedua tangannya di atas dada.



"Ah iya, itu keinjek nggak sengaja, ya kan."


Flo jadi tak jelas tingkahnya, membuat Lisa jadi geleng-geleng kepala.


Duh Nona bos nya sudah mulai oleng. Batin Lisa.


Lisa sibuk memungut kertas bon di lantai, sedangkan Flo berdiri seperti robot karena Indra kini menghampirinya.


"Luni, ke mana Luni Nona Flo?"


Tanya Indra masih dengan senyumnya yang menyihir.


"Ngg... Tadi lagi beli es krim, ya kan Lis?"


Flo menoleh pada Lisa yang sudah menata kembali kertas bon di atas meja dan memilih tak menyahut lalu ngeloyor pergi.


Ada-ada saja, mana ada kitten beli es krim.


Lisa jelas tak mau terlibat dalam kekoplakan yang terpampang nyata.


Tampak Indra mesem tipis.


"Aku baru tahu jika kitten milik orang sukses bisa beli es krim sendiri."


Kata Indra.


Flo yang mendengar langsung terbelalak.


Apa tadi gue bilaaaang? Apaaaa?


Ya Ampuuun, sumpaaah gue ngomong kitten beli es krim.


Flo yang tiba-tiba merasa ia menjadi orang paling bodoh segalaksi bima sakti akhirnya pura-pura tertawa.


"Hahaha... Praaank."


Kata Flo menutupi kebodohannya dengan kebodohan modern.


Indra jadi tak bisa menahan tawa.


"Anda itu cantik dan lucu."


Kata Indra malah menggombal, membuat kafe Flo seolah gempa bumi 8,9 skala richter sendirian.


Indra setelah membuat Flo gempa, tampak mencari sosok Luni yang ia ingin ajak kenalan.


Indra sangat tertarik dengan Luni saat melihat video di story milik Flo.


"Ah... Di sini ternyata anak manisnya."


Indra yang memang sudah sangat terpancar aura cat lovernya langsung mendekati si kitten begitu melihat Luni.



Luni menatap Indra, seolah bertanya-tanya, siapa sih sok kenal. Hihihi...

__ADS_1


Indra mengangkat Luni dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.


Luni mengulurkan satu kaki depannya ke arah wajah Indra yang kemudian menoleh pada Flo yang kakinya seperti di lem Alteko di atas lantai.


"Nona Flo, saya mandikan saja ya Luni nya, sekalian Nona saya ajari."


Ujar Indra.


Sikap Indra pada Flo sungguh seperti mereka sudah sangat dekat, tentu saja Flo menyukainya, meskipun membuat jantungnya terasa bertukar posisi dengan ginjal.


"Di mana saya bisa memandikannya?"


Tanya Indra.


"Ngg... Di kamar kita."


Kata Flo gugup.


Indra membulatkan matanya.


Lalu Flo sadar lagi.


Apalagi sekarang gue bilang apaaaaa...


Oh Noooo... Oh Noooooooo...


(Sumpah ni dua sepupu ngga Albar ngga Flo ngga jelas banget)


"Maksudnya kamar kami, aku dan Luni, ya itu maksudnya."


Flo langsung meralat dengan cepat.


"Ooh, saya pikir beneran, sampai saya berharap."


Kata Indra ngeloyor membuat Flo gempa lagi.


Flo kemudian menunjukkan kamar peristirahatannya di lantai itu kepada Indra, mengajaknya masuk membawa Luni untuk di mandikan.


"Saya sengaja mampir, dan teman-teman baru kantor saya kebetulan juga ingin ke sini, jadi kami barengan, tapi mereka tahu saya punya kepentingan sendiri."


Tutur Indra bercerita seraya meminta tolong Flo menyiapkan handuk untuk Luni.


"Tolong pegang sebentar Nona."


Kata Indra memberikan Luni pada Flo.


Dari paper bag itu, Indra mengeluarkan alat-alat mandi untuk Kitten.


"Saya sengaja beli untuk nanti Nona bisa pakai."


Kata Indra.


"Ngg... Bisa tidak, jangan panggil saya Nona, panggil Flo saja."


Kata Flo canggung.


Ya, Flo, atau sayang, atau beb, atau hany bunny cibi cibi cibi...


"Ah ya, baik."


Indra mengangguk setuju, tanpa bertanya, tanpa menolak, tanpa perdebatan.


Indra kemudian membawa Kitten masuk kamar mandi, dan Flo berdiri saja di pintu melihat cara Indra memandikan Luni.


Ia sudah macam Guru yang menjelaskan dengan baik tata cara memandikan Kitten yang baik dan benar.


Flo yang diajari malah halu Indra sedang memandikan anak mereka.


Otaknya kini seperti bersayap, terbang ke sana ke mari, jungkir balik, salto, guling-guling karena membayangkan rumah tangga bersama Indra.


Ah ya Tuhan...


Apa sebetulnya yang sudah merasukiku...


Ingin ketok kepalanya pakai ulekan sambal. Ini sudah di luar konsep akal sehatnya, sungguh...


Tapi...


Wait...


Flo ingat Albar yang menelfon ingin berkenalan dengan calon Flo, ingin memastikan jika Flo tidak salah pilih lagi.


Dan...


"Flo, handuk plis."


Kata Indra sambil berdiri dan mengangkat Luni yang basah.

__ADS_1


Acara mandinya telah berakhir, dan Flo tidak menyimak pelajarannya dengan benar.


Flo terkesiap, manakala sang Guru menghampiri lalu mengambil handuk dari tangan Flo yang makin terbengong-bengong.


"Kenapa dari tadi seperti gugup? Tidak nyaman ada aku?"


Tanya Indra.


Ditanya begitu jelas saja Flo ingin melompat dan menggelengkan kepalanya seperti penyanyi Rock luar negeri.


Tidaaak...


Aku nyaaamaaaaan...


Teriak Flo dalam hati.


Hanya aku belum terbiasa.


Batin Flo pula.


"Ah bukan, tidak begitu, aku hanya tidak biasa."


Kata Flo melihat Indra yang begitu terampil mengeringkan bulu Luni lalu setelah itu meminjam hairdryer pada Flo untuk menghangatkan sang Kitten.


"Apa kau selalu setelaten ini merawat mereka?"


Tanya Flo penasaran.


Indra mengangguk.


"Ya, kita tak bisa setengah-setengah saat memutuskan memberikan cinta bukan?"


Oh Tuhaaaan...


Flo menatap Indra yang sekilas tersenyum padanya semanis Cadbury.


"Mereka seperti terapi untukku mengatasi banyak perasaan tak menyenangkan. Sedih, sakit, kecewa, marah."


Kata Indra.


Flo di tempatnya terdiam.


"Seperti kita tahu, jika tak ada hal di dunia ini yang diciptakan sia-sia oleh Tuhan, begitu juga dengan kucing. Menurut Flo, kenapa Tuhan jadikan mereka hidup di sekitar manusia? Apa tujuannya jika bukan untuk mengajari manusia berkasih sayang?"


Indra tersenyum.


Flo terkesiap.


Ia tak pernah berpikir ke arah sana sama sekali.


Tak.


Tak pernah.


"Banyak yang belum menyadari. Tak usahlah mita bicara agama, terlalu tinggi. Kita bicara fungsi kita sebagai manusia saja, yang katanya diciptakan paling sempurna. Harusnya kita bisa hidup lebih bermanfaat, bukankah begitu Flo?"


Indra berdiri dan kini tampak Luni sudah bersih dan semakin ceria.


Indra memberikan Luni pada Flo.


"Aku dan teman-teman komunitas sedang berencana untuk mencari rumah dipinggiran Jakarta untuk menampung mereka, mungkin yang jauh dari pemukiman dan ada halaman belakang yang luas, kami sedang berusaha mewujudkannya."


Kata Indra lagi.


Flo menatap Indra.


Lalu...


"Apa aku boleh ikut?"


Tanya itu tiba-tiba saja meluncur.


Indra mengangkat kedua alisnya, dan sedetik berikutnya terlihat tersenyum lebar.


"Tentu saja, dengan senang hati, aku bahkan selalu ingin pasanganku juga sama sepertiku, menjadi cat lover."


Kata Indra.


Hah...


Apa tadi?


Apa itu untukku?


Flo gempa untuk kesekian kali.


**----------------**

__ADS_1


__ADS_2